Pagi itu, sebelum matahari benar-benar naik, Martha sudah mendengar suara pukulan dari halaman belakang.
Bukan suara kayu patah.
Bukan suara pintu dibanting.
Itu suara telapak tangan mengenai tubuh seseorang.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kemudian suara seorang anak menahan tangis.
Martha langsung bangun.
Ia tidak perlu bertanya siapa yang sedang dipukul.
Di rumah Benu, suara seperti itu sudah menjadi bagian dari pagi.
Ia keluar dari gudang bersama Berto. Udara masih dingin dan tanah halaman basah oleh embun. Di dekat kandang, Tomas berlutut dengan kedua tangan menutupi kepala.
Melkianus berdiri di depannya.
Di sampingnya ada Yohan.
"Kau pikir kami akan membiarkan kau pergi begitu saja?" tanya Melkianus.
Tomas menggeleng.
"Aku cuma mau pulang."
Melkianus tertawa pendek.
"Pulang?"
"Ibu saya sakit."
"Semua orang punya alasan."
Tomas menunduk.
"Aku tidak kabur. Aku cuma—"
Pukulan kembali mendarat.
Martha mengepalkan tangan.
"Tuan."
Melkianus menoleh.
"Apa?"
Martha menatap Tomas.
"Dia masih anak-anak."
Melkianus mendekat.
"Dan kau?"
Martha diam.
"Kau juga dulu anak-anak," lanjut Melkianus. "Tapi kau tahu bagaimana membayar kewajiban."
Martha menahan napas.
"Dia tidak punya kewajiban kepada Anda."
Suasana halaman mendadak sunyi.
Berto menarik lengan Martha.
"Jangan."
Melkianus menatap Martha lama.
Kemudian ia tersenyum.
Senyum yang tidak menunjukkan kegembiraan.
"Kau semakin pintar."
Martha tidak menjawab.
"Atau semakin kurang ajar?"
"Terserah Anda menyebutnya apa."
Tamparan datang begitu cepat hingga kepala Martha terlempar ke samping.
Berto memejamkan mata.
Tomas menatap Martha dengan ketakutan.
Melkianus berkata pelan, "Itulah harga sebuah mulut yang tidak tahu tempat."
Martha merasakan panas di pipinya.
Ia mengusapnya.
Lalu menatap Melkianus kembali.
"Kalau satu pukulan bisa membuat saya diam, mungkin Anda harus memukul saya setiap hari."
Wajah Melkianus berubah.
Ia mengangkat tangan lagi.
Namun kali ini tangan Mikael menangkap pergelangan tangannya.
"Sudah."
Semua orang membeku.
Mikael berdiri di antara mereka.
Melkianus menatap keponakannya sendiri.
"Lepaskan."
Mikael tidak bergerak.
"Aku bilang lepaskan."
Mikael akhirnya melepaskan tangan itu.
Melkianus menarik napas panjang.
"Kau juga mulai ikut campur?"
Mikael menatap Tomas.
"Dia tidak melakukan kesalahan."
"Semua orang melakukan kesalahan."
"Kesalahannya hanya ingin pulang."
Melkianus mendengus.
"Dan kau mau membiarkan semua orang pulang?"
Mikael tidak menjawab.
Melkianus menunjuk Martha.
"Dia sudah memengaruhi kalian."
Tidak ada yang menjawab.
Berto menunduk.
Yohan berdiri kaku.
Lusia yang sedang membawa ember berhenti beberapa langkah dari mereka.
Daniel mengintip dari belakang pintu gudang.
Martha melihat semua wajah itu.
Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ketakutan tidak lagi hanya tinggal di dalam dirinya.
Ketakutan itu sudah berpindah.
Dari satu orang ke orang lain.
Dan sekarang, ketakutan itu mulai kehilangan kekuatannya karena mereka mulai berdiri bersama.
---
Siang harinya, Melkianus mengumpulkan seluruh pekerja.
Mereka berdiri di halaman.
Tidak ada yang duduk.
Tidak ada yang boleh berbicara.
Di depan mereka, Melkianus membawa buku baru.
Buku yang sejak beberapa minggu terakhir selalu berada di tangannya.
Buku utang.
Buku yang bisa mengubah hidup seseorang hanya dengan satu garis tinta.
"Martha Neno."
Martha maju.
"Ya."
Melkianus membuka halaman.
"Pembangkangan."
Ia menulis.
"Berbicara tanpa izin."
Ia menulis lagi.
"Menentang perintah."
Martha menatap halaman itu.
"Dan sekarang," kata Melkianus, "menghasut pekerja lain."
Martha tertawa kecil.
"Saya menghasut?"
"Ya."
"Karena saya bilang manusia bukan kerbau?"
Melkianus menutup buku.
"Kau tidak punya hak menentukan apa yang menjadi aturan."
"Kalau begitu siapa yang punya hak?"
"Adat."
Martha menatap Nenek Elisabet yang berdiri di belakang Melkianus.
"Nenek?"
Nenek Elisabet tidak menjawab.
Martha melanjutkan.
"Nenek pernah bilang aturan lama tidak seperti ini."
Melkianus menoleh kepada Nenek Elisabet.
"Nenek?"
Perempuan tua itu menarik napas.
"Jangan bawa saya ke dalam ini."
"Tapi Nenek tahu."
"Diam, Martha."
Martha menggeleng.
"Tidak."
Itu satu kata sederhana.
Namun semua orang mendengarnya.
"Tidak," ulang Martha.
"Aku sudah terlalu lama diam."
Melkianus melangkah mendekatinya.
"Kau mau apa?"
"Aku mau buku itu dibuka di depan semua orang."
Melkianus tertawa.
"Untuk apa?"
"Supaya semua orang tahu utang mereka."
"Semua orang sudah tahu."
"Tidak."
Martha menunjuk buku itu.
"Yang mereka tahu hanya angka yang Anda tulis."
Melkianus mengangkat alis.
"Dan?"
"Mana bukti utang awal mereka?"
Tidak ada jawaban.
"Mana bukti bahwa utang itu belum lunas?"
Tetap diam.
"Mana bukti bahwa anak-anak harus menggantikan utang orang tua?"
Martha menatap Nenek Elisabet.
"Nenek sudah bilang tidak ada."
Nenek Elisabet menundukkan kepala.
Melkianus membanting buku itu ke meja.
"CUKUP!"
Suara itu membuat Daniel menangis kecil.
Yuliana yang berdiri di teras langsung menatap anak itu.
Martha melihatnya.
Ia kemudian menatap Melkianus.
"Kenapa marah?"
"Karena kau tidak tahu diri."
"Atau karena saya bertanya?"
Melkianus melangkah maju.
Namun kali ini ia tidak memukul.
Ia hanya berkata, "Mulai hari ini, semua orang yang bekerja di rumah ini akan mendapat pengurangan makanan."
Martha terdiam.
"Kenapa?"
"Karena kalian tidak tahu bersyukur."
Berto mengangkat kepala.
"Tapi kami sudah bekerja dari pagi."
Melkianus menatapnya.
"Kau mau ikut Martha?"
Berto langsung diam.
"Bagus."
Melkianus berbalik.
"Mulai besok, jatah beras dikurangi."
Lusia mengangkat suara.
"Kami tidak akan kuat bekerja."
Melkianus menoleh.
"Kalau tidak kuat, jangan makan."
Ia pergi.
Tidak ada yang bergerak.
Beberapa saat kemudian, Yuliana berkata pelan, "Kembali bekerja."
Martha menatapnya.
"Bu."
Yuliana berhenti.
"Apakah Ibu setuju?"
Yuliana tidak menjawab.
"Apakah Ibu benar-benar percaya kami pantas diperlakukan seperti ini?"
Yuliana menunduk.
"Saya tidak bisa mengubahnya."
Martha mengangguk.
"Itu berbeda dengan tidak mau."
Yuliana pergi.
---
Malam datang lebih cepat dari biasanya.
Di gudang, mereka hanya mendapat sedikit makanan.
Singkong rebus.
Tidak ada lauk.
Daniel memegang potongan singkong kecil dengan kedua tangannya.
"Ini saja?"
Berto mengangguk.
"Habiskan."
Daniel menggigit sedikit.
Kemudian berhenti.
"Kalau besok lebih sedikit?"
Martha menatapnya.
"Kita bagi."
"Tapi nanti Kak Martha tidak makan."
Martha tersenyum.
"Aku sudah biasa."
Daniel menggeleng.
"Aku tidak mau."
"Daniel."
"Aku tidak mau Kakak tidak makan."
Martha terdiam.
Anak itu lalu membagi singkongnya menjadi dua.
"Setengah."
Martha menerima potongan itu.
Ia tidak langsung memakannya.
Ia hanya memandangi Daniel.
Dulu, ketika ia berumur delapan tahun, tidak ada yang membagi makanan untuknya.
Tidak ada yang bertanya apakah ia lapar.