Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #23

23. Kebenaran Yang Terbuka

Setelah mendapat bukti video itu dari Nina, Rangga segera menyerahkannya pada pihak sekolah.

Dan setelah mengadakan rapat komite disiplin lagi, sekolah akhirnya memutuskan mencabut hukuman yang dijatuhkan pada Putri lalu segera menghubungi Putri secara resmi melalui telepon.

Mendengar putusan itu Rangga sangat senang. Dia segera pergi ke rumah Putri.

Namun sesampainya di sana, hanya Mariyah yng menyambut kedatangannya. Putri tidak mau keluar dari kamarnya, dan Rangga mengerti. Dia tidak ingin memaksa Putri untuk keluar kamar.

Rangga tahu itu pasti sangat berat baginya. Orang yng menjadi semangat hidupnya, orang yang menjadi motivasinya untuk meraih segala impiannya sudah tidak ada lagi di sampingnya hingga pasti kabar itu membuat kesedihannya kembali terasa menyesakkan.

Rangga memilih pergi untuk memberi ruang untuk Putri. Toh ada Mariyah di sana yang akan menjaganya dan menghilangkan rasa khawatirnya.

"Apa gunanya itu lagi. Orang yang ingin kuberi kebahagiaan lewat mimpi-mimpi itu sudah tidak ada lagi di sisiku," ujar Putri dengan arah pandangan entah kemana diiringi oleh beberapa bulir dari matanya yang kemudian ikut jatuh menitik.

Kalimat yang sontak membuat Mariyah menahan keperihan yang seketika merambat di dadanya.

Mariyah terdiam beberapa saat.

"Putri kau tidak boleh berkata seperti itu. Saat orang yang kita kasihi pergi dari sisi, bukan berarti semuanya berakhir. Ibumu pasti ingin melihat mimpimu bersinar dari surga sana. Dia pasti tidak ingin kau menyerah setelah kepergiannya."

Mariyah dengan penuh kesabaran berusaha untuk terus menguatkannya. Menyadarkan dan meyakinnya bahwa kehidupannya tetap berharga meski ibunya sudah pergi.

Mariyah lalu mengingatkan Putri akan salah satu mimpinya. Menjadi seorang hafizah untuk memberi ibunya mahkota dan tiket ke surga.

"Apakah kau akan berhenti dan melupakan impian itu?"

Mendengar kalimat itu membuat Putri yang tengah melamun mengabaikan segala dalih Mariyah seketika tersentak dan membuatnya menangis tersedu-sedu.

Mariyah pun langsung mendekapnya erat.

"Apa yang kau lakukan bisa juga berpotensi untuk mengalirkan sedekah bagi ibumu yang ada di atas sana," lanjut Mariyah.

Kalimat demi kalimat Mariyah sangat menohok Putri.

Tangis Putri semakin pecah. Dia menangis amat keras. Seperti bayi yang kelaparan namun terdengar memilukan. Mariyah terus mengusap-usap punggungnya. Membiarkannya menangis untuk melapangkan dadanya kembali.

Si sisi lain Frizi mengacak rambutnya frustasi seraya menatap ke depan kedai. Sudah seminggu lebih kedainya tutup. Dan yang disesalinya dia tidak punya nomor telepon Putri, Teh Siti, atau bahkan Bu Yuki.

Frizi tidak tahu kenapa kedainya tutup.

Dalam seminggu lebih itu Frizi selalu datang tepat setelah pulang sekolah. Meski pun hasilnya nihil dan hanya mendapat kekecewaan dia tetap saja datang setiap hari.

Di depan kedai, dalam hati dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia tidak meminta nomor Putri atau Teh Siti.

Lihat selengkapnya