Satu Kerbau

Bear Winter
Chapter #7

Darah yang Diwariskan

Pagi itu, halaman rumah Benu dipenuhi orang.

Tidak seperti biasanya.

Biasanya orang-orang datang untuk bekerja. Mereka membawa cangkul, parang, keranjang, atau ember. Mereka berdiri menunggu perintah, kemudian berpencar seperti bayangan yang tahu ke mana harus bergerak.

Namun pagi itu mereka berkumpul.

Tidak ada yang membawa alat kerja.

Mereka membawa pertanyaan.

Martha berdiri di antara Berto, Lusia, Yohan, Tomas, Daniel, dan para pekerja lainnya. Mikael berada beberapa langkah di belakangnya.

Nenek Elisabet duduk di kursi kayu.

Melkianus berdiri di sampingnya.

Wajah lelaki itu keras.

"Jadi," katanya, "kalian semua merasa punya hak untuk mempertanyakan aturan?"

Tidak ada yang menjawab.

Melkianus memandang satu per satu wajah di depannya.

"Siapa yang memulai?"

Tetap diam.

Ia berhenti pada Martha.

"Kau."

Martha mengangkat wajah.

"Aku hanya bertanya."

"Kau selalu bilang begitu."

"Karena memang itu yang kulakukan."

Melkianus tertawa pendek.

"Pertanyaanmu membuat semua orang menjadi berani."

Martha menatap orang-orang di sekelilingnya.

"Kalau pertanyaan saja bisa membuat mereka berani, mungkin masalahnya bukan pada pertanyaanku."

Beberapa orang menahan napas.

Melkianus maju.

"Kau semakin kurang ajar."

"Karena aku bicara?"

"Karena kau lupa tempatmu."

Martha menggeleng.

"Aku tahu tempatku."

"Di mana?"

"Di antara manusia."

Suasana menjadi sunyi.

Bahkan suara burung dari pohon di belakang rumah terdengar jelas.

Melkianus mengepalkan tangan.

Namun sebelum ia sempat bicara, Nenek Elisabet berdiri.

"Cukup."

Melkianus menoleh.

"Nenek?"

"Kita berkumpul untuk membicarakan aturan."

"Aku tahu."

"Kalau begitu biarkan mereka bicara."

Melkianus mengerutkan kening.

"Mereka tidak mengerti adat."

Nenek Elisabet menatapnya.

"Dan kau terlalu yakin memahaminya."

Melkianus terdiam.

Martha melihat perubahan kecil pada wajah perempuan tua itu.

Nenek Elisabet tampak lebih tua pagi itu.

Bukan sekadar keriput.

Ada kelelahan yang bertahun-tahun disimpan.

"Aku akan bicara dulu," katanya.

Semua orang diam.

"Dulu, sebelum aturan ini berubah, orang yang berutang bekerja sampai kewajibannya selesai."

Martha menahan napas.

Nenek Elisabet melanjutkan.

"Setelah selesai, mereka pulang."

Seorang lelaki di antara para pekerja bergumam,

"Benar."

"Jangan dipotong," kata Nenek Elisabet.

Ia menatap Melkianus.

"Perubahan terjadi perlahan."

Melkianus langsung menyela.

"Jangan membuat seolah-olah keluarga kami yang mengubahnya."

Nenek Elisabet tidak bergeming.

"Memang bukan satu keluarga."

"Jadi?"

"Semua yang memiliki kekuasaan ikut mempertahankannya."

Martha menatap Nenek Elisabet.

Untuk pertama kalinya, perempuan tua itu tidak menggunakan kata tradisi sebagai perisai.

Ia justru membukanya.

"Awalnya," lanjut Nenek Elisabet, "orang-orang hanya diminta tinggal sedikit lebih lama."

"Kenapa?" tanya Mikael.

"Karena ada biaya tambahan."

"Biaya apa?"

"Macam-macam."

Martha tertawa pahit.

"Biaya makan."

Nenek Elisabet mengangguk.

"Pakaian."

"Obat."

"Kerusakan."

"Tempat tinggal."

Satu demi satu kata keluar.

Martha memandang Melkianus.

"Dan setelah itu?"

Nenek Elisabet menjawab,

"Anak-anak mereka ikut bekerja."

Martha merasa tubuhnya dingin.

"Kenapa?"

"Karena dianggap ikut menikmati hasil dari rumah ini."

Martha mengepalkan tangan.

"Anak tidak meminta dilahirkan dalam keluarga miskin."

Tidak ada yang menjawab.

"Anak juga tidak meminta orang tuanya berutang."

Nenek Elisabet menunduk.

"Benar."

"Kalau begitu kenapa anak harus membayar?"

Nenek Elisabet memejamkan mata.

Tidak ada jawaban.

Karena memang tidak ada jawaban yang bisa membuatnya terdengar benar.

Melkianus akhirnya maju.

"Cukup."

Nenek Elisabet menoleh.

"Belum."

"Aku bilang cukup."

"Dan aku bilang belum."

Keduanya saling menatap.

Martha baru menyadari sesuatu.

Melkianus mungkin pemilik rumah itu.

Tetapi Nenek Elisabet memiliki sesuatu yang tidak dimiliki lelaki itu.

Usia.

Ingatan.

Dan pengaruh.

"Kalau kita terus mempertanyakan semuanya," kata Melkianus, "apa yang tersisa dari kampung ini?"

Martha menjawab,

"Manusia."

Melkianus memandangnya.

"Diam."

"Tidak."

"Jangan menguji kesabaranku."

Martha tidak mundur.

"Kesabaranmu tidak pernah jadi masalahku."

Melkianus berjalan cepat ke arahnya.

Mikael langsung maju.

"Jangan."

Melkianus menunjuknya.

"Kau lagi."

Mikael berdiri tegak.

"Ya."

"Berani sekali."

"Saya cuma tidak ingin Anda memukul orang."

Melkianus tertawa.

"Orang?"

Ia menunjuk Martha.

"Dia punya kewajiban."

"Dia tetap manusia."

"Kalian semua sekarang bicara seperti ini."

Melkianus menatap seluruh pekerja.

"Karena dia."

Martha menjawab,

"Bukan."

Ia melihat Berto.

Kemudian Lusia.

Yohan.

Tomas.

Daniel.

"Mereka bicara karena mereka sudah terlalu lama diam."

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

"Benar."

Semua menoleh.

Yafet berdiri di luar pagar.

Martha membeku.

"Ayah?"

Yafet masuk perlahan.

Wajahnya terlihat lebih tua daripada saat terakhir Martha melihatnya.

Ia berdiri di depan semua orang.

Melkianus mengerutkan kening.

"Kau datang untuk apa?"

Yafet menatapnya.

"Untuk anakku."

Martha menahan napas.

Yafet berjalan mendekat.

Ia berdiri di samping Martha.

"Utang kami dua kerbau."

Melkianus tidak menjawab.

"Dan sudah lunas."

"Tidak sesederhana itu."

"Memang tidak."

Yafet menatapnya.

"Karena setelah lunas, kau menemukan alasan lain untuk mempertahankan anakku."

Melkianus mengepalkan tangan.

"Kau menyerahkan dia."

Yafet menunduk.

"Ya."

"Jadi jangan sekarang bertindak seperti ayah yang tidak pernah meninggalkannya."

Kata-kata itu membuat Yafet terdiam.

Martha menatap ayahnya.

Ada rasa sakit di wajah lelaki itu.

"Aku salah," kata Yafet.

Suasana sunyi.

"Aku menyerahkan anakku karena takut."

Martha menunduk.

Yafet melanjutkan,

"Aku pikir kalau aku menyerahkan dia, utang kami selesai."

Ia menatap Melkianus.

"Ternyata tidak."

Kemudian ia menatap semua pekerja.

"Dan ternyata bukan hanya anakku."

Yafet menarik napas.

"Anak-anak kalian juga."

Martha menggenggam tangan ayahnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak merasa marah kepada lelaki itu.

Ia masih terluka.

Tetapi sekarang ia mengerti.

Ayahnya juga korban dari ketakutan yang sama.

Melkianus berbalik.

"Pertemuan selesai."

Nenek Elisabet berkata,

"Belum."

Melkianus menatapnya.

"Apa lagi?"

"Daniel."

Anak itu yang sejak tadi berdiri di belakang Martha menatap Nenek Elisabet.

"Apa?"

Nenek Elisabet memandangnya.

"Berapa umurmu?"

"Sepuluh."

"Utang keluargamu berapa?"

"Empat kerbau."

Nenek Elisabet mengangguk.

"Dan kau bekerja untuk melunasinya."

Daniel mengangguk.

Nenek Elisabet menatap semua orang.

"Apakah itu benar?"

Tidak ada jawaban.

Martha melangkah maju.

"Menurut aturan lama, tidak."

Nenek Elisabet mengangguk.

"Benar."

Melkianus membanting tangan ke meja.

"Jangan lakukan ini."

Nenek Elisabet menatapnya.

"Kau takut?"

"Ini bukan soal takut."

"Kalau begitu kenapa marah?"

Melkianus tidak menjawab.

Lihat selengkapnya