Satu Kerbau

Bear Winter
Chapter #12

Harga Manusia

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, halaman rumah Benu tidak dipenuhi suara perintah.


Tidak ada teriakan Melkianus.


Tidak ada bunyi ember dilempar.


Tidak ada suara kaki berlari karena seseorang takut terlambat membawa kayu atau air.


Yang terdengar hanya angin.


Angin dari bukit turun perlahan, melewati pohon-pohon lontar, membawa bau tanah basah dan asap dapur dari rumah-rumah yang mulai berani menyalakan tungku tanpa meminta izin kepada siapa pun.


Martha berdiri di depan rumah Benu.


Rumah itu masih sama.


Dinding kayunya masih menyimpan bekas pukulan dan goresan. Tiang-tiangnya masih berdiri kokoh. Gudang di belakang masih memiliki pintu yang dulu berkali-kali dikunci dari luar.


Tetapi sesuatu telah berubah.


Pintu gudang itu terbuka.


Tidak ada lagi rantai.


Tidak ada lagi palang kayu.


Martha memandang ke dalam.


Kosong.


Benar-benar kosong.


Di salah satu dinding, bekas tulisan mereka masih terlihat samar.


Nama-nama yang pernah mereka tulis dengan arang.


Berto.


Lusia.


Yohan.


Tomas.


Daniel.


Nama Martha sendiri masih ada di sana.


MARTHA NENO.


Di bawahnya pernah tertulis:


1 KERBAU.


Kini tulisan itu dicoret.


Bukan oleh Melkianus.


Bukan oleh siapa pun yang ingin menghapus mereka.


Martha sendiri yang mencoretnya beberapa hari sebelumnya.


Dengan satu garis panjang.


Kemudian di bawahnya ia menulis:


MANUSIA.


Mikael berdiri beberapa langkah di belakangnya.


"Masih ingin masuk?"


Martha menggeleng.


"Sudah terlalu lama aku berada di dalam."


Mikael tersenyum tipis.


"Kalau begitu, kita pergi."


Martha tidak langsung bergerak.


Ia memandangi gudang itu sekali lagi.


Di sanalah ia pernah tidur sebagai anak delapan tahun.


Di sanalah ia pernah menangis diam-diam agar tidak didengar.


Di sanalah ia pernah menyembunyikan singkong yang diberikan Mikael.


Di sanalah nama Daniel pertama kali ditulis.


Dan di sanalah mereka belajar bahwa ketakutan akan menjadi semakin besar jika tidak pernah disebut.


Martha menarik napas panjang.


"Aku kira kalau hari ini datang, aku akan merasa bahagia."


"Dan sekarang?"


"Aku merasa kosong."


Mikael menatapnya.


"Karena terlalu lama hidupmu diisi ketakutan."


Martha mengangguk.


"Barangkali."


Mereka berjalan meninggalkan halaman itu.


Untuk pertama kalinya, Martha berjalan tanpa membawa ember.


Tanpa kayu.


Tanpa perintah.


Tanpa seseorang yang menunggu untuk mengatakan bahwa langkahnya terlalu lambat.


---


Melkianus tidak langsung dihukum.


Itulah hal pertama yang dipelajari Martha tentang kebebasan.


Kebebasan tidak selalu datang bersama kemenangan yang besar.


Kadang-kadang kebebasan datang bersama antrean panjang, pemeriksaan dokumen, pertanyaan yang berulang, dan orang-orang yang tidak tahu apa yang terjadi bertahun-tahun di sebuah desa yang jauh dari kota.


Helena membantu mereka mengumpulkan semua bukti.


Nama.


Utang awal.


Catatan pembayaran.


Kesaksian.


Bekas luka.


Cerita.


Semua disusun.


Tidak ada lagi satu buku yang bisa membakar seluruh kebenaran.


Petrus memiliki salinan.


Nenek Elisabet memiliki salinan.


Martha memiliki salinan.


Helena membawa salinan lain.


Bahkan beberapa keluarga di desa mulai menyimpan dokumen mereka sendiri.


Mereka tidak lagi percaya bahwa sebuah kebenaran boleh disimpan hanya di satu tempat.


Melkianus masih mengatakan bahwa ia tidak melakukan apa-apa selain menjalankan tradisi.


Ia masih berkata bahwa semua orang telah menyetujui aturan itu.


Ia masih menyebut Martha sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih.


Namun kali ini, Martha tidak berdiri sendirian di hadapannya.


Lusia ada di sebelahnya.


Berto berdiri di belakang.


Yohan membawa dokumen.


Tomas menggenggam tangan Daniel.


Nenek Elisabet duduk di kursi kayu dengan wajah tua yang terlihat jauh lebih lelah daripada sebelumnya.


Yuliana juga datang.


Perempuan itu lama diam.


Sampai akhirnya ia berkata,


"Saya tahu."


Ruangan menjadi sunyi.


Melkianus menoleh tajam.


"Apa?"


"Saya tahu."


Yuliana menundukkan kepala.


"Saya tahu utang mereka sudah lama selesai."


Melkianus berdiri.


"Jangan bicara sembarangan."


"Saya tahu."


Kali ini suara Yuliana lebih kuat.


"Saya tahu sejak lama."


Melkianus menatap istrinya seperti melihat orang asing.


"Dan kau diam?"


Yuliana mengangguk.


"Iya."


"Kenapa?"


Yuliana menatap Martha.


"Karena saya takut."


Martha tidak menjawab.


Yuliana melanjutkan,


"Saya pikir selama saya tidak memukul mereka, saya bukan bagian dari semua ini."


Ia menarik napas.


"Ternyata saya salah."


Ruangan tetap sunyi.


"Saya memberi mereka makanan ketika kamu tidak melihat. Saya pernah memberikan obat kepada Lusia. Saya pernah membiarkan Martha duduk sebentar ketika kamu pergi."


Melkianus tertawa pendek.


"Dan kau merasa itu membuatmu baik?"


"Tidak."


Yuliana menggeleng.


"Itu yang membuat saya tahu saya tidak cukup baik."


Air mata mengalir di pipinya.


"Saya menolong mereka diam-diam, sementara saya membiarkan sistem yang menyakiti mereka tetap berjalan."


Martha memandangnya.


Ada banyak kemarahan yang masih tersisa.


Tetapi untuk pertama kalinya, Martha mengerti bahwa rasa bersalah juga memiliki wajah.


Wajah Yuliana.


Wajah Yafet.


Wajah Nenek Elisabet.


Bahkan wajah sebagian warga yang selama bertahun-tahun memilih menunduk.


Mereka semua memiliki kesalahan masing-masing.


Namun Martha juga belajar bahwa mengakui kesalahan bukan berarti menghapus akibatnya.


"Kalau begitu," kata Martha pelan, "jangan minta kami melupakan."


Yuliana mengangguk.


"Saya tidak akan."


"Jangan bilang semua sudah selesai hanya karena Melkianus diperiksa."


"Saya tidak akan."


"Karena masih ada orang di luar sana yang mengalami hal yang sama."


Yuliana mengusap air matanya.


"Saya tahu."


---


Beberapa bulan kemudian, keputusan pertama datang.


Bukan keputusan yang mengubah dunia.


Bukan pula keputusan yang membuat semua orang langsung bebas.


Tetapi cukup untuk membuat sebuah desa mulai bernapas dengan cara yang berbeda.


Catatan utang yang tidak memiliki dasar dinyatakan tidak berlaku.


Anak-anak tidak dapat dianggap mewarisi kewajiban orang tua mereka.


Tidak seorang pun boleh dipaksa bekerja hanya karena keluarganya memiliki utang.


Kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan nama adat.


Dan seseorang tidak dapat dimiliki oleh orang lain.


Kalimat terakhir itu membuat Martha membaca dokumen tersebut berkali-kali.


Seseorang tidak dapat dimiliki oleh orang lain.


Ia menyentuh kalimat itu dengan ujung jarinya.


"Sesederhana ini?" tanyanya.


Helena yang duduk di sampingnya tersenyum.


"Kalimatnya sederhana."


"Kenapa kami butuh waktu bertahun-tahun untuk sampai ke sini?"


Helena terdiam sebentar.


"Karena yang sulit bukan menulis kalimatnya."


"Lalu?"


"Membuat manusia percaya bahwa kalimat itu juga berlaku untuk dirinya sendiri."


Martha menatap halaman tersebut.


Ia teringat ketika berusia delapan tahun.


Ketika seseorang mengatakan nilainya satu kerbau.


Ketika semua orang tertawa saat ia bertanya apakah dirinya akan menjadi seperti kerbau.


Ia teringat ketika berusia lima belas tahun.


Ketika namanya masih berada di buku utang.


Ketika ia dianggap hanya tenaga.


Ketika tubuhnya tidak pernah dianggap miliknya sendiri.


Ia teringat Daniel.


Anak sepuluh tahun yang datang dengan mata ketakutan dan bertanya,


"Apakah aku kerbau?"


Martha memejamkan mata.


"Tidak," bisiknya.


Tidak pernah.


---


Melkianus akhirnya kehilangan kekuasaan yang selama ini ia anggap sebagai hak.


Ia harus menghadapi proses hukum dan pemeriksaan atas tindakan kekerasan serta pemaksaan yang dilakukan terhadap para pekerja.


Namun yang paling berat baginya bukan kehilangan rumah.


Bukan kehilangan tanah.


Bukan kehilangan orang-orang yang selama ini bekerja untuknya.


Yang paling berat adalah kehilangan kalimat yang dulu selalu membuat semua orang tunduk.


"Ini tradisi."


Kini ketika ia mengucapkannya, orang-orang bertanya,


"Tradisi yang mana?"


Ketika ia mengatakan,


"Begitulah aturan sejak dulu."

Lihat selengkapnya