Sejak kejadian itu Maudi dikucilkan bahkan oleh dua teman akrabnya sendiri. Dia selalu menghabiskan waktunya sendirian di sekolah. Berdiam diri di perpustakaan yang banyak dihabiskannya untuk melamun.
Dan kini Maudi tengah berada di atap sekolah. Menyaksikan para siswa yang tengah bermain sepakbola dalam mengisi waktu istirahat mereka. Tak ada sedikit pun binar di matanya. Yang ada hanyalah tatapan lesu dan sendu.
Kemarahannya langsung menyeruak kala pandangannya melihat sosok Putri di bawah yang tengah berjalan bersisian dengan Nina. Tersenyum sumringah ke arah Nina.
Senyum yang membuat Maudi yang berada di atas semakin meradang. Mengepalkan kedua tangannya. Kemarahan yang akhirnya membuat Maudi tidak bisa berpikir jernih. Memunculkan pikiran jahat yang tidak bisa ditolak oleh akalnya.
Maudi mengambil sebuah pot yang berisikan tanaman bunga yang ada di sana. Menaruhnya tepat di pinggir bangunan dan menunggu Putri berjalan tepat di bawah di mana Maudi meletakkan pot tersebut.
Di bawah Putri mau pun Nina tidak ada yang menyadarinya. Tetap berbincang seraya berjalan dengan sesekali tersenyum dan tertawa yang timbul tenggelam bergantian.
Frizi tersenyum melihat Putri yang tidak jauh berada didepannya. Ketika dia hendak memanggil Putri tiba-tiba senyum yang semula terukir menjadi luntur tak berbekas saat pandangannya tak sengaja melihat ke atas. Mata Frizi terbelalak kaget saat di atas dia melihat Maudi yang siap menjatuhkan pot itu tepat ke arah Putri yang berada di bawah.
Setelah melihat ke atas dia pun melihat ke arah Putri lalu segera berteriak memperingatkannya.
"Putri awas....!!!"
Seiring teriakannya Frizi juga berlari secepat mungkin untuk menghindarkan Putri dari pot yang sudah dijatuhkan Maudi dari atas.
Maudi yang menyadari itu panik dan segera menundukkan tubuhnya ke bawah. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bola matanya terus bergerak ke kiri dan ke kanan. Kegelisahan sekaligus rasa takut menghantui batinnya.
Sebelum pot itu mengenai Putri atau mungkin juga Nina, Frizi dengan cepat mendorong punggung Putri dan Nina ke depan hingga mereka berdua terjatuh.
Bersamaan dengan itu tubuh Frizi juga ikut terjatuh, yang tidak lama kemudian disusul oleh pot yang juga jatuh ke tanah tidak jauh dari tubuhnya terjatuh.
Putri dan Nina yang melihat itu membelalakkan mata seraya membekap mulut mereka. Tidak habis pikir itu bisa terjadi.
Frizi segara bangun. Kekhawatirannya pada Putri membuatnya segera menghampiri Putri yang masih terduduk karena terkejut.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Frizi khawatir.
"A...apa?" jawab Putri masih terkejut.
"Oh, aku tidak apa-apa," lanjutnya kemudian setelah keterkejutannya hilang.
Setelah itu Putri dan Nina segera berdiri. Sedikit membersihkan rok dan pakaian mereka yang sedikit kotor.