Satu Kerbau

Bear Winter
Chapter #5

Tubuh yang Tidak Dibayar

Pagi belum sepenuhnya terang ketika Martha meninggalkan halaman belakang rumah Benu.


Ia berjalan tanpa suara.


Di tangannya hanya ada sepotong kain untuk membungkus bekal singkong. Tidak ada uang. Tidak ada senjata. Tidak ada bukti selain apa yang masih tersimpan di kepalanya.


Nama keluarganya.


Dua kerbau.


Lunas.


Itu saja.


Tetapi pagi itu, tiga kata terakhir terasa lebih berat daripada satu karung jagung.


Sudah lunas.


Kalau utang itu sudah lunas, lalu mengapa ia masih menjadi milik seseorang?


Pertanyaan itu terus berjalan bersamanya.


Mikael menunggu di ujung kebun.


"Kau yakin?"


Martha mengangguk.


"Kalau ketahuan?"


"Kita sudah ketahuan."


Mikael menghela napas.


"Benar juga."


Mereka berjalan menuju jalan setapak yang mengarah ke desa sebelah.


Jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi bagi orang seperti Martha, berjalan keluar dari wilayah rumah Benu tanpa izin terasa seperti kejahatan besar.


Setiap langkah membuatnya menoleh.


Bukan karena takut pada hutan.


Ia takut ada orang yang mengikutinya.


Takut Melkianus muncul dari balik pohon.


Takut Nenek Elisabet memanggil namanya.


Takut suara itu terdengar lagi.


"Satu kerbau."


Mikael berjalan di sampingnya.


"Kau tidak perlu takut pada angka itu lagi."


Martha tersenyum tipis.


"Angka tidak menakutkan."


"Lalu?"


"Orang yang mempercayai angka itu yang menakutkan."


Mikael tidak menjawab.


Mereka terus berjalan.


Di tengah perjalanan, mereka melewati kebun milik beberapa keluarga.


Anak-anak sedang menggiring kambing.


Seorang perempuan menjemur pakaian.


Dua lelaki memperbaiki pagar.


Semua tampak biasa.


Itulah yang membuat Martha semakin tidak nyaman.


Bagaimana mungkin dunia tetap berjalan ketika sebagian manusia dipaksa hidup seperti benda?


Ia berhenti.


"Mikael."


"Ya?"


"Menurutmu, berapa lama mereka bisa mempertahankan ini?"


Mikael memandang rumah-rumah di kejauhan.


"Selama orang-orang takut."


"Kalau tidak takut?"


"Entahlah."


Martha kembali berjalan.


"Berarti kita harus membuat mereka berhenti takut."


---


Rumah Petrus berada di ujung desa.


Tidak besar.


Dindingnya terbuat dari papan tua, sebagian sudah menghitam karena hujan dan matahari. Di depan rumah tumbuh pohon asam yang sangat besar. Daunnya bergerak pelan tertiup angin.


Mikael mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban.


Ia mengetuk lagi.


"Siapa?"


"Om Petrus?"


Pintu terbuka.


Seorang lelaki tua muncul.


Rambutnya putih.


Punggungnya sedikit membungkuk.


Matanya tajam.


Ia melihat Mikael.


Kemudian Martha.


Wajahnya berubah.


"Masuk."


Mereka mengikuti.


Petrus menutup pintu.


"Kalian dari rumah Benu?"


Mikael mengangguk.


"Ada yang tahu kalian ke sini?"


"Tidak."


Petrus menatap Martha.


"Namamu?"


"Martha Neno."


Petrus terdiam.


"Anak Yafet?"


"Iya."


Ia menghela napas panjang.


"Duduk."


Martha dan Mikael duduk.


Petrus mengambil kendi air.


"Minum."


Martha menerima gelas.


Ia baru sadar tenggorokannya kering.


Petrus duduk di depan mereka.


"Apa yang kalian cari?"


Martha menjawab.


"Kebenaran."


Petrus tertawa kecil.


"Jawaban yang berbahaya."


"Kami menemukan buku lama."


Petrus tidak lagi tersenyum.


"Buku apa?"


"Buku tentang utang."


Mata lelaki tua itu menyipit.


"Di mana?"


"Sudah dibakar."


Petrus menghela napas.


"Sudah kuduga."


Martha menatapnya.


"Om tahu?"


"Aku tahu buku itu ada."


"Isinya?"


Petrus diam beberapa saat.


"Isinya adalah alasan mengapa orang-orang seperti kalian dulu tidak menjadi budak seumur hidup."


Martha merasakan dadanya sesak.


"Jadi benar?"


Petrus mengangguk.


"Dulu utang punya batas."


"Berapa lama?"


"Tergantung jumlahnya."


"Kalau sudah lunas?"


"Orang itu pulang."


Martha menunduk.


"Dan keluarga kami?"


"Seharusnya sudah bebas."


Kata itu membuat Martha menutup mata.


Bebas.


Kata yang selama ini terasa seperti cerita dari negeri lain.


"Kenapa berubah?" tanya Mikael.


Petrus menatapnya.


"Karena orang-orang yang memegang aturan mulai menyukai kekuasaan."


"Sesederhana itu?"


"Keserakahan tidak pernah sederhana."


Petrus bangkit dan berjalan ke lemari tua.


Ia mengambil beberapa lembar kertas.


"Ketika hasil kebun semakin banyak, tenaga kerja semakin dibutuhkan. Orang yang berutang mulai dianggap lebih berguna jika tidak pernah pergi."


Ia membuka satu catatan.


"Awalnya hanya tambahan waktu."


"Tambahan?"


"Utang sudah lunas, tetapi mereka bilang masih ada biaya makan."


Martha menggertakkan gigi.


"Biaya makan?"


Petrus mengangguk.


"Lalu biaya pakaian. Biaya tempat tinggal. Biaya pengobatan. Biaya kelahiran. Biaya kematian."


"Biaya kematian?"


"Ya."


Martha menatapnya tidak percaya.


"Orang mati pun masih punya utang?"


Petrus mengangguk pelan.


"Begitulah sistem itu tumbuh."


Mikael mengepalkan tangan.


"Brengsek."


Petrus menatapnya.


"Jangan hanya marah. Pahami bagaimana mereka melakukannya."


Ia menunjuk kertas.


"Mereka tidak mengubah semuanya sekaligus. Mereka mengubah sedikit demi sedikit. Sampai orang lupa bagaimana aturan yang sebenarnya."


Martha melihat tulisan tua itu.


"Dan perempuan?"


Petrus diam.


"Kenapa aku satu kerbau?"


Petrus menatapnya lama.


"Karena mereka membutuhkan cara untuk memberi harga pada tenaga perempuan."


"Kenapa lebih rendah?"


"Karena mereka menganggap perempuan akan menikah, melahirkan, lalu tetap bekerja."


Martha tertawa pahit.


"Jadi tubuhku dihitung?"


"Ya."


"Tenagaku?"


"Ya."


"Anakku?"


Petrus terdiam.


Martha langsung memahami jawabannya.


"Anakku juga dihitung?"


Petrus tidak menjawab.


Itu sudah cukup.


Martha berdiri.


"Berarti Beni—"


"Siapa Beni?"


Martha menelan ludah.


"Belum ada."


Petrus mengerutkan kening.


Martha memandang keluar jendela.


"Kalau aku punya anak suatu hari nanti."


Petrus menatapnya.


"Anakmu akan dianggap mewarisi kewajibanmu."


Martha mengepalkan tangan.


"Tidak."


Suara itu keluar sangat pelan.


Tetapi tegas.


"Anakku tidak."


---


Mereka pulang sebelum siang.


Namun ketika Martha melewati pagar belakang rumah Benu, ia langsung tahu sesuatu telah berubah.


Berto sedang berdiri di sana.


Wajahnya pucat.


"Martha."


Martha berhenti.


"Apa?"


"Melkianus mencarimu."


"Kenapa?"


Berto tidak menjawab.


Mikael langsung berjalan maju.


"Apa yang terjadi?"


Berto melihat ke arah rumah.


"Dia tahu kalian pergi."


Martha merasakan dingin menjalar di punggung.


"Bagaimana?"


"Ada orang yang melihat."


Mikael mengumpat pelan.


"Siapa?"


"Entah."


Berto mendekat.


"Pergilah ke belakang dulu."


Martha menggeleng.


"Kalau aku kabur, mereka akan menyalahkan orang lain."


Berto menatapnya.


"Dia sudah marah."


"Biarkan."


"Martha—"


"Aku yang pergi."


Ia berjalan menuju halaman.


Melkianus sudah menunggu.

Lihat selengkapnya