Pagi setelah Martha mengetahui bahwa anaknya kelak akan mewarisi kewajibannya, ia tidak tidur.
Ia duduk di ujung tikar sampai ayam pertama berkokok. Tangannya masih menggenggam sisir kayu milik Maria. Di luar, angin bergerak melewati atap daun lontar, membawa bau tanah basah dan asap tungku.
Berto sudah lama tertidur.
Anak-anak lain juga.
Hanya Martha yang terjaga.
Kalimat Nenek Elisabet terus berputar di kepalanya.
Anakmu akan mengikuti kewajibanmu.
Martha belum mempunyai anak.
Ia bahkan belum tahu apakah suatu hari ia akan mempunyai keluarga.
Tetapi adat itu sudah lebih dahulu mengambil sesuatu dari anak yang belum lahir.
Ia menatap kedua tangannya.
Lima belas tahun.
Seharusnya tangan itu masih bisa dipakai untuk bermain.
Namun telapak tangannya sudah keras dan kasar. Ada garis-garis luka kecil yang tidak pernah benar-benar sembuh. Kukunya sering patah. Bahunya terasa sakit hampir setiap pagi.
Ia bangkit.
Hari belum terang.
Pekerjaan sudah menunggu.
---
Di rumah utama, Martha diberi tugas baru.
Ia harus bekerja di dapur.
Bukan lagi sekadar mengambil air atau membersihkan halaman. Ia harus menyiapkan makanan untuk keluarga Benu, mencuci peralatan makan, membersihkan ruang depan, dan membantu Yuliana Benu ketika perempuan itu memasak.
Yuliana tidak pernah memukul Martha.
Namun ia juga tidak pernah memperlakukannya seperti manusia yang setara.
“Martha.”
“Ya, Mama Yuliana.”
“Berasnya kurang.”
Martha melihat wadah beras.
“Masih ada.”
“Kurang.”
“Untuk makan siang?”
“Untuk seluruh rumah.”
Martha mengambil karung.
“Angkat.”
Ia mengangkatnya.
Karung itu berat.
Martha memanggulnya dengan kedua tangan.
Yuliana memandang sebentar.
“Jangan jatuh.”
“Ya.”
Martha membawa karung ke dapur.
Baru beberapa langkah, lututnya hampir menyerah.
Ia menahannya.
Tidak boleh jatuh.
Kalau jatuh, beras tumpah.
Kalau beras tumpah, menjadi utang.
Kalau menjadi utang, namanya akan ditulis lagi.
Itulah aturan pertama yang dipelajari Martha sejak kecil:
semua kesalahan mempunyai harga.
Tetapi tidak semua harga dibayar oleh orang yang membuat kesalahan.
---
Siang hari, Martha sedang mencuci piring ketika mendengar suara Melkianus.
“Bawa ke sini.”
Martha mengeringkan tangannya.
Ia keluar.
Melkianus duduk di teras bersama dua laki-laki dari kampung.
Di hadapan mereka terdapat beberapa ikat kain dan sebuah buku tua.
Martha berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Kenapa?”
Melkianus menunjuk buku.
“Ambil.”
Martha mengambilnya.
“Buka.”
Ia membuka halaman pertama.
Tulisan tangan memenuhi hampir seluruh halaman.
Nama-nama.
Tanggal.
Angka.
Catatan.
Martha mengenali namanya.
Martha Neno.
Di sampingnya tertulis:
1 kerbau.
Di bawah tulisan itu terdapat daftar pekerjaan.
Air.
Kayu.
Padi.
Jagung.
Dapur.
Kebun.
Kemudian ada beberapa angka kecil.
Martha mengerutkan dahi.
“Apa ini?”
Melkianus menjawab.
“Utang.”
Martha mengangkat wajah.
“Aku punya utang?”
“Semua orang punya.”
“Tapi saya sudah bekerja.”
“Bekerja adalah kewajibanmu.”
“Jadi pekerjaan saya tidak mengurangi utang?”
Melkianus tersenyum tipis.
“Sekarang kau mulai banyak bertanya.”
Martha diam.
Laki-laki di samping Melkianus tertawa.
“Anak ini sudah besar.”
Melkianus mengambil buku dari tangan Martha.
“Lihat baik-baik.”
Ia menunjuk salah satu baris.
“Bulan lalu kau memecahkan dua mangkuk.”
Martha mengingatnya.
Satu mangkuk memang terlepas dari tangannya ketika ia sedang mencuci.
“Tidak sengaja.”
“Barang tetap rusak.”
Melkianus membalik halaman.
“Dua mangkuk. Setengah hari kerja tambahan.”
Martha menatap tulisan itu.
“Setengah hari?”
“Ya.”
“Sudah saya lakukan.”
“Dicatat.”
Martha terdiam.
Kemudian Melkianus menunjuk baris lain.
“Kau sakit tiga hari.”
Martha mengangguk.
“Waktu itu demam.”
“Tidak bekerja.”
“Saya tidak kuat berdiri.”
“Karena itu utang.”
Martha menatapnya.
“Kalau saya sakit, saya tetap harus bekerja?”
Melkianus bersandar.
“Kalau tidak bekerja, siapa yang menanggung pekerjaanmu?”
Martha tidak menjawab.
“Jawab.”
“Orang lain.”
“Dan apakah orang lain bekerja gratis?”
Martha diam.
Melkianus menutup buku.
“Tidak ada yang gratis di dunia ini.”
Martha hampir mengatakan bahwa dirinya bekerja gratis.
Namun ia menahan kata-kata itu.
Karena ia tahu apa yang akan terjadi kalau kalimat itu keluar.
---
Sore harinya, Martha melihat Mikael.
Laki-laki itu sedang membawa dua ekor kerbau menuju sungai.
Martha berhenti bekerja.
Mikael melihatnya.
“Kau kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Mikael mendekat.
“Kau kelihatan pucat.”
Martha menatap kerbau di belakangnya.
“Kalau kerbau sakit, apa tetap dipaksa bekerja?”
Mikael mengerutkan kening.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Kerbau bisa mati.”
Martha tersenyum pahit.
“Manusia juga bisa mati.”
Mikael diam.
Martha menceritakan tentang buku itu.
Tentang mangkuk.
Tentang tiga hari sakit.
Tentang utang yang terus bertambah.
Mikael mendengarkan tanpa menyela.
Setelah selesai, ia berkata:
“Buku itu bukan buku utang.”
“Lalu apa?”
“Buku kepemilikan.”
Martha menatapnya.
Mikael segera memperbaiki ucapannya.
“Atau setidaknya, begitu cara mereka menggunakannya.”
“Kenapa namaku ada di sana?”
“Karena dari awal mereka tidak pernah menganggapmu orang yang bekerja untuk mereka.”
Martha menelan ludah.
“Lalu aku apa?”
Mikael tidak langsung menjawab.
“Menurut mereka?”
Martha mengangguk.
“Kau bagian dari pembayaran.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tamparan.
Martha berdiri diam.
Mikael menatapnya.
“Jangan dengarkan mereka.”
“Kalau aku tidak mendengarkan, apakah aku bisa bebas?”
Mikael tidak menjawab.
Karena ia tahu jawabannya.
Tidak.
---
Malam itu hujan turun.
Atap rumah pekerja bocor di beberapa tempat.
Martha tidur di dekat dinding, tetapi air tetap menetes ke bahunya.
Ia tidak bergeser.
Tubuhnya terlalu lelah.
Berto berbisik dari tikar sebelah.
“Kau bicara dengan Mikael?”
“Ya.”
“Apa katanya?”
Martha diam.
“Katanya aku bukan pekerja.”
Berto tertawa kecil.
“Lalu?”
“Katanya aku pembayaran.”
Tawa Berto hilang.
Ia menatap langit-langit.
“Dulu ibuku juga begitu.”
“Di mana ibumu?”
“Sudah meninggal.”
“Karena sakit?”
“Karena terlalu lama bekerja.”