Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #12

Luka yang Mulai Dibisikkan

Gian menunduk dalam kesunyian kamar rumah temannya, Ia mengungsi untuk sementara waktu supaya tidak bertemu Lyana. Jari-jarinya menggenggam ponsel yang tak kunjung Ia buka lagi sejak hari itu. Video terakhir yang Ia lihat dari nomor tak dikenal tentang Lyana itu terus berputar-putar di kepalanya. Tentu hatinya masih terlalu penuh, antara marah, kecewa, dan bingung. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan.

“Gian? Kamu nggak kuliah lagi dua hari ini, kenapa, bro?” Suara teman sekamarnya, Nuel, terdengar dari luar.

“Aku lagi pengen sendiri, Nuel. Nggak apa-apa kok.”

“Nggak apa-apa gimana? Kamu ngilang dan malah ngungsi di rumahku. Grup tugas udah kayak kuburan, nggak ada jawaban darimu sama sekali.”

Gian tak menjawab, Ia hanya memejamkan matanya. Suara Lyana di video malam itu kembali terngiang, dari isaknya, tangis tertahannya. Dan sekarang, wajah itu muncul lagi dalam pikirannya. Akhirnya Gian bangkit dan membuka pintu kamar, matanya merah dan wajahnya pucat. Nuel langsung terdiam.

“Bro, kamu sakit kah?”

“Enggak, aku bingung aja dan ngerasa ada yang aneh.”

“Masalah Lyana?” Gian hanya diam, tapi tatapan matanya cukup jadi jawaban. Nuel menghela napasnya.

“Oke, Aku nggak mau maksa kamu cerita, tapi... kamu harus makan dulu, kamu belum makan dari kemarin.” Gian tersenyum tipis.

“Aku nggaknlapar, Nuel. Sekarang aku pengen tanya sesuatu, kalau misal kamu dikasih tahu orang yang kamu sayang ternyata selama ini dia nyimpen sesuatu yang kamu pikir nggak mungkin dia sembunyiin, lo bakal gimana?”

“Aku bakal tanya langsung, aku lebih milih disakitin sama kejujuran daripada hidup dalam asumsi.”

“Aku takut kalau dia jujur semua akan berubah, dan aku sendiri aja ini belum bisa menerima semuanya,”

“Lah, kamu sekarang diem gini juga udah berubah, Gian. Kamu bukan Gian yang biasanya.” Gian mengangguk pelan, Ia tahu itu, dan Nuel benar.

Beberapa menit kemudian, Ia akhirnya membuka ponsel dan membaca ulang pesan itu lagi. Pesan dari nomor tak dikenal, disertai video pendek berdurasi 7 detik. Lyana tergeletak di lantai, tubuhnya kotor, dan terdengar suara lelaki tertawa di belakang kamera. Gian merasa perutnya mual setiap kali melihatnya.

“Kamu pengecut, Gian.”

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, satu pesan masuk, yaitu dari Lyana.

'Kamu kemana, Gi? Kenapa kamu menghilang?'

Jantung Gian berdetak keras, Ia tidak membalas pesan Lyana.

_

Langit mendung menggantung di atas kampus pagi itu. Langkah Lyana pelan saat Ia keluar dari perpustakaan, membawa beberapa buku yang bahkan tak sempat Ia baca. Sejak malam itu,malam ketika hidupnya berubah tanpa permisi, Lyana menjelajahi hari-harinya seperti arwah yang tersesat. Ia juga merasakan kalau Gian tiba-tiba menjauhinya dua hari ini, bahkan di kostnya pun tidak Ia temui sosok lelaki itu.

"Gian, ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa kamu tidak pernah lagi membalas pesanku?" Lyana mulai sedih karena harus menjalani hari tanpa Gian, lalu Ia pun teringat sesuatu.

"Apa Gian menjauhiku karena dia sudah tahu kebenaran kalau aku hamil anaknya Akbar?" Lyana pun mulai panik.

Namun hari itu juga, sesuatu yang lebih besar telah menantinya. Seorang perempuan paruh baya berdiri di depan gerbang kampus. Rambutnya sebagian telah memutih, tubuhnya tampak lelah, di tangannya tergenggam sebuah foto lama yang warnanya mulai memudar. Tatapannya menelusuri wajah setiap mahasiswa yang melintas. Dan ketika pandangannya bertemu dengan wajah Lyana, Ia segera melangkah menghampiri.

"Maaf, Nak... kamu... Lyana, ya?" Lyana terkejut. Ia menoleh cepat, memeriksa apakah ada Lyana lain di sekitar, tapi tatapan wanita itu terarah padanya, tak berpindah.

"Iya, saya Lyana. Maaf, Ibu siapa ya?"

Wanita itu tersenyum tipis, gemetar. Ia membuka dompet dari tas kain lusuhnya, dan mengeluarkan foto seorang bayi kecil dalam selimut biru kusam.

"Ini... adalah foto waktu kamu bayi, dua puluh tahun lalu." Lyana mematung, matanya melotot tak percaya.

"Nama lengkapmu adalah Lyana Firdauzia. Lahir 27 Maret, kamu dulu tinggal di panti dekat rumah keluarga... Gian, ya?"

"Iya... tapi..." belum sempat Lyana melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba wanita itu menyelanya.

"Aku Ibumu, Lyana."

Dunia seperti berhenti, suara jalanan mendadak menghilang. Lyana menatap wanita itu seolah baru disambar petir.

"I... Ibu? Tapi aku... aku nggak pernah tahu siapa orang tuaku. Aku pikir aku ditinggal begitu saja di panti," Wanita itu menunduk.

Lihat selengkapnya