Satu Kerbau

Bear Winter
Chapter #4

Tradisi

Malam turun lebih cepat di kampung itu.


Awan hitam menggantung di atas bukit, menutup bulan yang sejak sore sebenarnya sudah berusaha muncul. Angin membawa bau tanah basah dan daun lontar yang bergesekan. Dari kejauhan terdengar suara ombak memukul karang, berulang-ulang seperti seseorang yang tidak pernah bosan mengetuk pintu yang tak kunjung dibuka.


Di rumah Benu, lampu minyak menyala di ruang tengah.


Melkianus Benu duduk di kursi kayu dengan buku tua di pangkuannya.


Nenek Elisabet duduk berhadapan dengannya.


Mereka berbicara pelan.


Terlalu pelan untuk didengar orang lain.


Tetapi Martha mendengar sebagian percakapan itu dari balik dinding dapur.


"Kalau dia menemukan buku itu, habis semuanya," kata Melkianus.


"Dia tidak akan menemukannya."


"Dia sudah tahu terlalu banyak."


Nenek Elisabet terdiam.


"Anak itu terlalu banyak bertanya," lanjut Melkianus. "Seharusnya sejak kecil mulutnya sudah diajari diam."


Martha menahan napas.


Tangannya menggenggam kain yang sedang dilipat.


Jantungnya berdetak keras.


Buku tua itu.


Buku yang berisi kalimat yang terus berputar di kepalanya.


Utang dibayar dengan kerbau. Bukan dengan manusia.


Ia tidak tahu siapa yang menulis kalimat itu.


Ia tidak tahu kapan kalimat itu dibuat.


Tetapi sekarang ia tahu satu hal.


Melkianus takut.


Dan orang yang takut biasanya punya sesuatu untuk disembunyikan.


"Besok kita adakan pertemuan," kata Nenek Elisabet.


"Untuk apa?"


"Supaya semua orang kembali mengingat aturan."


Melkianus menghela napas.


"Aturan?"


"Tradisi," jawab Nenek Elisabet.


Kata itu terdengar sederhana.


Tetapi Martha sudah tahu betapa banyak penderitaan yang bisa disembunyikan di balik satu kata.


Tradisi.


Tradisi membuat orang tua menyerahkan anak.


Tradisi membuat seseorang bekerja sampai tubuhnya tidak sanggup berdiri.


Tradisi membuat pukulan dianggap pendidikan.


Tradisi membuat manusia dihitung seperti hewan.


Dan tradisi membuat orang-orang yang melihat semua itu memilih menundukkan kepala.


Martha meletakkan kain.


Ia menatap pintu dapur.


Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut pada rumah besar Benu.


Ia takut pada sesuatu yang lebih besar.


Ketakutan itu bernama kebenaran.


---


Pagi berikutnya, seluruh rumah dibangunkan sebelum matahari muncul.


Martha sudah berada di belakang rumah ketika langit masih berwarna kelabu.


Ia menimba air.


Satu ember.


Dua ember.


Tiga.


Tangannya sudah terasa pegal ketika Yuliana datang membawa keranjang.


"Setelah ini ambil kayu."


"Baik, Mama Yuliana."


"Jangan lama."


Martha mengangguk.


Ia tidak pernah memanggil Yuliana dengan nama.


Di rumah itu, panggilan juga punya aturan.


Pemilik dipanggil dengan sebutan hormat.


Orang seperti Martha cukup dipanggil namanya.


Bahkan kadang tidak dipanggil sama sekali.


"Hei!"


Martha menoleh.


Melkianus berdiri di teras.


"Kenapa masih berdiri?"


"Aku mau mengambil kayu."


"Kalau begitu ambil! Jangan bengong seperti orang bodoh."


Martha menunduk.


"Baik."


Ia berjalan menuju kebun.


Di belakang rumah, Berto sedang memotong ranting.


Wajahnya tampak pucat.


"Kenapa?" tanya Martha.


"Bahu."


"Masih sakit?"


Berto mengangguk.


Kemarin ia dipukul karena terlambat membawa hasil kebun.


Tidak ada luka besar.


Tetapi bahunya sulit digerakkan.


"Sudah bilang?"


Berto tertawa pendek.


"Bilang kepada siapa?"


Martha tidak menjawab.


Berto memasukkan ranting ke dalam ikatan.


"Kalau sakit, kerja."


"Itu bukan jawaban."


"Itu jawaban di sini."


Martha menatapnya.


Berto melanjutkan dengan suara rendah.


"Kalau kau bilang sakit, mereka bilang kau malas. Kalau kau bilang lapar, mereka bilang jatahmu sudah cukup. Kalau kau menangis, mereka bilang perempuan memang lemah."


Ia tersenyum getir.


"Kalau kau mati?"


Martha diam.


"Mereka bilang sayang sekali."


"Dan selesai?"


"Besok mereka cari orang lain."


Angin bergerak di antara pohon.


Martha merasa dadanya sesak.


"Apa kita benar-benar tidak punya pilihan?"


Berto menatapnya.


"Kau masih bertanya itu?"


"Ya."


"Berhenti bertanya kalau kau ingin hidup tenang."


"Aku tidak ingin hidup tenang."


Berto terdiam.


Martha mengambil ikatan kayu.


"Aku ingin hidup."


---


Menjelang siang, Nenek Elisabet datang ke halaman.


Di belakangnya ada beberapa orang tua kampung.


Martha mengenali wajah-wajah mereka.


Mereka adalah orang-orang yang selama bertahun-tahun hadir dalam setiap keputusan tentang utang, keluarga, tanah, dan tenaga kerja.


Mereka duduk di bawah pohon besar.


Mikael juga ada di sana.


Ia berdiri agak jauh dari kelompok orang tua.


Matanya bertemu dengan mata Martha.


Mikael menggeleng pelan.


Jangan bicara.


Martha mengerti.


Tetapi justru karena itu ia ingin bicara.


Nenek Elisabet membuka suara.


"Hari ini kita berkumpul bukan untuk memperdebatkan adat."


Martha hampir tertawa.


Kalimat itu terdengar seperti pintu yang sengaja dikunci sebelum seseorang diizinkan masuk.


"Kita berkumpul untuk mengingatkan bahwa kampung ini berdiri karena aturan yang sudah ada sebelum kita lahir."


Seorang lelaki tua mengangguk.


"Benar."


"Kalau aturan hilang," lanjut Nenek Elisabet, "orang akan melakukan apa saja sesuka hati."


Melkianus duduk di sampingnya.


"Anak-anak sekarang terlalu banyak belajar dari luar," katanya. "Mereka pikir semua hal harus dipertanyakan."


Martha merasakan darahnya naik ke wajah.


Mikael menatap tanah.


"Adat bukan penjara," kata seorang perempuan tua.


"Benar," jawab Nenek Elisabet.


Martha menatapnya.


Kalau bukan penjara, mengapa pintunya tidak boleh dibuka?


"Orang yang punya kewajiban harus menjalankan kewajibannya," lanjut Nenek Elisabet.


"Kalau kewajibannya sudah selesai?"


Pertanyaan itu keluar dari mulut Martha.


Semua kepala menoleh.


Mikael langsung menatapnya.


Melkianus berdiri.


"Kau."


Martha tidak bergerak.


"Kemari."


Ia berjalan perlahan.


"Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu?"


"Tidak ada."


"Jadi kau merasa pintar sekarang?"


"Tidak."


"Kalau tidak pintar, jangan bicara sembarangan."


Martha menelan ludah.


"Aku hanya bertanya."


Melkianus tertawa.


"Pertanyaan?"


Ia mendekat.


"Pertanyaan dari orang yang tidak tahu tempat."


Martha mengepalkan tangan.


Melkianus menunjuk tanah.


"Di sini kau berdiri karena keluarga kami mengizinkan."


Martha menatap tanah.


"Karena utang keluargaku."


"Jangan mengulang kata-kataku."


"Kalau begitu kenapa aku masih punya utang?"


Suasana langsung membeku.


Bahkan angin seolah berhenti.


Melkianus menatapnya lama.


"Apa?"


"Kalau utangnya sudah dibayar."


Beberapa orang tua mulai berbisik.


Martha melanjutkan.


"Ayahku bilang utang awal kami dua kerbau."


Melkianus menoleh kepada Yafet yang kebetulan berdiri di belakang rumah.


Yafet pucat.


"Dia bilang begitu?"


Martha mengangguk.


Melkianus tersenyum.


Bukan senyum ramah.


Senyum orang yang baru saja menemukan alasan untuk marah.


"Dasar bodoh."


Ia melangkah mendekat.


"Utang bukan cuma dua kerbau."


"Di buku lama tertulis—"


Tamparan itu datang begitu cepat.


Martha terhuyung.


Suara pukulan itu terdengar jelas di halaman.


Tidak ada yang bergerak.


Pipi Martha panas.


Melkianus menunjuk wajahnya.


"Jangan pernah bawa buku itu lagi ke hadapanku."


Martha menatapnya.


Air mata menggenang di matanya.


Tetapi ia tidak menangis.


"Kenapa?"


"Apa?"


"Kenapa takut pada buku?"


Melkianus maju satu langkah.


"Kurang ajar."


Mikael bergerak.


"Pak Melkianus."


"Diam kau!"


Mikael berhenti.


Melkianus menatap Martha dengan mata merah.


"Kalian semua sudah diberi makan. Diberi tempat tinggal. Diberi pekerjaan. Kalian hidup karena rumah ini."


Martha menjawab pelan.


"Kami bekerja."


"Ya."


"Setiap hari."


"Memang."


"Jadi kenapa disebut diberi?"


Tidak ada jawaban.


Martha bisa melihat beberapa orang mulai menunduk.


Mereka mendengar.


Mereka tahu.


Tetapi mereka belum berani.


Melkianus menunjuknya.


"Mulai hari ini, dia tidak boleh keluar dari rumah tanpa izin."


Yuliana terkejut.


"Melkianus—"


Lihat selengkapnya