Aku tidak tahu surat ini akan dibaca oleh siapa.
Mungkin oleh orang yang sudah tua.
Mungkin oleh anak kecil.
Mungkin oleh orang yang pernah seperti aku.
Mungkin juga oleh orang yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya takut pada suara langkah kaki.
Aku juga tidak pandai menulis.
Kadang hurufku masih salah.
Kadang aku lupa memberi titik.
Kadang aku menulis terlalu besar.
Tapi aku ingin menulis.
Karena dulu aku tidak boleh banyak bicara.
Jadi sekarang aku menulis.
Namaku Martha Neno.
Dulu orang bilang aku satu kerbau.
Aku tidak tahu apa artinya waktu itu.
Aku masih kecil.
Aku cuma tahu kerbau makan rumput.
Kerbau tinggal di kandang.
Kerbau dipukul kalau tidak menurut.
Aku takut.
Aku pernah bertanya kepada orang dewasa,
"Apakah aku akan jadi kerbau?"
Mereka tertawa.
Aku tidak ikut tertawa.
Karena aku sungguh takut.
Sekarang aku sudah besar.
Aku tahu aku bukan kerbau.
Aku tahu aku manusia.
Tapi aku juga tahu ada banyak orang yang dibuat merasa bukan manusia.
Mereka disuruh bekerja.
Mereka dimarahi.
Mereka dipukul.
Mereka tidak boleh pulang.
Mereka diberi makan kalau dianggap pantas.
Mereka diberi nama yang bukan nama mereka.
Mereka dihitung.
Aku ingin bilang kepada orang yang seperti itu:
Kamu manusia.
Tolong jangan lupa.
Walau ada orang yang bilang kamu tidak berharga.
Walau ada orang yang bilang kamu punya utang.
Walau ada orang yang bilang hidupmu milik mereka.
Kamu tetap manusia.
Namamu tetap namamu.
Tubuhmu tetap milikmu.
Hidupmu tetap milikmu.
Aku dulu tidak tahu itu.
Aku baru tahu setelah bertahun-tahun.
Dan aku berharap kamu tidak perlu menunggu selama aku.
---
Untuk orang yang pernah menyakitiku,
Aku juga ingin menulis untuk kalian.
Aku pernah sangat marah.
Aku pernah ingin membalas.
Aku pernah ingin melihat kalian merasakan sakit yang sama.
Aku pikir itu akan membuat hatiku lega.
Tapi ternyata tidak.
Kalau aku membenci kalian setiap hari, kalian tetap tinggal di kepalaku.
Aku tidak mau begitu.
Aku tidak mau hidupku masih menjadi milik kalian hanya karena aku terus mengingat keburukan kalian.
Aku tidak bilang kalian tidak salah.
Kalian salah.
Kalian tahu itu.
Aku juga tahu.
Tetapi aku tidak mau membawa kesalahan kalian ke hidup anakku.
Aku tidak mau anakku tumbuh sambil membawa marah yang bukan miliknya.
Jadi aku memilih pergi.
Bukan karena aku lupa.
Aku pergi karena aku ingin hidup.
---
Untuk ayahku,
Aku tahu Ayah takut waktu itu.
Aku tahu Ayah tidak punya banyak pilihan.
Tapi aku tetap pernah sedih.
Aku pernah bertanya,
"Kenapa Ayah tidak memilih aku?"
Sekarang aku tahu manusia kadang memilih karena takut.
Bukan karena tidak sayang.
Aku sudah memaafkan Ayah.
Tapi aku juga ingin Ayah tahu.
Anak tidak seharusnya menjadi pembayaran.
Kalau suatu hari ada orang datang kepada Ayah dan meminta anak sebagai pengganti utang, jangan berikan.
Lari.
Cari bantuan.
Berteriak.
Apa pun.
Tapi jangan berikan anak.
Karena anak bukan kerbau.
Anak bukan uang.
Anak bukan utang.
Anak adalah anak.
---
Untuk Ibu,
Terima kasih sudah tetap memanggil namaku.
Waktu banyak orang memanggilku dengan angka, Ibu masih berkata,
"Martha."
Aku dulu tidak mengerti kenapa Ibu selalu mengucapkan namaku pelan.
Sekarang aku mengerti.
Ibu sedang mengingatkanku.
Bahwa aku masih punya nama.
Bahwa aku masih punya rumah.
Bahwa aku masih punya seseorang yang memanggilku sebagai anak.
Terima kasih, Ibu.
Maaf karena dulu aku sering marah kepada Ibu.