Di kursi taman, Rangga dan Putri duduk bersisian dengan jarak lumayan jauh.
"Bagaimana dia bisa bekerja di kedai ibumu?" tanya Rangga penasaran.
Putri yang menatap lurus ke depan tidak langsung menjawab pertanyaannya. Diam beberapa saat.
"Kupikir dia merasa putus asa saat pertama kali datang ke kedai. Tapi Ibu yang melihat itu menyambutnya dengan penuh kehangatan dan bicara padanya layaknya dengan putranya sendiri.
"Karena dia merasa nyaman berada di kedai jadi dia minta untuk bekerja di sana meski tidak dibayar."
Saat mendengarnya Rangga tidak bereaksi apa pun dan hanya diam.
"Lalu bagaimana kau mengenalnya?" Putri kini balik bertanya.
Beberapa detik tidak ada jawaban. Putri yang sedang menatap lurus ke depan kemudian menoleh ke arahnya. Rangga masih tetap diam.
"Aku tidak bisa melupakan masa lalu," ujarnya kemudian setelah beberapa lama, masih menatap lurus ke depan.
Suasana hening lagi untuk beberapa saat. Hanya suara angin yang berdersir serta suara dedaunan yang terus bergoyang di atas pohonlah yang memecah keheningan.
"Saat usiaku sembilan tahun perselingkuhan papaku terbongkar. Aku dan Mama memergokinya di sebuah hotel. Hari yang pada akhirnya menjadi hari yang sangat kelam dan menyakitkan.
Putri menoleh ke arah Rangga yang menatap ke depan. Ikut merasakan kesedihan itu.
"Mama menuntunku pergi meninggalkan hotel. Dia kemudian berucap padaku dengan nada setenang mungkin meski aku tahu hatinya tengah remuk redam," lanjut Rangga kemudian lagi-lagi berhenti sejenak dari ceritanya.
"Setelah menyuruhku menunggu di pinggir jalan, Mama lalu menyebrang untuk membeli sesuatu di toko yang berada di sebrang." Rangga mendongak ke atas berusaha menahan air mata yang terasa akan jatuh dari matanya.
Putri tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa mendengarkan.
"Keperihan yang sekuat tenaga ditahannya di hadapanku sangat tampak dari kejauhan saat Mama menyebrang jalan. Dia berjalan tampak lemah dan linglung. Beberapa kali sopir menegurnya karena Mama yang berjalan sangat lambat. Ku lihat Mama hanya meminta maaf seraya menundukkan kepalanya. Sebelum akhirnya saat kakinya baru saja beberapa langkah berjalan lagi mobil yang tiba-tiba muncul menerjangnya. Menghempas tubuhnya. Saat itu aku hanya bisa menjerit di pinggir jalan," lanjutnya lirih di akhir kalimatnya dengan titik putih yang juga ikut menitik.
Dia kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena air matanya yang tidak bisa dia bendung lagi.
Putri menoleh lagi ke arahnya.
Rangga yang angkuh, dingin, dan anti sosial ternyata menyimpan keperihan dan luka yang sangat menyakitkan. Batin Putri saat melihat ke arahnya.
Meski pelan tangisnya mulai terdengar memilukan. Putri yang ikut merasakan kesedihan itu menyeka kedua sudut matanya yang berair saat melihat ke arah Rangga.
Tidak ada yang bisa dia lakukan selain membiarkan Rangga menangis untuk meluapkan kesedihannya.
"Dan wanita itu adalah mamanya Frizi," ucap Rangga setelah diam beberapa lama dan berhenti dari tangisnya.
Kalimat yang membuat Putri terkejut. Dan akhirnya semua teka-teki terungkap.
"Setelah akhirnya Papa dan mama Frizi menikah, kebencianku pada mamanya semakin besar. Sepertinya sampai kapan pun aku tidak akan bisa memanggilnya Mama meski sekarang dia sangat baik padaku."
Putri menatap iba padanya. Itu pasti sangat sulit untuk bisa dia terima.