"Apa? Dia masih bisa berjalan tegak? Dasar tidak tahu malu."
"Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah tidak sanggup menginjakkan kaki di sekolah ini lagi."
"Muka tembok!"
"Psikopat lagi!"
Segala bisik-bisik yang memojokkan Maudi terdengar seiring dirinya berjalan di lorong-lorong kelas. Mata-mata itu menatapnya penuh kebencian.
Maudi merasa tertekan. Sulit baginya untuk bernafas di tengah langkah kakinya yang terus terayun. Wajahnya tampak sangat tegang.
Dongeng berbalik berubah. Kini Maudilah yang kehilangan sayap untuk dapat berbaur.
Suasana terasa semakin dingin baginya sesampainya di kelas. Semua teman sekelasnya kompak mengacuhkannya. Maudi merasa sendiri di tempat yang ramai.
Putri di tempat duduknya tak mampu berkata apa pun. Hanya diiam saat melihat Maudi masuk lalu duduk di kursinya. Kecanggungan diantara keduanya tercipta.
Seperti perintah ayahnya, Maudi berusaha untuk bertahan meski terasa sulit.
Di ujung jam pelajaran, saat lembar soal dikumpulkan oleh wakil ketua kelas, wakil ketua kelas itu mengabaikan uluran tangan Maudi yang hendak memberikan lembar soal miliknya padanya. Wakil ketua kelas tidak menerima dan justru malah melewatinya begitu saja, mengambil kertas soal milik siswa lain. Maudi harus jalan sendiri menuju kantor guru untuk menyerahkan lembar soal miliknya.
"Lain kali jangan sampai terlambat lagi," ucap gurunya setelah menerima lembar soal miliknya.
"Bik, Bu" jawabnya lesu seraya menundukkan kepala sebelum ia kemudian pergi.
Tugas lain kini telah menunggunya. Hukuman yang akan menemaninya sampai sebulan ke depan yaitu menyikat toilet sekolah. Meski menjijikan mau tidak mau Maudi harus melakukannya walau dengan perasaan terpaksa.
Maudi melemparkan sikat yang dipegangnya ke sembarang arah. Kemudian menghela nafas kasar. Wajahnya memerah dengan nafas memburu. Merasa sangat kesal
Tidak beberapa lama kekesalannya berubah menjadi isak tangis. Air matanya luruh tak terbendung.
Sesaat setelah Isak tangisnya reda, Maudi mengusap basah di wajahnya dengan punggung tangan bagian kirinya. Lalu memungut kembali sikat yang semula ia lempar ke sembarang sudut. Mulai menyikat toilet lagi.
Hukuman yang membuat ia harus pulang terlambat.
Meski tidak tahu mau kemana Maudi memilih berjalan-jalan sebentar ketimbang langsung pulang ke rumah.
Maudi sangat tertekan. Dia merasa sangat lelah.