Pagi datang bersama suara ayam dan bau tanah basah.
Martha terbangun sebelum orang-orang di rumah utama.
Ia masih berada di gudang.
Tubuhnya pegal setelah tidur di atas lantai keras. Punggungnya sakit. Telapak tangannya penuh bekas lecet. Pipi kirinya masih menyisakan nyeri dari tamparan Melkianus.
Namun hal pertama yang dilakukannya bukan memeriksa luka.
Ia melihat dinding.
Tulisan-tulisan yang dibuatnya semalam masih ada.
MARTHA NENO — MANUSIA.
UTANG: 2 KERBAU.
STATUS: LUNAS.
Di bawahnya sudah bertambah beberapa nama.
BERTO.
LUSIA.
YOHAN.
TOMAS.
Martha tersenyum tipis.
Berto yang tidur di sudut gudang membuka mata.
"Kau sudah bangun?"
"Sudah."
"Kenapa senyum?"
Martha menunjuk dinding.
"Karena mereka belum menghapusnya."
Berto bangkit.
Ia berjalan mendekati tulisan.
"Jangan terlalu senang."
"Kenapa?"
"Mereka pasti akan tahu."
Martha menatap dinding.
"Biarkan."
"Kau benar-benar ingin mati?"
Martha menggeleng.
"Aku ingin hidup."
"Kadang rasanya sama saja."
Martha menoleh kepadanya.
"Tidak."
Ia mengambil arang.
"Kalau aku mati karena melawan, itu berbeda dengan mati karena hidup sebagai milik orang lain."
Berto tidak menjawab.
Martha menambahkan satu nama lagi.
MARIA NENO.
Berto mengerutkan kening.
"Ibumu?"
Martha mengangguk.
"Dia tidak bekerja di sini."
"Tapi dia bagian dari cerita ini."
"Kenapa kau menulisnya?"
Martha menatap nama itu lama.
"Karena ibuku juga kehilangan aku."
Tangannya berhenti.
"Dan kehilangan seorang anak juga bentuk utang yang tidak pernah dicatat."
Mereka dibawa bekerja ketika matahari baru naik.
Martha mendapat tugas di kebun jagung.
Berto mengangkut hasil panen.
Yohan membawa dua karung sekaligus.
Lusia berada di dapur.
Tomas membersihkan kandang.
Tidak ada yang berbicara banyak.
Sejak daftar nama itu dibuat, mereka menjadi lebih berhati-hati.
Bukan karena mereka berhenti takut.
Justru karena sekarang mereka punya sesuatu yang harus dilindungi.
Sebuah rahasia kecil.
Melkianus berjalan melewati mereka.
Ia berhenti di depan Martha.
"Kau."
Martha menoleh.
"Ya."
"Ikut aku."
Martha meletakkan cangkul.
Ia mengikuti Melkianus ke belakang rumah.
Di sana ada sebuah meja kecil.
Di atasnya terdapat buku baru.
Buku yang sama seperti yang dilihat Martha malam sebelumnya.
Melkianus duduk.
Martha berdiri.
"Mulai sekarang semua pekerjaanmu akan dicatat."
Martha memandang buku itu.
"Kenapa?"
"Karena kau membuat masalah."
"Aku bekerja."
"Kau pergi tanpa izin."
"Karena aku mencari kebenaran."
Melkianus menatapnya tajam.
"Jangan pakai kata-kata besar kalau otakmu tidak cukup untuk memahaminya."
Martha diam.
Melkianus membuka halaman.
"Bangun terlambat. Satu kewajiban."
Martha terkejut.
"Aku bangun sebelum matahari."
"Diam."
Ia menulis.
"Melawan perintah. Dua kewajiban."
"Aku tidak—"
"Jangan membantah."
Ia menulis lagi.
"Menghasut pekerja lain."
Martha menatapnya.
"Aku tidak pernah menghasut siapa pun."
Melkianus mengangkat wajah.
"Kau menulis nama mereka di dinding."
"Itu bukan kejahatan."
"Di rumah ini, aku yang menentukan apa yang menjadi kejahatan."
Martha menatap buku tersebut.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Buku lama membuktikan bahwa utang pernah memiliki akhir.
Buku baru akan digunakan untuk menciptakan utang baru.
Melkianus bukan sedang mencatat kewajiban.
Ia sedang membuat alasan.
"Berapa utangku sekarang?" tanya Martha.
Melkianus tersenyum.
"Belum selesai dihitung."
"Kalau begitu jangan bilang aku punya utang."
Melkianus menutup buku.
"Keluar."
Martha berbalik.
"Dan Martha."
Ia berhenti.
"Jangan pernah berpikir kau bisa menang."
Martha menoleh.
"Aku tidak sedang mencoba menang."
"Lalu?"
"Aku sedang mencoba membuat kalian berhenti menang."
Siang hari, Martha mendengar suara tangisan dari dapur.
Ia langsung tahu itu Lusia.
Ia berlari.
Lusia sedang duduk di lantai.
Tangannya memegang perut.
Yuliana berdiri di depannya.
"Aku tidak bisa," kata Lusia.
"Kau harus."
"Aku sakit."
"Kalau kau berhenti sekarang, pekerjaan ini tidak selesai."
Martha masuk.
"Lusia harus istirahat."
Yuliana menoleh.
"Kau jangan ikut campur."
"Dia pucat."
"Semua orang lelah."
Martha berlutut di depan Lusia.
"Sejak kapan?"
Lusia menggeleng.
"Tadi pagi."
"Kenapa tidak bilang?"
"Aku sudah bilang."
Martha menatap Yuliana.
"Dia sudah bilang."
Yuliana tampak gelisah.
"Aku akan memanggil Melkianus."
Martha berdiri.
"Untuk apa?"
"Supaya dia yang memutuskan."
Martha tertawa getir.
"Kalau orang sakit harus meminta izin untuk sakit, apa gunanya tubuh mereka?"
Yuliana tidak menjawab.
Tak lama kemudian Melkianus datang.
Ia melihat Lusia.
"Apa masalahnya?"
"Dia sakit," kata Martha.
Melkianus menatap Lusia.
"Sejak kapan?"
"Tadi pagi."
"Masih bisa berdiri?"
Lusia mencoba bangkit.
Kakinya gemetar.
Ia hampir jatuh.
Martha menangkap tubuhnya.
"Sudah."
Melkianus menggeleng.
"Manja."
Martha menatapnya.
"Dia sudah bekerja dua puluh lima tahun."
"Dan?"
"Dia bukan mesin."
Melkianus mendekat.
"Kau ingin menggantikannya?"
Martha terdiam.
"Kalau tidak, diam."
Lusia kembali dipaksa bekerja.
Martha melihat perempuan itu membawa panci besar dengan tubuh yang gemetar.
Ada sesuatu dalam dirinya yang patah.
Bukan karena melihat kekejaman.
Ia sudah melihat terlalu banyak.
Tetapi karena orang-orang mulai menganggap kekejaman sebagai sesuatu yang biasa.
Sore menjelang ketika seorang anak laki-laki datang dari arah jalan utama.
Usianya sekitar sepuluh tahun.
Ia membawa tas kain kecil.
Di belakangnya berjalan seorang lelaki tua.
Martha sedang membawa air ketika melihat mereka.
Ia berhenti.
Berto juga melihat.
"Siapa?"
"Tidak tahu."
Melkianus keluar dari rumah.
Ia berbicara dengan lelaki tua itu.
Martha tidak bisa mendengar semuanya.
Tetapi ia mendengar beberapa kata.
"Empat kerbau."
Kemudian:
"Anaknya."
Martha merasa perutnya mengeras.
Anak itu berdiri diam.
Wajahnya ketakutan.
Lelaki tua itu memegang bahunya.
"Kerja yang baik."
Anak itu mengangguk.
"Jangan bikin masalah."
Melkianus menyerahkan sesuatu kepada lelaki itu.
Kemudian lelaki tersebut pergi.
Anak itu tetap berdiri.
Sendirian.
Martha mendekat.
"Namamu siapa?"
Anak itu tidak menjawab.
Melkianus menoleh.
"Jangan ganggu."
Martha berhenti.
"Dia akan bekerja di sini?"
"Ya."
"Berapa lama?"
Melkianus tertawa.
"Selama kewajibannya."
Anak itu menunduk.