Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #22

22. Rasa Bersalah

Sudah hampir setengah jam Putri bergeming seraya menatap nisan yang menancap di pusara ibunya dengan tatapan sangat redup. Rangga dan Mariyah yang menemaninya hanya bisa menatap iba ke arah Putri.

Melihat Putri dalam keadaan seperti itu membuat hati Rangga terasa amat sakit. Hal yang sama juga dirasakan oleh Mariyah. Air matanya bahkan terus luruh meski dia berusaha menahannya.

"Kita harus pulang. Hari sudah mulai gelap," ucap Mariyah lembut seraya menyentuh pundak Putri.

"Pulnglah. Aku masih ingin tetap di sini," jawab Putri lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari nisan ibunya.

"Ibumu pasti tidak ingin kau seperti ini. Dia ingin kau tetap kuat dan tegar. Menjadi sosok Putri yang dia kenal. Tegar dan kuat."

Mendengar kalimat Mariyah, Putri mulai terisak.

Mariyah segera mendekap Putri. Berusaha menenangkannya. Pemandangan yang membuat sesak dada Rangga.

Setelah dibujuk akhirnya Putri mau pulang. Rangga ikut mengantar sampai di depan rumah. Lalu pulang meski dengan berat hati. Setidaknya dia merasa sedikit lega karena kini ada sahabat di sampingnya. Rangga baru tahu Putri ternyata punya sahabat sedekat itu.

Kekhawatirannya tampak sangat jelas di wajah Mariyah. Bahkan rasa sayangnya pada Putri tampak begitu tulus.

Beberapa saat berbincang dengannya, Rangga percaya Mariyah bisa diandalkan.

Sedangkan bagi Mariyah, nama Rangga bukanlah sosok yang asing. Putri selalu menceritakannya padanya melalui sambungan telepon. Bahkan melalui sambungan itu Mariyah selalu bilang pada Putri bahwa Rangga menyukainya jika mendengar dari cerita-cerita yang Putri lontarkan. Meski pun pada akhirnya Putri selalu menepisnya dan Mariyah selalu mengalah.

Namun setelah melihat Rangga secara langsung, Mariyah sudah bisa melihatnya sangat jelas. Dugaannya selama ini pasti benar. Rangga menyukai Putri. Itu tampak jelas di matanya.

"Ternyata Rangga lebih tampan dari dugaanku. Selain itu dia juga sama jeniusnya seperti dirimu," Mariyah mencoba mengalihkan kesedihan Putri dengan membicarakan Rangga.

Namun Putri masih tetap bergeming dengan kemuraman di wajahnya.

"Aku tahu ini pasti berat bagimu. Sebanyak apa pun aku bicara tentu tidak akan meringankan luka yang sedang kau rasakan sekarang. Tapi satu hal yang pasti dan harus kau ingat, ibumu pasti pergi dengan tersenyum dan merasa bahagia. Ingatlah meski sekarang ibumu pergi tapi dia menang. Dia bisa menyelamatkanmu. Menyelamatkan dirinya sendiri dari luka yang akan menghantuinya seumur hidup."

Mendengar kalimat itu bulir demi bulir dari mata Putri yang bergeming di sisi tempat tidur terus berjatuhan. Teramat sakit. Putri merasa marah pada dirinya sendiri. Dia membuat ibunya pergi.

Wajahnya tampak sendu dengan tatapan kosongnya.

"Aku tahu sekarang kau pasti tengah menyalahkan dirimu sendiri. Itu wajar bisa ku pahami. Tapi tentu ibumu tidak ingin kau terus melakukan itu. Ibumu pasti merasa bahagia lebih dari siapa pun, karena bisa menjagamu, bisa menyelamatkanmu," lanjut Mariyah seraya menutup gorden jendela kamar Putri.

Kalimat yang terasa semakin mengiris batin Putri. Meski pun itu benar tapi kenyataan dirinyalah yang menjadi sebab perginya ibunya membuat rasa sakit itu Tak tertahankan.

Tangis Putri kemudian pecah. Dan Mariyah segera mendekapnya erat. Dalam dekapannya Mariyah juga ikut menitikan air matanya.

"Menagislah! Teruslah menangis! Keluarkan semuanya. Namun setelah itu kau harus bangkit kembali. Pasti itulah yang ibumu inginkan," ujar Mariyah di tengah dekapannya.

Tangis Putri benar-benar pecah dipelukan Mariyah. Lama sekali.

Malam yang pekat yang terisi banyak oleh tangisan. Putri terjaga semalaman. Begitu pula dengan Mariyah yang ikut terjaga demi menjaga dan menenangkan Putri.

Hari-hari berjalan berat dan terasa lambat.

Seminggu terakhir Putri terus mengurung dirinya di dalam kamar. Tiduran, atau hanya termenung dengan wajah sendu dan tatapan kosongnya. Makanan yang dibawa Mariyah ke kamarnya tidak pernah disentuhnya sedikit pun. Begitulah berulang. Seminggu terakhir.

Dalam seminggu itu Rangga tidak pernah absen datang ke rumah Putri meski saat datang dia tidak bisa bertemunya karena Putri masih terus mengurung dirinya di dalam kamar.

Namun pada akhirnya waktu tetap bagaikan obat yang secara berangsur dan perlahan mampu menunjukkan pengaruhnya.

Mariyah sedikit bisa tersenyum saat melihat Putri sudah mau keluar dari kamarnya. Meski dia masih banyak termenung di ruang tamu, tapi setidaknya dia sudah mau keluar dan walau hanya sedikit dia sudah mau untuk makan.

Rangga pun masih terus datang berkunjung dan sekarang selalu membawa berbagai macam makanan enak.

Meski makanan itu lebih banyak habis oleh Mariyah karena Putri hanya memakannya segigit atau dua gigit, namun kedatangan Rangga tetap membantu Mariyah untuk menghibur Putri.

Rangga pun senang karena Putri sudah mau keluar kamar dan makan meski hanya sedikit-sedikit.

Lihat selengkapnya