Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #20

20. Hukuman Yang Menimbulkan Kebencian

Waktu berjalan begitu cepat. Setelah menginjakkan kaki di kelas sebelas, tanpa terasa ujian tengah semester pun berlangsung.

Para siswa serius mengerjakan soal di kursinya masing-masing. Tak ada senyum di sana. Hanya terdapat raut wajah serius dan kening berkerut di tengah mereka mengerjakan soal.

Para siswa baru bisa bernafas lega saat ujian tengah semester berakhir. Wajah-wajah itu tampak sumringah tanpa beban.

Hasil ujian semester pun keluar. Hasilnya masih tetap sama. Urutannya pun tidak berubah, Rangga, Putri, lalu kemudian Maudi.

Namun hasil tersebut menjadi awal bencana bagi Maudi.

Maudi berjalan masuk ke rumahnya dengan langkah ragu penuh ketakutan. Kedua tangannya ia takutkan ke depan. Gemetar diiringi dengan jantung yang berdetak di atas normal.

Tubuhnya terasa sangat lemas. Rasanya sulit untuk digerakkan.

Ketakutannya benar-benar terjadi. Ayahnya langsung melempar buku rapotnya keras ke sembarang tempat. Dengan rahang mengeras dan sorot mata tajam yang menjadi andalannya.

Di depan ayahnya rasa gemetarnya semakin menjadi. Maudi tak mampu mengangkat kepalanya sedikit pun. Dia menunduk dalam-dalam.

Ayahnya menyeringai menatap Maudi dengan wajah penuh amarah.

"Sudah Ayah bilang jangan sampai kalah dari gadis itu," ucap ayahnya dingin penuh penekanan di setiap katanya.

"Kenapa kau tidak bisa. Kenapa, huh!!!" teriak ayahnya menggelegar. Sangat menakutkan

"Sungguh memalukan. Itu sangat memalukan Maudi," lanjut ayahnya lagi penuh tekanan tepat di samping telinganya. Membuat ketakutan Maudi naik ke sekujur tubuhnya.

Mamanya yang berada tidak jauh di depannya tidak bisa berbuat apa-apa.

Ayahnya kembali tertawa miring. Kemarahannya tampak jelas di wajahnya.

"Sepertinya hukuman waktu itu belum juga cukup buatmu untuk merenungkan dan belajar lebih keras. Kurung dia di kamar selama libur semester." Lalu perintahnya pada istrinya.

Maudi yang menunduk dalam tak mampu menahan bulir dari matanya.

"Tt...tapi sayang, tidakkah itu terlalu keras padanya?" Ujar mamanya mencoba membujuk ayahnya.

"Jangan membantah. Itu sudah keputusanku. Tidak bisa diganggu gugat lagi," jawab ayahnya tegas dengan pandangannya yang tajam terarah pada Maudi.

Maudi menggigit bibir bagian bawahnya kuat-kuat. Menahan perih dan remuk hatinya.

Sosok yang seharusnya mendekapnya dengan penuh kelembutan, melindunginya dari rasa sakit dan mendengarkan apa mimpinya lalu mendukungnya, justru menjadikannya robot untuk meraih ambisinya.

Lihat selengkapnya