Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #29

29. Mimpi-mimpi Yang Menjadi Nyata

Enam tahun berlalu tanpa terasa.

Dalam keadaan bersujud Putri menangis sejadi-jadinya. Sangat lama.

Ibu, Putri sudah menyelesaikan hafalan Al-Quran Putri. Putri mewujudkan mimpi Putri menjadi hafizah, Ibu. Putri berhasil mewujudkannya, Ibu. Putri berhasil. Batinnya di tengah tangisnya yang terus-menerus.

Hari berganti. Memperlihatkan banyak mimpi-mimpi lain yang berhasil digenggam.

Frizi dengan kedai makanan yang sudah memiliki beberapa cabangnya di Jakarta. Seperti yang sudah lihai dia lakukan, meski pemilik kedai ada saat-saat di mana dia turun hanya untuk menyapa pelanggan yang masuk dan mempersilahkannya duduk dengan sopan diiringi senyuman ramahnya. Frizi tampak bahagia melakukan itu. Dia juga tersenyum menatap kedai yang ramai oleh pengunjung. Mimpi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya kini sudah menjadi passionnya.

Di tempat lain, Rangga tengah bicara memimpin rapat bersama petinggi-petinggi perusahaan. Lalu setelahnya segera berjalan keluar diiringi sekretaris dan beberapa staf yang mengikutinya di belakang.

Kesibukannya berlanjut. Sopir pribadinya membukakan pintu saat Rangga akan memasuki mobil.

Rangga harus bertolak ke suatu tempat untuk bertemu klien penting ditemani oleh sekretarisnya.

Mengambil alih perusahaan papanya serta stasiun TV yang semula dipegang oleh papanya membuatnya super sibuk.

Meski tidak mudah dan melelahkan tapi Rangga yang sejak awal sangat pintar mampu menangani semuanya dengan baik.

Putri yang ambisius juga menggenggam mimpi-mimpinya yang lain. Dia lulus dengan nilai terbaik. Selain itu dia juga pendiri pondok pesantren modern yang dikhususkan untuk anak-anak tak mampu. Karena semua kesuksesannya itu Putri juga sering diundang di acara talk show-talk show di stasiun TV.

Tak jarang di kantornya Rangga juga menyaksikan talk show yang Putri menjadi bintang tamunya. Di matanya Putri terlalu bersinar.

Putri juga sibuk mengisi seminar-seminar.

"Sesulit apa pun hidup yang dijalani, jangan pernah lupa untuk bermimpi. Meski terkadang tersendat, lalu berhenti sejenak, namun teruslah berjalan." Closing statementnya disambut tepukan tangan yang meriah oleh para peserta seminar.

Di saat Putri keluar dari dalam ruangan Rangga menyambutnya dengan senyuman lebarnya yang tidak jauh dari pintu masuk gedung.

Saat Rangga baru saja akan melangkahkan kakinya menghampiri Putri, Rangga menarik lagi kakinya saat dia melihat Maudi berjalan menghampiri dan berhenti tepat di depan Putri.

Namun diamnya Rangga hanya bertahan beberapa detik, kekhawatirannya pada Putri atas kedatangan Maudi membuatnya berjalan lebih cepat menuju Putri.

Sesampainya di sana, Rangga menatap Maudi dengan tatapan kewaspadaan. Membuyarkan keterkejutan Putri yang kembali bertemu Maudi setelah sekian lama.

Maudi melihat pada Putri dan Rangga penuh kecanggungan.

"Aku ingin bicara denganmu sebentar," ujar Maudi yang ditujukannya pada Putri.

Lihat selengkapnya