Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #8

Menelisik Penyebab Peristiwa Lyana

Sehari setelah menemukan Lyana di Rumah Sakit Jiwa, Gian benar-benar tidak bisa tenang sebelum menemukan penyebab dari Lyana bisa trauma parah dan berakhir di tempat itu. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya. Semua hanya Lyana sendiri yang tahu, tapi jika Gian bertanya sekarang, itu sangat tidak efektif dan mengganggu kesehatan mental Lyana lebih jauh lagi. Gian tidak mau itu terjadi, Ia memutuskan untuk bertanya pada orang-orang terdekat Lyana yang lain. 

Dari menyusuri kampus untuk bertanya ke siapapun termasuk penjaga warung, tukang parkir, bahkan sampai tetangga kost, tapi semuanya menggeleng. Ibu Kost yang biasanya cerewet pun kali itu tidak tahu apa-apa tentang kejadian yang menimpa Lyana. Ibu kost hanya tahu ketika Lyana sudah dibawa oleh petugas ke Rumah Sakit Jiwa, ya, itu saja. 

Sore mulai datang, langit sudah menampakkan warna kelabu, awan mendung pun menggantung di atas sana, namun anehnya, titik-titik air itu tidak juga turun ke bumi. Angin sore bertiup pelan saat Gian terduduk di bangku tua pinggir jalan, tak jauh dari kost.

“Ke mana lagi aku harus mencaritahu?” gumamnya, nyaris putus asa. 

Tak ada satu pun saksi yang mengetahui apa yang terjadi pada Lyana. Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, lalu menunduk lesu.

Tiba-tiba, suara asing terdengar dari arah samping kanannya, memecah sepinya sore itu.

“Kenapa kamu tampak begitu sedih, Nak?”

Gian mendongak pelan. Seorang pria tua berdiri di hadapannya, mengenakan blangkon di kepala dan menggenggam tongkat kayu untuk menopang tubuhnya. Wajahnya penuh keriput, tapi sorot matanya tajam dan tenang. Gian bergeser, memberi ruang di sisi kanannya.

“Silakan duduk, Pak.” Pria tua itu mengangguk dan duduk perlahan.

“Saya sedang mencari informasi penting tentang sahabat saya, Pak. Sebelum dia masuk RSJ dan mengalami trauma berat,” ujar Gian, suaranya serak oleh kelelahan dan kegundahan.

Pria tua itu memandangi Gian sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Matanya menerawang jauh ke depan, ke arah jalanan lengang yang mulai diselimuti kabut tipis.

“Beberapa minggu lalu... aku melihat kejadian pemaksaan pada seorang gadis, apakah sahabatmu perempuan?” ucapnya lirih, membuat Gian langsung menoleh penuh perhatian.

"Iya, tapi... pemaksaan? Maksud Bapak?" Tanya Gian penasaran.

“Aku melihat seorang gadis muda dibawa paksa masuk ke dalam mobil oleh tiga lelaki, waktu itu malam hari. Jalanan sini memang sedang sepi, bahkan bisa dikatakan terlalu sepi. Tak ada satu pun orang lain yang lewat.” Gian menelan ludah, tubuhnya menegang.

“Tiga orang lelaki?” Pria Tua itu mengangguk pelan.

“Iya, tiga orang lelaki, wajah mereka asing, saya bahkan tidak mengenali mereka sama sekali, sama seperti bertemu denganmu sekarang ini. Bukan anak yang baru pulang dari kampus juga, gadis itu tampak kebingungan, bahkan sempat berontak, tapi tenaganya kalah. Mereka menariknya kasar ke dalam mobil. Aku sempat berteriak, tapi... siapa yang bisa mendengar suara tua di jalan kosong seperti itu? Aku juga mencoba mengejar, tapi kakiku sudah tidak kuat seperti dulu.”

Ia mengetuk-ngetukkan tongkatnya perlahan ke tanah, seolah sedang menyalahkan betapa lemahnya tubuh renta itu.

“Apakah Bapak tahu siapa gadis itu?” tanya Gian tergesa. Pria tua itu menggeleng.

“Aku tidak tahu namanya, tapi aku masih ingat apa yang dia bawa malam itu. Sebelum kejadian, aku melihatnya berjalan sendiri di trotoar. Membawa sebuah kotak kayu kecil dan... satu gitar yang masih ada sarungnya berwarna hitam. Sepertinya gitar itu berat, tapi dia memeluknya erat.”

“Gitar... dan kotak kayu?” bisik Gian, perasaan di dadanya seperti diremas.

'Apakah itu Lyana? Gitar milikku dan kotak kayu itu ada di depan kost Lyana.' Batin Gian yang mulai merasa curiga.

“Mobil mereka hitam, platnya aku tidak ingat karena terlalu gelap, hanya ada cahaya remang-remang. Tapi aku ingat suara mesinnya, sangat halus seperti mobil baru merk sekarang.” Gian meremas pegangan kursi di sisi kanannya.

“Kenapa Bapak tidak lapor ke polisi?”

“Sudah, Nak. Tapi siapa yang percaya pada cerita orang tua yang bahkan tak bisa menyebutkan nama korban?” Pria itu tertawa kecil, getir.

Lihat selengkapnya