Satu Kerbau

Bear Winter
Chapter #9

Buku yang Dibakar

Pagi belum sepenuhnya terang ketika Martha mendengar suara orang-orang berkumpul di halaman.


Ia membuka mata.


Tidak ada yang membangunkannya.


Tidak ada yang memanggil.


Tetapi suara itu berbeda dari biasanya.


Terlalu banyak.


Terlalu ramai.


Berto yang tidur di dekat pintu juga terbangun.


"Ada apa?"


Martha duduk.


"Tidak tahu."


Dari celah papan gudang, cahaya matahari mulai masuk.


Martha berdiri dan melihat keluar.


Halaman rumah Benu dipenuhi orang.


Bukan hanya pekerja.


Ada warga desa.


Beberapa orang tua.


Beberapa kepala keluarga.


Dan di tengah mereka berdiri Melkianus.


Di sampingnya ada Nenek Elisabet.


Martha langsung merasa ada sesuatu yang buruk.


"Jangan keluar dulu," bisik Berto.


Martha menatapnya.


"Kalau kita sembunyi, mereka akan bilang kita bersalah."


Berto menghela napas.


"Kalau kita keluar, kita mungkin dipukul."


Martha tersenyum tipis.


"Sejak kapan itu membuat kita aman?"


Ia membuka pintu.


Berto mengikutinya.


Satu per satu pekerja keluar.


Lusia.


Yohan.


Tomas.


Daniel.


Mikael sudah berada di halaman.


Ketika Martha datang, ia menatapnya.


"Melkianus memanggil pertemuan."


"Kenapa?"


"Katanya untuk menyelesaikan masalah."


Martha memandang orang-orang yang berkumpul.


"Masalah yang mana?"


Mikael tidak menjawab.


Martha sudah tahu.


Masalahnya adalah mereka.


---


Melkianus berdiri di atas tangga rumah.


Ia memandang seluruh orang yang hadir.


"Kita berkumpul hari ini," katanya, "karena ada orang-orang yang mencoba merusak adat."


Martha langsung tahu siapa yang dimaksud.


Beberapa warga berbisik.


Melkianus melanjutkan.


"Selama bertahun-tahun, keluarga kita hidup berdasarkan aturan yang sama. Utang dibayar. Kewajiban dijalankan. Tidak ada yang berubah."


Martha mengangkat tangan.


Melkianus menatapnya.


"Jangan."


Martha tetap mengangkatnya.


"Saya mau bicara."


"Kau tidak diminta."


Martha menurunkan tangannya.


Lalu berkata keras,


"Tapi saya tetap punya mulut."


Beberapa orang terdiam.


Melkianus menatapnya tajam.


"Ini bukan tempat untuk kurang ajar."


"Kalau begitu jangan sebut ini pertemuan."


Melkianus turun dari tangga.


Mikael maju sedikit.


Namun Martha menggeleng.


Ia tidak ingin Mikael berbicara.


Kali ini ia sendiri.


Melkianus berhenti beberapa langkah di depannya.


"Kau pikir karena beberapa orang mulai mendengarkanmu, kau bisa mengubah semuanya?"


Martha menjawab,


"Saya tidak tahu."


"Kalau begitu?"


"Saya cuma ingin bertanya."


"Pertanyaan apa?"


"Di mana bukti utang kami?"


Hening.


Martha melanjutkan.


"Di mana bukti bahwa keluarga saya masih berutang?"


Melkianus diam.


"Di mana bukti bahwa utang ayah saya diwariskan kepada saya?"


Tetap diam.


"Di mana bukti bahwa Daniel mewarisi utang orang tuanya?"


Daniel berdiri di belakang Martha.


Tubuhnya kecil.


Namun ia tidak bersembunyi.


Melkianus menatapnya.


"Anak itu tahu apa?"


Martha menjawab,


"Dia tahu dia lapar."


Beberapa orang menahan napas.


"Dia tahu dia dipaksa bekerja."


Melkianus mengepalkan tangan.


"Dan dia tahu bahwa ketika dia sakit, Anda bilang akan mencari anak lain untuk menggantikannya."


Suara bisik-bisik mulai terdengar.


Melkianus membentak,


"Diam!"


Namun kali ini warga tidak langsung diam.


Seorang lelaki tua dari belakang bertanya,


"Benarkah?"


Melkianus menoleh.


"Apa?"


"Benarkah anak itu sakit dan tetap dipaksa bekerja?"


Melkianus menjawab dingin,


"Dia bagian dari kewajiban keluarganya."


Lelaki itu mengerutkan dahi.


"Kewajiban anak?"


Melkianus tidak menjawab.


Martha memandang semua orang.


"Nah."


Ia menarik napas.


"Pertanyaan itu yang selama ini tidak boleh kita tanyakan."


---


Nenek Elisabet akhirnya maju.


Semua orang memandangnya.


Melkianus berbisik,


"Nenek."


Perempuan tua itu tidak menoleh.


Ia berdiri di samping Martha.


"Sudah cukup."


Melkianus menatapnya.


"Jangan."


Nenek Elisabet menggeleng.


"Sudah terlalu lama."


"Jangan lakukan ini."


"Aku sudah melakukannya selama bertahun-tahun."


Nenek Elisabet menatap warga.


"Dan aku salah."


Suasana langsung berubah.


Tidak ada yang berbicara.


"Aku menjaga aturan," katanya, "tetapi aku tidak lagi menjaga kebenaran."


Melkianus melangkah maju.


"Nenek tidak tahu apa yang Nenek bicarakan."


"Aku tahu."


Nenek Elisabet menunjuk rumah.


"Aku tahu buku-buku itu."


Melkianus diam.


"Aku tahu utang lama."


Ia menunjuk Martha.


"Aku tahu keluarganya hanya memiliki utang dua kerbau."


Martha menahan napas.


"Dan aku tahu utang itu sudah lunas."


Beberapa orang mulai bersuara.


"Lunas?"


"Sejak kapan?"


"Kenapa Martha masih di sini?"


Melkianus membentak,


"Karena aturan!"


Nenek Elisabet menatapnya.


"Aturan yang mana?"


Melkianus terdiam.


"Aturan lama tidak pernah mengatakan manusia menjadi pembayaran seumur hidup."


Martha menatap Nenek Elisabet.


"Katakan semuanya."


Nenek Elisabet menoleh.


"Aku akan."


---


Nenek Elisabet meminta sebuah kursi.


Ia duduk.


Wajahnya tampak lebih tua dari biasanya.


"Ketika aku masih kecil," katanya, "orang yang memiliki utang memang harus bekerja."


Seorang warga mengangguk.


"Itu yang kita tahu."


"Tapi pekerjaannya punya akhir."


Semua orang diam.


"Kalau utang dua kerbau, maka setelah nilainya dianggap lunas, kewajiban berakhir."


Seorang lelaki menyela,


"Kalau begitu kenapa sekarang berbeda?"


Nenek Elisabet menatap Melkianus.


"Karena orang-orang mulai menambahkan biaya."


"Biaya apa?"


"Makanan."


"Tempat tinggal."


"Pakaian."


"Obat."


"Kesalahan."


"Kerusakan."


"Anak."


"Dan kemudian..."


Nenek Elisabet berhenti.


"Manusia itu sendiri."


Tidak ada yang berbicara.


Martha merasa tenggorokannya tercekat.


Nenek Elisabet melanjutkan.


"Sedikit demi sedikit, orang yang awalnya hanya berutang kerbau akhirnya dianggap berutang hidup."


Seseorang di belakang berbisik,


"Itu bukan adat."


Nenek Elisabet mengangguk.


"Bukan."


Melkianus menatapnya dengan marah.


"Nenek sudah tua. Jangan membuat orang bingung."


Nenek Elisabet berdiri.


"Justru karena aku tua, aku tahu bagaimana semuanya berubah."


Melkianus menunjuk Martha.


"Dia yang membuat Nenek seperti ini."


Nenek Elisabet menjawab,


"Bukan."


Ia menatap Martha.


"Dia hanya membuatku malu."


Martha diam.


"Karena seorang anak yang dulu dihargai satu kerbau justru punya keberanian lebih besar daripada orang tua yang menjaga kebohongan selama puluhan tahun."


Tidak ada yang tertawa.


Lihat selengkapnya