Tepat pukul tiga dini hari Putri terbangun dari tidurnya. Terduduk beberapa lama di atas kasurnya dengan mata yang masih terpejam sebelum akhirnya beranjak mandi lalu berwudu dan melakukan solat tahajud.
Setelah solat tahajud Putri mulai menghafal Al-Qur'an. Ayat demi ayat terus diulangnya tanpa lelah hingga satu halaman pun terlewati.
Kantuknya yang masih sedikit terasa dan mengganggu mencoba ia usir dengan mengedip-edipkan matanya beberapa kali atau menguceknya beberapa saat, lalu kemudian menghela nafas pelan. Putri lalu melanjutkan lagi menghafalnya.
Saat azan subuh berkumandang Putri menghentikan hafalannya dan menunaikan solat subuh lalu melanjutkan hafalannya lagi sampai pukul enam pagi.
Matahari menyingsing, menampakkan bias keemasannya yang terasa menghangatkan.
Putri dengan mata terpejam berdiri di depan rumahnya untuk menghirup udara pagi dan merasakan hangatnya mentari pagi.
Setelah itu dia membuat sarapan berupa nasi goreng dan memakannya dengan didampingi segelas teh hangat.
Hari minggu itu dia hanya ingin menghabiskan waktunya di rumah dan menghafal Al-Qur'an.
Jarum jam terus melewati angka demi angka. Waktu terus berjalan, mentari kini sudah bersinar terik.
Putri terus hanyut dalam hafalannya. Bahkan sebotol minuman yang diambilnya dari kulkas yang semula membeku kini sudah sepenuhnya mencair dan masih tak tersentuh di atas meja belajarnya. Putri masih fokus dengan hafalannya.
Hingga langit berubah warna menjadi kemerahan bahkan hitam dipenuhi bintang gemintang pun, Putri masih duduk di kursi belajarnya dengan Al-Qur'an yang masih di tangannya dengan mulut yang terus komat-kamit mengulang ayat yang tengah dihafalnya dengan mata terpejam.
Ibu, Putri akan berusaha dengan keras menjadi hafizah, dan tidak akan pernah melepaskan impian ini. Satu cita-citaku untuk Ibu. Batinnya.
***
Di dalam mobil Rangga dan Frizi yang duduk di belakang terlihat sangat tampan dengan setelan jas yang melakat di tubuh mereka. Rambut mereka pun ditata sangat rapih.
Di depan dengan menggunakan setelan jas juga, papanya bertugas sebagai kemudi. Di sampingnya mama mereka tampak anggun dengan gaun yang dikenakannya. Rambutnya ditata dengan sangat cantik, membuat keanggunannya semakin tampak sempurna.
Namun meski terlihat sangat tampan Rangga tidak menyukainya. Dia akan sangat melelahkan. Dia harus berakting di depan banyak sorot mata bahkan kamera yang akan menghujaninya dengan banyak pertanyaan dengan kilatan cahaya yang menyilaukan.
Rangga sungguh tidak menyukainya. Ingin rasanya dia menghindar dari acara yang sebentar lagi akan berlangsung.
"Ingat Rangga, kamu tidak boleh kemana-mana saat konferensi pers berlangsung. Kamu sudah dua kali tidak ikut konferensi pers. Alasan yang Papa buat pasti akan tetap membuat para wartawan curiga. Papa tidak ingin gosip tidak baik muncul," ujar papanya seraya terus mengendalikan kemudinya.
"Dan ingat, saat konferensi pers selalu tersenyum dan jawab pertanyaan para wartawan dengan baik," imbuh papanya yang tetap fokus menatap ke depan.
Rangga tidak menjawab. Wajahnya tampak malas dengan hati tak karuan.
Sekilas papanya melihatnya dari kaca depan.
"Kamu mendengar Papa, kan, Rangga?"
Suasana di dalam mobil sedikit menegang. Membuat mama tirinya dan juga Frizi mulai tidak nyaman.
Rangga masih tetap diam tidak menjawab. Hatinya sangat sulit meski berusaha dipaksakan.
Seiring tidak adanya jawaban dari Rangga, papanya menepikan mobilnya.
"Rangga kamu tidak dengar Papa?" ujar papanya setelah menepikan mobilnya.