Pagi itu, desa tidak lagi memiliki satu suara.
Dari ujung jalan menuju rumah Benu, orang-orang datang dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka tidak berjalan bersama. Mereka tidak saling menyapa seperti biasanya. Bahkan ketika berpapasan, sebagian hanya menundukkan kepala.
Ada yang datang untuk mendukung Martha.
Ada yang datang untuk melihat.
Ada pula yang datang karena takut jika tidak datang, nama mereka akan dicatat sebagai orang yang menentang Melkianus.
Tetapi ada satu hal yang sama di antara mereka.
Semua orang tahu bahwa sesuatu telah berubah.
Di dinding rumah Benu masih tertulis dengan kapur:
KAMI BUKAN UTANG.
KAMI BUKAN KERBAU.
KAMI MANUSIA.
Tulisan itu sudah beberapa kali dihapus.
Namun selalu ditulis kembali.
Pagi itu, seseorang menambahkan kalimat baru di bawahnya.
DAN ANAK-ANAK KAMI BUKAN WARISAN UTANG.
Martha berdiri di depan tulisan itu.
Ia tidak tahu siapa yang menulisnya.
Tetapi ia tahu kalimat itu lebih penting daripada namanya sendiri.
Daniel berdiri di sampingnya.
"Kak."
"Ya?"
"Kalau aku punya anak nanti, dia tidak jadi pekerja juga?"
Martha menatap wajah anak itu.
" tidak."
Daniel tersenyum.
"Janji?"
Martha mengangguk.
"Janji."
Dari belakang mereka terdengar suara seseorang.
"Jangan memberi janji yang belum tentu bisa kau tepati."
Martha menoleh.
Melkianus berdiri di teras.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Ia mengenakan pakaian terbaiknya pagi itu.
Di sampingnya berdiri Yuliana.
Nenek Elisabet berada beberapa langkah di belakang mereka.
Martha memandang Melkianus.
"Saya akan menepatinya."
Melkianus turun dari teras.
"Kau yakin?"
"Ya."
"Bagaimana?"
Martha tidak menjawab.
Melkianus tersenyum.
"Itulah masalahmu. Kau punya keberanian, tetapi tidak punya kuasa."
Martha menatapnya.
"Mungkin."
"Dan tanpa kuasa, keberanian hanya akan membuatmu mati lebih cepat."
Mikael muncul di samping Martha.
"Jangan ancam dia."
Melkianus menoleh.
"Aku tidak mengancam."
Ia tersenyum.
"Aku mengingatkan."
Martha berkata,
"Orang yang hidup dengan ancaman biasanya mengira ancaman adalah satu-satunya bahasa yang dimengerti orang lain."
Melkianus tidak menjawab.
Ia hanya memandang dinding.
Kemudian berkata,
"Hari ini akan ada pertemuan besar."
Martha mengangguk.
"Saya tahu."
"Semua keluarga akan datang."
"Bagus."
"Kita akan menentukan apakah aturan lama masih berlaku."
Martha menatapnya.
"Atau apakah Anda masih bisa menyebut perbudakan sebagai adat?"
Melkianus mengeraskan rahang.
"Jaga mulutmu."
Martha tersenyum tipis.
"Mulut saya sudah terlalu lama dijaga orang lain."
---
Pertemuan dimulai menjelang siang.
Lapangan desa penuh.
Tidak ada tempat yang benar-benar kosong.
Orang-orang duduk berkelompok sesuai keluarga.
Di satu sisi mereka yang mendukung Melkianus.
Di sisi lain mereka yang mulai berani mempertanyakan aturan.
Di tengah, orang-orang yang belum menentukan sikap.
Martha berdiri bersama Mikael, Berto, Lusia, Yohan, Tomas, dan Daniel.
Nenek Elisabet duduk di depan.
Petrus juga datang.
Ia membawa sebuah tas tua berisi salinan dokumen.
Seorang lelaki tua yang menjadi pemimpin pertemuan berdiri.
Namanya tidak penting bagi Martha.
Yang penting adalah apa yang akan ia katakan.
"Kita berkumpul," katanya, "karena desa ini terpecah."
Beberapa orang mengangguk.
"Kita tidak bisa membiarkan perselisihan terus berjalan."
Melkianus berdiri.
"Perselisihan ini dimulai karena beberapa orang menolak kewajiban."
Martha langsung tahu ke mana arah pembicaraan.
Namun ia membiarkan lelaki tua itu melanjutkan.
"Melkianus, apakah benar ada pekerja yang menolak membayar utang?"
Melkianus mengangguk.
"Benar."
"Apakah benar buku catatan dibakar?"
Melkianus diam sesaat.
"Catatan itu sudah rusak dan tidak lagi berguna."
Petrus tertawa pendek.
"Menarik."
Semua orang menoleh.
Petrus berdiri.
"Buku yang memuat utang mereka tiba-tiba tidak berguna setelah mereka mulai bertanya."
Melkianus menatapnya.
"Jangan ikut campur."
Petrus mengangkat tasnya.
"Aku justru datang untuk ikut campur."
Ia mengeluarkan beberapa lembar.
"Karena aku punya salinan."
Kerumunan langsung ramai.
Melkianus menatap kertas-kertas itu.
"Salinan tidak sah."
Petrus mengangguk.
"Kalau begitu mari kita periksa."
Ia menyerahkan dokumen kepada lelaki tua yang memimpin pertemuan.
Lelaki itu membaca.
Kemudian menyerahkan kepada orang di sampingnya.
Satu per satu.
Suara bisik-bisik semakin keras.
"Ini nama keluargaku."
"Ini benar."
"Di sini tertulis lunas."
"Kenapa anakku masih bekerja?"
Melkianus membentak,
"Jangan percaya kertas lama!"
Martha berdiri.
"Kalau begitu perlihatkan kertas baru."
Melkianus menatapnya.
"Kau lagi."
"Ya."
Martha maju.
"Anda mengatakan utang kami masih ada."
"Benar."
"Mana bukti?"
Melkianus tidak menjawab.
"Anda mengatakan keluarga saya masih berutang."
"Benar."
"Mana bukti?"
Ia diam.
"Anda mengatakan Daniel mewarisi utang keluarganya."
Melkianus mulai kehilangan kesabaran.
"Sudah cukup!"
Martha tidak berhenti.
"Mana aturannya?"
Tidak ada jawaban.
"Mana tulisan yang menyatakan anak harus mewarisi utang?"
Tetap tidak ada.
"Mana?"
Martha memandang seluruh lapangan.
"Selama bertahun-tahun kita disuruh takut pada aturan yang tidak pernah diperlihatkan."
Ia mengangkat salah satu salinan.
"Tapi ketika kami meminta bukti, buku dibakar."
Beberapa orang mulai mengangguk.
Martha melanjutkan.
"Kalau adat memang benar, kenapa harus disembunyikan?"
---
Seorang perempuan tua dari kerumunan tiba-tiba berdiri.
"Anakku."
Martha menoleh.
Perempuan itu menatap Melkianus.
"Anakku bekerja di rumahmu."
Melkianus mengangguk.
"Ya."
"Utang kami tiga kerbau."
"Benar."
"Sudah berapa lama?"
"Enam belas tahun."
Perempuan itu menarik napas.
"Anakku baru berumur tujuh tahun ketika dia diserahkan."
Beberapa orang menghela napas.
"Dia sekarang dua puluh tiga."
Melkianus berkata,
"Utangnya belum selesai."
Perempuan itu bertanya,
"Kenapa?"
Melkianus menjawab,
"Biaya hidup."
"Berapa?"
Melkianus diam.
"Berapa biaya hidup anakku selama enam belas tahun?"
Tidak ada jawaban.
"Berapa?"
Perempuan itu mulai menangis.
"Kenapa tidak pernah kau katakan?"
Melkianus menatapnya.
"Karena kau tidak pernah bertanya."
Perempuan itu tertawa pahit.
"Kami tidak pernah tahu bahwa kami boleh bertanya."
Martha memejamkan mata.
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Kami tidak pernah tahu bahwa kami boleh bertanya.
Begitulah sistem bekerja.
Bukan hanya dengan kekerasan.
Tetapi dengan membuat orang percaya bahwa bertanya adalah dosa.
---
Seorang lelaki lain berdiri.
"Aku mendukung Melkianus."
Kerumunan langsung sunyi.
Lelaki itu bernama Stefanus.
Ia memiliki dua pekerja dari keluarga yang berutang kepadanya.
"Aku punya utang orang lain," katanya. "Mereka bekerja untuk keluargaku. Kalau aturan ini dihentikan, siapa yang membayar kerugian kami?"
Martha menatapnya.
"Kerugian apa?"
"Kerbau."
"Berapa?"
"Empat."
"Sudah dibayar?"
Stefanus diam.
"Berapa tahun mereka bekerja?"
"Delapan."
"Berapa nilai kerja mereka selama delapan tahun?"
Stefanus tidak menjawab.
Martha melanjutkan,
"Kalau mereka sudah membayar lebih dari utang awal, apa yang masih Anda tuntut?"
Stefanus marah.
"Kau tidak tahu urusan kami."
Martha mengangguk.
"Benar."
Ia menunjuk Petrus.
"Tapi karena itu kita harus membuka catatan."
Stefanus menatapnya.
"Kau mau mengambil hak kami?"
Martha menjawab,