Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #21

21. Ketika Ibu Pergi

Putri ikut berlari beriringan dengan beberapa para medis yang mendorong brangkar yang ditempati Maudi menuju ruang UGD.

Sesampainya di ruang UGD salah satu petugas menghentikan langkah Putri yang kalut dan tanpa sadar ikut masuk.

Di kursi tunggu yang ada di sana, Putri tidak henti-hentinya merapal doa. Berharap Maudi baik-baik saja.

Setelah menunggu beberapa lama, dokter pun akhirnya keluar. Beriringan dengan itu mama Maudi pun tiba di sana dan bergegas menghampiri dokter dengan wajah amat cemas. Mendahului langkah Putri yang juga hendak menghampiri dokter.

Langkah Putri pun terhenti di belakang mamanya Maudi.

"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semunya baik-baik saja. Luka di kepalnya tidak terlalu parah," ujar dokter tersenyum sebelum kemudian pergi.

Kabar yang memberikan kelegaan di hati mamanya. Begitu pula bagi Putri. Dia dan mamanya Maudi sama-sama menghela nafas lega.

Kelegaan yang kemudian tidak bertahan lama bagi Putri. Seminggu kemudian setelah Maudi pulih, dia justru menjadikan kesempatan itu untuk mengenyahkan Putri dari sekolah elit tersebut.

Bermodalkan CCTV yang berada tidak jauh dari tempat kejadian, Maudi melaporkan Putri ke pihak sekolah. Bukti itu sempurna merekam detik-detik saat Putri mendorong Maudi ke jalan dan kemudian terhantam sepeda motor.

Bukti itu sempurna seolah Putri melakukan kekerasan pada Maudi yang mengakibatkan kecelakaan terjadi.

Anak-anak di sekolah berkerumun memenuhi papan mading. Melihat pengumuman besar yang tertera di sana.

Sekolah akan mengadakan rapat komite disiplin untuk Putri yang terbukti melakukan kekerasan terhadap Maudi.

Rangga yang semula terdiam mengerutkan kening melihat kerumunan yang terjadi. Dia kemudian mulai beranjak dari tempatnya setelah mendengar seorang siswa membicarakan Putri saat mereka pergi setelah melihat apa yang tertera di mading.

Rangga menyibak kerumunan untuk sampai di depan papan mading dan melihat pengumuman itu yang spontan membuat kedua telapak tangannya mengepal.

Rangga kemudian segera pergi dari sana. Berlari mencari keberadaan Putri. Langkahnya terhenti dengan nafas yang masih memburu saat ia melihat Putri yang tengah duduk di kursi taman. Beberapa saat dia memperhatikan Putri dari kejauhan sebelum akhirnya mendekat menghampirinya.

Rangga berada tepat di depan Putri yang tengah duduk seraya memejamkan matanya. Dia menghela nafas dalam seraya menatap Putri di depannya dengan ekspresi wajah sendu.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Cetus Rangga membuka suara. Tidak tahu apakah kalimat yang keluar itu tepat atau tidak. Sebenarnya dia tidak tahu harus berkata apa.

Dengan mata yang masih terpejam Putri menarik kedua sudut bibirnya yang sebenarnya terasa kaku.

"Angin berembus menyejukkan. Aku sedang menenangkan diri. Mencerna apa yang sebenarnya tengah terjadi."

Putri lalu membuka matanya. Tersenyum ke arah Rangga. Senyuman yang tentu tak sampai di matanya. Rangga menyadari itu.

"Jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya akan berakhir dengan baik," ucap Rangga berusaha menghibur dan menenangkan Putri.

"Tapi bukti itu seolah jelas menunjukan bahwa aku bersalah." Wajah Putri tampak muram.

"Ais.... Ini benar-benar menyebalkan." Rangga mengacak rambutnya frustasi.

"Wanita itu benar-benar gila. Aku tidak habis pikir padanya," umpat Rangga di tengah rasa frustasinya.

"Salahkah orang sepertiku berada di tempat ini? Aku hanya ingin mengejar impianku. Dan ku pikir tempat ini memberikan lebih besar kesempatan. Karena itulah aku menerima tawaran bersekolah di sini," ujar Putri terdengar getir diiringi beberapa bulir dari matanya yang jatuh membasahi pipinya.

Rangga menghela nafas dalam.

"Ayolah tentu tidak ada yang salah. Kau berhak dan pantas berada di sini. Kau bahkan sangat pantas melebihi siapa pun. Jadi berhentilah mengeluh dan ayo kita cari jalan keluarnya."

Rangga menghentikan sejenak kalimatnya. Berjongkok menatap Putri.

"Sekarang aku seperti bukan melihat dirimu. Putri yang ku kenal adalah Putri yang optimis dan kuat," imbuh Rangga mengingatkan.

"Ayo kita mulai cari tahu. Dimulai dari CCTV itu. Kita lihat kembali apakah di sana hanya merekam ketika detik-detik Maudi terjatuh atau juga merekam adegan sebelumnya."

"Aku sudah memeriksanya ulang, dan yang terekam memang hanyalah itu."

Rangga menghela nafas. Berpikir sejenak tidak mau menyerah.

"Kalau begitu kita cari CCTV lain yang berada tidak jauh dari tempat kejadian."

Lihat selengkapnya