Satu Kerbau

Bear Winter
Chapter #3

Lima Belas Kerbau

Sejak malam ketika Melkianus mengambil buku tua itu, Martha tidak pernah lagi melihat lemari di dapur dengan cara yang sama.


Setiap kali melewatinya, matanya akan berhenti beberapa detik.


Lemari itu tidak besar.


Kayunya sudah kusam. Salah satu pintunya miring. Engselnya berderit kalau dibuka. Tidak ada yang istimewa dari benda tersebut.


Namun Martha tahu, di dalamnya pernah tersimpan sesuatu yang dapat membuat seorang lelaki seperti Melkianus Benu ketakutan.


Itu berarti buku tersebut lebih berbahaya daripada tongkat, parang, atau ancaman.


Martha tidak tahu apa yang tertulis di dalam halaman-halaman lainnya.


Tetapi ia tahu satu hal.


Ia harus membacanya.


Bukan sekarang.


Belum.


Ia harus menunggu.


Karena sejak malam itu, Melkianus mulai memperhatikannya.


---


Hari-hari berikutnya terasa lebih berat.


Bukan karena pekerjaannya berubah.


Justru karena semuanya tetap sama.


Martha bangun sebelum matahari.


Mengambil air.


Menyalakan tungku.


Membersihkan halaman.


Menumbuk jagung.


Memasak.


Mencuci.


Mengurus anak-anak keluarga Benu.


Namun sekarang setiap pekerjaan terasa seperti ujian.


Melkianus sering muncul tanpa suara.


Kadang berdiri di ujung halaman.


Kadang memperhatikannya dari teras.


Kadang bertanya sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan.


“Martha.”


“Ya?”


“Siapa yang mengajarimu membaca?”


Martha terdiam.


“Berto.”


“Berto bisa membaca?”


“Sedikit.”


Melkianus menatapnya.


“Jangan belajar hal-hal yang tidak perlu.”


Martha menunduk.


“Ya.”


“Perempuan tidak perlu mengetahui semua urusan laki-laki.”


Martha tidak menjawab.


Melkianus pergi.


Tetapi kalimat itu menempel di kepalanya.


Perempuan tidak perlu mengetahui semua urusan laki-laki.


Martha mulai bertanya dalam hati:


Kalau begitu, kenapa hidupnya selalu ditentukan oleh keputusan laki-laki?


Ayahnya.


Melkianus.


Orang-orang tua adat.


Semua bisa menentukan ke mana ia pergi, apa yang ia kerjakan, bahkan berapa nilai dirinya.


Tetapi ia tidak boleh bertanya.


---


Beberapa minggu kemudian, datang sebuah keluarga dari kampung sebelah.


Mereka membawa tiga ekor kerbau.


Dua laki-laki.


Satu perempuan tua.


Dan seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh belas tahun.


Martha melihat mereka dari dapur.


Mereka tidak datang sebagai tamu.


Mereka datang untuk menyerahkan seseorang.


Upacara dilakukan di halaman rumah adat.


Martha membawa kendi air ke sana karena diminta Yuliana.


Ia berdiri di bagian belakang.


Nenek Elisabet membuka buku.


Nama keluarga disebut.


Utang mereka juga disebut.


“Empat puluh lima kerbau.”


Orang-orang mulai berbisik.


Martha terkejut.


Empat puluh lima.


Jumlah yang sangat besar.


Nenek Elisabet kemudian menunjuk anak laki-laki itu.


“Anak laki-laki ini dihitung lima belas.”


Martha menatapnya.


Lima belas.


Anak itu berdiri tegak.


Wajahnya kosong.


Seorang laki-laki dari keluarga Benu menghitung jumlah kerbau yang dibawa.


Tiga.


“Kurang empat puluh dua.”


Ayah anak laki-laki itu langsung berlutut.


“Kami akan bayar dengan kerja.”


Melkianus mengangguk.


“Anakmu tinggal di sini.”


Anak laki-laki itu menatap ayahnya.


“Bapak?”


Ayahnya tidak berani menatap.


“Pergilah.”


Anak itu tidak bergerak.


Melkianus berkata:


“Namamu?”


“Yohan.”


“Mulai hari ini, kau bekerja untuk keluarga Benu.”


Yohan menelan ludah.


“Berapa lama?”


Nenek Elisabet menjawab:


“Sampai kewajiban keluargamu selesai.”


Yohan menatap ayahnya.


“Berapa lama?”


Ayahnya menangis.


“Jangan tanya.”


Martha merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.


Ia pernah berada di posisi itu.


Berdiri di tempat yang sama.


Menunggu seseorang menjawab berapa lama hidupnya akan menjadi milik orang lain.


Tetapi tidak ada yang menjawab.


---


Malamnya, Yohan ditempatkan di rumah pekerja.


Berto menyambutnya.


Martha memberikan tempat di dekat dinding.


“Tidur di sini.”


Yohan duduk.


Ia masih memegang kain kecil yang dibawa dari rumah.


“Namamu?”


“Martha.”


“Berapa?”


Martha tidak mengerti.


“Berapa apa?”


“Nilaimu.”


Martha terdiam.


“Satu.”


Yohan menatapnya.


“Aku lima belas.”


Martha mengangguk.


“Aku tahu.”


“Kenapa kau satu?”


Martha menatap tangannya.


“Karena aku perempuan.”


Yohan tertawa kecil.


“Adat yang bodoh.”


Semua orang langsung diam.


Berto memandang pintu.


“Jangan bicara begitu.”


Yohan menunduk.


Martha melihat wajahnya.


Ia tahu kemarahan itu.


Kemarahannya sendiri.


Kemarahan seseorang yang baru saja kehilangan hidupnya.


---


Beberapa hari kemudian, Martha mulai memahami arti lima belas kerbau.


Yohan ditempatkan di kandang.


Ia harus mengurus semua kerbau milik keluarga Benu.


Pekerjaannya berat.


Tetapi ia mendapatkan makanan lebih banyak daripada Martha.


Ia juga tidak diperbolehkan bekerja di dapur.


Martha bertanya kepada Berto.


“Kenapa?”


“Karena nilainya lima belas.”


“Lalu?”


“Orang yang mahal harus dijaga.”


Martha tertawa pahit.


“Kalau aku?”


“Kalau kau rusak, mereka merasa kehilangan satu kerbau.”


Martha tidak tertawa lagi.


---


Suatu pagi, Yohan jatuh dari punggung kerbau.


Kakinya terkilir.


Ia tidak bisa berdiri.


Martha melihat dari kejauhan.


Melkianus datang.


“Bangun.”


Yohan mencoba.


Tidak bisa.


“Kakiku sakit.”


“Bangun.”


“Tidak bisa.”


Melkianus menatapnya.


Kemudian memanggil dua orang.


“Bawa ke rumah.”


Martha terkejut.


Yohan dibawa masuk.


Kakinya diperiksa.


Tabib dipanggil.


Martha berdiri di luar.


Lusia datang.


“Kenapa dia diperlakukan berbeda?”


Martha bertanya.


“Karena dia lima belas.”


“Dan kau?”


“Satu.”


Martha menatap rumah.


“Jadi kalau dia terluka, mereka khawatir.”


Lusia mengangguk.


“Kalau kita?”


“Pekerjaan harus selesai.”


Martha diam.


Sistem itu ternyata bahkan punya ukuran untuk rasa sakit.


Sakit Yohan dianggap kerugian.


Sakit Martha dianggap gangguan.


---


Beberapa minggu kemudian, Martha menemukan sesuatu.


Saat membersihkan kamar Melkianus, ia melihat selembar kertas jatuh dari buku.


Ia memungutnya.


Di sana terdapat daftar nama.


Nilai.


Dan tanda tangan.


Martha membaca beberapa.


Yohan — 15 kerbau.


Lusia — 3 kerbau.


Berto — 4 kerbau.


Kemudian:


Martha — 1 kerbau.

Lihat selengkapnya