Malam itu, cahaya obor semakin dekat.
Martha berdiri di jalan tanah bersama Mikael, Berto, Yohan, Lusia, Tomas, Daniel, dan puluhan warga desa yang memilih tinggal.
Tidak ada yang membawa senjata.
Tidak ada yang mengenakan pakaian perang.
Mereka hanya membawa apa yang mereka punya.
Kertas.
Kapur.
Catatan.
Dan keberanian yang belum pernah mereka miliki sebelumnya.
Di ujung jalan, Melkianus muncul.
Ia berjalan paling depan.
Di belakangnya ada beberapa lelaki dari keluarga-keluarga yang masih mendukungnya. Sebagian Martha kenal. Sebagian tidak.
Ada pula orang-orang dari desa lain.
Mereka datang membawa obor.
Melkianus berhenti beberapa meter di depan Martha.
"Jadi ini pilihanmu?"
Martha mengangguk.
"Ini pilihan kami."
Melkianus melihat kerumunan di belakangnya.
"Berapa banyak dari kalian yang benar-benar tahu apa yang kalian lakukan?"
Tidak ada yang menjawab.
Melkianus tertawa.
"Kalian pikir kebebasan bisa membuat kalian makan?"
Seorang perempuan dari belakang menjawab,
"Setidaknya kami bisa makan tanpa harus menyerahkan anak kami."
Beberapa orang mengangguk.
Melkianus menatapnya.
"Kalian semua akan menyesal."
Martha maju.
"Ancaman lagi?"
"Ini bukan ancaman."
"Lalu apa?"
"Peringatan."
Martha tersenyum.
"Kami sudah terlalu lama hidup dalam peringatan."
Melkianus menatapnya tajam.
"Kau pikir aku tidak bisa menghentikanmu?"
Martha menjawab,
"Saya tahu Anda bisa mencoba."
"Dan?"
"Dan sekarang saya tahu Anda tidak bisa menghentikan semuanya."
Melkianus melihat ke belakang Martha.
Semakin banyak orang berdiri.
Semakin banyak nama.
Semakin banyak cerita.
Untuk pertama kalinya, ia tidak sedang berhadapan dengan seorang anak perempuan yang bisa ia pukul.
Ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang mulai memahami bahwa mereka tidak sendirian.
---
"Besok pagi," kata Melkianus, "semua pekerja harus kembali."
Tidak ada jawaban.
"Aku tidak akan mengulang."
Martha berkata,
"Kalau mereka kembali, atas dasar apa?"
Melkianus menunjuknya.
"Jangan mulai lagi."
"Atas dasar apa?"
"Kewajiban."
"Utang?"
"Ya."
"Mana buktinya?"
Melkianus diam.
Martha mengangkat selembar kertas.
"Kami punya salinan."
Melkianus mendengus.
"Salinan palsu."
Petrus yang berdiri di belakang Martha berkata,
"Kalau palsu, periksa."
Melkianus menoleh.
Petrus melangkah maju.
"Besok kita bawa semuanya ke kota."
Melkianus langsung menegang.
"Kau tidak akan melakukan itu."
"Kenapa?"
"Karena ini urusan desa."
Petrus tertawa.
"Begitu manusia dipaksa bekerja seumur hidup, kau menyebutnya urusan desa."
Ia menunjuk Martha.
"Tapi ketika orang mulai meminta bantuan dari luar, tiba-tiba kau takut."
Melkianus tidak menjawab.
Martha melihat perubahan kecil di wajahnya.
Bukan takut.
Belum.
Tetapi khawatir.
Dan kekhawatiran itu membuat Martha semakin yakin.
Mereka harus pergi ke kota.
Mereka harus membawa semua bukti.
Sebelum semuanya dihancurkan.
---
Malam itu, mereka tidak tidur.
Di sebuah rumah kosong milik warga yang mendukung mereka, semua dokumen disusun.
Nama.
Tanggal.
Utang.
Lama bekerja.
Kesaksian.
Semua dibuat salinan.
Petrus memeriksa satu per satu.
"Yang ini dua salinan."
"Yang ini tiga."
"Yang ini jangan dibawa."
Martha menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena ini satu-satunya."
Martha mengangguk.
"Disimpan di mana?"
"Tempat aman."
"Di mana?"
Petrus tersenyum.
"Kalau kau tahu, tempat itu tidak aman lagi."
Martha tertawa kecil.
Untuk sesaat suasana menjadi ringan.
Namun hanya sesaat.
Karena dari luar terdengar suara orang berteriak.
Semua langsung diam.
Mikael berdiri.
"Ada apa?"
Berto melihat dari jendela.
"Tidak ada."
"Yakin?"
"Ada orang lewat."
Martha menarik napas.
Mereka kembali bekerja.
Tetapi semua orang tahu.
Malam itu mereka sedang berpacu dengan waktu.
---
Menjelang tengah malam, Daniel tertidur di lantai.
Martha melihatnya.
Anak itu masih menggenggam kapur.
Martha mengambilnya perlahan.
Ia meletakkan kapur di samping kepalanya.
Mikael duduk di dekat pintu.
"Kau tidak tidur?"
"Belum."
"Kenapa?"
Martha memandang Daniel.
"Aku takut."
Mikael mengangguk.
"Karena besok?"
"Karena masa depan."
Mikael diam.
Martha melanjutkan,
"Kalau kita gagal, Daniel akan tetap menjadi pekerja."
"Belum tentu."
"Kalau aku gagal, dia mungkin akan dianggap anak dari satu kerbau."
Mikael menatapnya.
"Dan kalau kita berhasil?"
Martha tersenyum.
"Dia akan menjadi Daniel."
Mikael ikut tersenyum.
"Nama saja?"
"Untuk permulaan, nama sudah cukup."
---
Pagi datang bersama hujan.
Jalan menuju kota berubah menjadi lumpur.
Mereka tetap berangkat.
Martha membawa satu tas.
Mikael membawa dokumen.
Berto membawa daftar nama.
Yohan dan Lusia membawa kesaksian.
Tomas berjalan di samping Daniel.
Petrus membawa dokumen paling penting.
Nenek Elisabet ikut.
Mereka berjalan dalam kelompok.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.
Namun mereka tahu mereka tidak bisa kembali.
Di tengah perjalanan, seorang lelaki datang berlari.
"Martha!"
Martha berhenti.
"Ada apa?"
"Melkianus menyuruh orang menutup jalan."
"Jalan mana?"
"Jalan utama."
Mikael menatap Petrus.
"Dia tahu."
Petrus mengangguk.
"Sudah kuduga."
"Jadi?"
Petrus menunjuk jalan kecil di antara kebun.
"Kita lewat sana."
Mereka berbelok.
Jalan itu sempit.
Licin.
Beberapa kali mereka hampir jatuh.
Namun tidak ada yang mengeluh.
Sampai tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Berhenti!"
Semua menoleh.
Lima lelaki berdiri di jalan.
Melkianus tidak ada.
Salah satu dari mereka berkata,
"Kalian tidak boleh lewat."
Martha maju.
"Kenapa?"
"Perintah."
"Dari siapa?"
"Melkianus."
Martha mengangguk.
"Kalau begitu sampaikan kepadanya kami akan tetap lewat."
Lelaki itu maju.
"Jangan keras kepala."
Martha menatapnya.
"Kau kenal aku?"
"Tahu."
"Kalau begitu kau tahu aku tidak akan kembali."
Lelaki itu melihat orang-orang di belakang Martha.
Kemudian menatap dokumen yang mereka bawa.
"Berikan."
Martha menggenggam tasnya.
"Tidak."
"Jangan membuat masalah."
Martha menjawab,
"Masalah sudah ada sejak kami dijadikan barang."
Lelaki itu maju lagi.
Mikael berdiri di samping Martha.
Namun sebelum terjadi apa-apa, seorang perempuan tua dari kelompok mereka maju.
Ia adalah ibu dari salah satu pekerja di rumah Benu.
"Kalau mau ambil dokumen itu," katanya, "ambil dari kami semua."
Lelaki itu terdiam.
Perempuan lain maju.
"Saya juga."
Kemudian lelaki.
Kemudian anak muda.
Satu demi satu.
Mereka berdiri membentuk barisan.
Lelaki yang menghadang mereka melihat jumlah orang.
Tangannya turun.
"Pergilah."
Martha mengangguk.
"Terima kasih."
Lelaki itu menatapnya.
"Aku bukan membantumu."
"Kalau begitu?"
Ia menunduk.
"Aku cuma tidak mau menjadi seperti mereka."
Martha berjalan melewatinya.
Kalimat itu terus tinggal di kepalanya.
Tidak semua orang yang diam berarti setuju.
Kadang-kadang mereka hanya belum berani berdiri.
---
Menjelang sore, mereka tiba di kota.
Bagi Martha, kota terasa seperti dunia lain.
Orang-orang berjalan tanpa mengenal mereka.
Kendaraan berlalu.
Toko-toko terbuka.
Anak-anak sekolah tertawa.
Tidak ada yang tahu bahwa di sebuah desa yang jauh, manusia masih dihitung dengan kerbau.
Martha berdiri di pinggir jalan.
"Kenapa?"
Mikael bertanya.
"Orang-orang di sini terlihat biasa."
"Mereka memang biasa."
"Mereka tidak tahu."
"Belum."
Martha mengangguk.
"Berarti kita harus membuat mereka tahu."
---
Petrus membawa mereka ke sebuah kantor kecil.
Di sana mereka bertemu seorang perempuan bernama Helena.
Ia bekerja sebagai pendamping masyarakat dan terbiasa menangani persoalan keluarga serta sengketa hak.
Helena mendengarkan semuanya.
Tidak memotong.
Tidak tertawa.
Tidak mengatakan bahwa mereka terlalu muda untuk memahami adat.
Setelah membaca dokumen, ia bertanya,
"Siapa yang pertama kali menyerahkan Martha?"
Martha menjawab,
"Ayah saya."
"Kenapa?"
"Utang."
"Berapa?"
"Dua kerbau."
Helena menatap dokumen.
"Dan kapan lunas?"
Petrus menjawab,
"Bertahun-tahun lalu."
Helena membaca lagi.
"Kenapa dia masih bekerja?"
Martha menjawab,
"Karena katanya kewajiban diwariskan."
Helena menatapnya.
"Dan siapa yang menulis aturan itu?"
Martha diam.
"Tidak ada."
Helena mengangguk.
"Itulah masalahnya."
Ia membaca dokumen lain.
"Anak sepuluh tahun?"
Daniel mengangkat tangan.
Helena melihatnya.
"Namamu?"
"Daniel."
"Berapa umur?"
"Sepuluh."
"Berapa lama bekerja?"