Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #6

Apakah Kali Ini Aku Tidak Selamat?

Awan mendung menyapa di hari ini, seperti suasana hati Lyana yang sudah dipenuhi keraguan dan rasa bersalah. Setelah 1 hari menghindar karena diusir oleh Mamanya Gian , akhirnya Ia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, meskipun hanya sekadar menjenguk Gian dengan meminta maaf padanya. Hanya ingin memastikan pula bahwa laki-laki itu baik-baik saja.

Ia berdiri di depan rumah sakit sembari menggenggam kotak kecil berisi gantungan gitar mini dari kayu, hadiah kecil yang dulu pernah Gian lirik di toko kampus tapi tak sempat dibeli. Sebuah simbol bahwa Ia belum pergi, namun baru beberapa langkah dari lobi rumah sakit, suara tajam menghentikannya.

“Lyana, mau apa kau ke sini?”

Lyana membeku, suara itu tampak tak asing. Lembut di permukaan, tapi dingin dan menusuk. Itu ialah suara Naomi yang berdiri anggun dengan blus putih, rambut digerai sempurna, dan tas branded menggantung di lengan.

“Aku hanya ingin menjenguk Gian sebentar,” ucap Lyana hati-hati. Naomi menyilangkan tangan, senyum manis di bibirnya tampak terlalu dipaksakan.

“Sayangnya, kamu udah gak bisa walaupun hanya menjenguk Gian, Lyana. Keluarga Gian... lebih memilih aku sekarang.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” suara Lyana gemetar.

Naomi melirik ke arah lorong, lalu bicara tenang, seperti sedang menjelaskan sesuatu yang sudah pasti.

“Aku yang selama ini nemenin Gian di rumah sakit, aku juga yang bantu Mamanya menebus obat dan mengurus makanan Gian, sedangkan kamu?” Ia menatap tajam.

“Kamu bahkan tidak membantu apapun, gak sempat minta maaf langsung ke dia, iya kan?” Naomi menaikkan alisnya.

“Aku diusir waktu itu…”

“Tapi aku gak tuh. Kamu udah cukup menyekiti Gian, sekarang keluarga Gian lebih nyaman kalau kamu gak usah datang lagi,” sahut Naomi cepat.

“Dan tahu gak? Tante Bella, Mamanya Gian bahkan bilang... lebih baik Gian deket sama cewek yang punya masa depan cerah dan bukan yang sumber masalah untuk Gian.”

Naomi tersenyum makin lebar, suara langkah kaki terdengar dari lorong tersebut. Ibu Gian dan Kakaknya menyusul Naomi. Lyana tentu mengenal wajah itu dan melihat mereka.

“Oh, Naomi sayang, kamu datang pagi-pagi lagi?” sapa Tante Bella hangat.

“Iya, Tante, Aku tadi bawain bubur ayam buat Gian. Dia tadi minta yang tanpa daun bawang.”

“Duh, kamu memang paling tahu kesukaan Gian,” sahut Mira, Kakaknya Gian, meskipun sebenarnya dia juga tidak enak dengan Lyana.

“Gak seperti orang lain yang cuma datang kalau butuh perhatian.” Nyonya Bella sengaja menyindir Lyana dan melirik sinisnya. Sedangkan Lyana hanya menunduk, seakan kata-kata itu menusuk ke dalam relung hatinya meski tak disebut namanya. Naomi melirik ke arah Lyana sejenak, lalu berkata pelan.

“Tante, aku boleh ngobrol sebentar sama Lyana?”

“Silakan,” sahut Ibunya Gian tanpa curiga.

Naomi menarik Lyana sedikit menjauh, lalu berkata pelan namun jelas.

“Mulai hari ini, kamu gak usah repot datang lagi. Biar aku yang jagain Gian di kampus. Biar aku yang temani dia bangkit. Keluarganya udah terlanjur benci kamu, dan aku... akan jadi pendamping yang mereka percaya.” Lyana menatap Naomi dengan napas tercekat.

“Tapi aku... aku yang kenal Gian lebih dulu, bahkan kami bersahabat sejak kecil! Tidak! Aku tidak akan menyerah untuk membuat mereka kembali percaya padaku!” Naomi menunduk sedikit, lalu membisikkan kalimat dengan dingin.

“Sahabat tidak akan bikin dia koma dan hampir mati, Lyana. Dan semua itu hanya tinggal kenangan belaka. Buktinya bahkan mereka lebih menerima aku yang orang baru daripada kamu yang sejak lama mengenal Gian sebagai sahabat."

Lihat selengkapnya