Pagi itu, Martha Neno belajar bahwa manusia bisa ditimbang tanpa timbangan.
Ia berdiri di tengah halaman rumah adat dengan kedua kaki telanjang, sementara tanah merah menempel di sela-sela jarinya. Udara masih dingin. Kabut menggantung rendah di antara bukit-bukit yang mengelilingi kampung. Dari kejauhan terdengar suara burung dan kokok ayam yang bersahutan, tetapi di halaman itu tidak ada seorang pun yang memedulikan pagi.
Semua mata tertuju kepadanya.
Martha baru berusia delapan tahun.
Rambutnya dikepang dua oleh ibunya sebelum mereka berangkat dari rumah. Ia mengenakan kain tua berwarna gelap yang sudah beberapa kali ditambal. Di lehernya masih tergantung kalung kecil pemberian Maria Neno, ibunya. Kalung itu terbuat dari biji-biji kering berwarna cokelat yang diikat dengan benang merah.
Martha terus menggenggam ujung kain ibunya.
“Jangan takut,” bisik Maria.
Tetapi suara Maria bergetar.
Martha menatap wajah ibunya.
“Kenapa banyak orang?”
Maria tidak menjawab.
Di hadapan mereka berdiri Melkianus Benu.
Tubuhnya besar. Rambutnya sudah dipenuhi uban di beberapa bagian, tetapi wajahnya masih keras. Ia mengenakan kain tenun yang lebih bagus daripada milik kebanyakan orang di kampung. Di belakangnya berdiri dua orang laki-laki yang bekerja untuk keluarganya.
Di sebelah Melkianus terdapat seekor kerbau jantan berwarna hitam.
Kerbau itu besar.
Lehernya tebal. Tanduknya panjang dan melengkung. Uap napasnya terlihat di udara pagi.
Martha memandang hewan itu cukup lama.
“Kerbau siapa?” tanyanya.
Maria semakin kuat menggenggam tangannya.
“Jangan banyak bicara.”
Martha tidak mengerti.
Di sisi lain halaman, Yafet Neno berdiri dengan kepala tertunduk.
Ayahnya tidak melihat kepadanya.
Itulah yang paling membuat Martha takut.
Sejak tadi ia terus mencari mata ayahnya, tetapi Yafet selalu menghindar.
“Bapak.”
Yafet diam.
“Bapak.”
Kali ini laki-laki itu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Martha melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya pada wajah ayahnya.
Malu.
Atau mungkin takut.
Martha tidak tahu.
Ia hanya tahu bahwa ayahnya tampak seperti orang yang ingin lari.
Nenek Elisabet kemudian melangkah ke tengah halaman.
Orang-orang langsung diam.
Perempuan tua itu berjalan dengan tongkat kayu di tangan kanan. Punggungnya sudah bungkuk, tetapi suaranya masih keras. Ia adalah orang yang paling dihormati dalam urusan adat di kampung mereka. Tidak ada keputusan besar yang boleh dibuat tanpa persetujuannya.
Nenek Elisabet berhenti di depan Martha.
Ia memandang anak itu dari kepala sampai kaki.
“Namamu?”
Martha menjawab pelan.
“Martha.”
“Neno?”
Martha mengangguk.
“Neno.”
Nenek Elisabet membuka sebuah buku tua yang dibawanya. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna cokelat tua. Beberapa sudutnya sudah rusak.
Ia membalik halaman.
“Martha Neno,” katanya.
Yafet menundukkan kepala lebih dalam.
“Anak perempuan dari Yafet Neno dan Maria Neno.”
Maria mulai menangis.
Martha melihat ibunya.
“Ibu?”
Maria segera mengusap wajah.
“Tidak apa-apa.”
Nenek Elisabet melanjutkan.
“Utang keluarga Neno kepada keluarga Benu dicatat sebanyak enam kerbau.”
Bisikan mulai terdengar dari kerumunan.
Enam kerbau.
Martha tidak tahu apakah itu banyak atau sedikit.
Nenek Elisabet mengangkat tangan.
“Karena keluarga Neno tidak mampu membayar.”
Ia berhenti sebentar.
“Utang tersebut akan diganti dengan kewajiban kerja.”
Martha menatap ayahnya.
Yafet masih diam.
Nenek Elisabet kemudian menyebut kalimat yang kelak akan diingat Martha sepanjang hidupnya.
“Anak perempuan ini dihitung satu kerbau.”
Halaman itu sunyi.
Martha tidak langsung memahami maksudnya.
Ia menatap kerbau hitam di samping Melkianus.
Kemudian menatap dirinya sendiri.
Satu kerbau.
Ia mengangkat tangan.
“Kalau begitu…”
Semua orang melihat kepadanya.
Martha menunjuk kerbau itu.
“Apakah aku akan menjadi seperti dia?”
Beberapa orang tertawa.
Tidak keras.
Hanya beberapa suara kecil yang segera berhenti.
Melkianus tidak tertawa.
Nenek Elisabet menatap Martha lama sekali.
“Bukan.”
Martha lega.
Namun perempuan tua itu melanjutkan.
“Kerbau itu lebih berharga.”
Beberapa orang kembali tertawa.
Kali ini lebih banyak.
Martha tidak mengerti apa yang lucu.
Ia hanya menatap kerbau tersebut.
Maria menutup mulutnya dengan tangan.
Yafet akhirnya memalingkan wajah.
Martha mulai merasa ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
---
Rumah keluarga Benu berada di bagian atas kampung.
Bangunannya lebih besar daripada rumah-rumah lain. Halamannya luas. Di belakangnya terdapat lumbung, kandang kerbau, dapur, dan beberapa bangunan kecil tempat orang-orang yang bekerja untuk keluarga itu tidur.
Martha datang ke sana siang hari.
Ia membawa sebuah bungkusan kecil.
Isinya hanya dua pakaian, sebuah kain lama milik ibunya, dan sebuah sisir kayu.
Sebelum berangkat, Maria memasukkan benda terakhir ke dalam bungkusan.
“Ini punya Ibu sejak muda.”
Martha memegang sisir itu.
“Kenapa diberikan kepadaku?”
“Supaya kamu tidak lupa.”
“Lupa apa?”
Maria tidak menjawab.
Ia memeluk Martha.
Pelukan itu lama.
Terlalu lama untuk sekadar perpisahan sehari.
Martha mulai menangis.
“Aku ikut Ibu.”
Maria menggeleng.
“Aku mau ikut Ibu.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
Maria menutup matanya.
“Karena mulai hari ini kamu tinggal di sini.”
Martha menangis semakin keras.
Yafet berdiri beberapa langkah dari mereka.
Martha berlari kepadanya.
“Bapak, suruh mereka jangan ambil aku.”
Yafet memejamkan mata.
“Bapak…”
Laki-laki itu berlutut.
Ia memegang kedua bahu Martha.
“Dengar.”
Martha tersedu.
“Bapak akan datang.”
“Kapan?”
“Kalau utangnya selesai.”
“Kapan selesai?”
Yafet tidak menjawab.
Martha terus bertanya.
“Besok?”
Tidak.
“Minggu depan?”
Tidak.
“Bulan depan?”
Yafet memeluknya.
“Jangan tanya.”
Martha menangis di dada ayahnya.
“Bapak bohong.”
Yafet tidak membantah.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia sadar bahwa mungkin memang begitu.
---
Hari pertama Martha dimulai sebelum matahari muncul.
Ia dibangunkan dengan suara pintu dipukul.
“Bangun!”
Martha membuka mata.
Di sekelilingnya terdapat enam anak lain yang tidur berdesakan di atas tikar tipis.
Ia belum tahu nama mereka semua.
Seorang anak laki-laki yang tidur di sebelahnya menyentuh bahunya.
“Bangun.”
Martha duduk.
“Sekarang?”
Anak itu mengangguk.
“Kalau terlambat, dipukul.”
Martha turun dari tikar.
Udara sangat dingin.
Ia keluar bersama anak-anak lainnya.
Di dapur, mereka diberi pekerjaan.
Mengambil air.
Menyapu halaman.
Mengangkat kayu.
Membersihkan kandang.
Martha mendapat tugas membawa dua ember air dari mata air yang letaknya cukup jauh.
Ember pertama hampir membuat tangannya terlepas.
Ia baru berjalan beberapa meter ketika air tumpah.
Seorang perempuan dewasa melihatnya.
“Bodoh!”
Martha terkejut.
Ia mencoba mengangkat ember lagi.
“Jangan lambat!”
Martha berjalan secepat mungkin.
Tangannya sakit.
Tali ember menggesek kulit.