Awan kelabu menyelimuti langit di atas atap kos Lyana, seolah ikut menahan napas menanti keputusan besar yang harus diambil. Di dalam kamar, Lyana duduk memeluk lutut di sudut tempat tidurnya. Pikiran tentang kejadian waktu itu masih menghantuinya. Sesekali, Ia menatap hasil pemeriksaan dari klinik yang tergeletak di sampingnya. Waktu itu, kertas yang sekarang berada di tangannya basah oleh air hujan, tapi sekarang sudah kering, dan Lyana masih menyimpannya. Positif hamil, selembar kertas yang bisa mengubah seluruh hidupnya. Bu Ranti yang baru saja datang pun menanyakannya pada Lyana.
"Kertas apa itu, Ly? Kenapa kamu memandanginya begitu serius?" Lyana segera menyembunyikannya.
"Tidak, bukan apa-apa kok, Bu." Lyana masih belum siap menceritakan semuanya pada Ibunya sendiri.
Ponselnya berdering, dari siapa lagi jika bukan Gian tentunya. Ia tidak menjawab, sekarang bukan waktu yang tepat untuk sekadar menjawab panggilan dari Gian.
"Gian sudah menelpon, Bu. Aku berangkat dulu ya!" Lyana menciun tangan Ibunya dan pergi begitu saja.
"Aneh, ada apa sebenarnya dengan Lyana?" Bu Ranti masih terheran-heran.
.
Di seberang kota, di sebuah cafe yang jarang dikunjungi mahasiswa, dua orang bertemu dalam diam. Naomi duduk sambil menggenggam gelas kopinya, sementara di depannya duduk Akbar dengan hoodie menutupi sebagian wajah.
“Kita tidak bisa terus biarkan mereka begitu,” ucap Naomi pelan tapi dingin. Akbar mendengus.
“Lalu? Kamu mau aku membantu apalagi? Sudah puas kamu karena aku hampir masuk penjara karena dia?” Kata Akbar sedikit tidak terima. Naomi mengangkat sedikit sudut bibirnya.
"Tapi nyatanya gak masuk penjara kan? Toh juga Gian gak akan seberani itu karena dia memang kurang gantle sebagai cowok, dan anehnya aku suka. Maka dari itu, aku tidak akan pernah melepaskan Gian. Kamu juga harus mengejar cintamu, Lyana," sahut Naomi.
“Aku punya cara,” Naomi menyipitkan matanya.
“Itu tandanya harus kerja sama lagi.” Akbar menyilangkan tangan.
“Dan apa yang kamu dapat dari semua ini?” Naomi tersenyum miring.
“Gian.”
Keesokan harinya, Gian berdiri di depan kelas sambil mengamati Lyana yang baru saja duduk di bangku pojok. Raut wajah Lyana lebih pucat dari sebelumnya. Sorot matanya kosong, tak ada canda atau tangkisan ledekan seperti biasanya. Setelah kelas bubar, Gian menghampirinya.
“Ly, kamu kenapa gak jawab teleponku?” Lyana menggigit bibirnya.
“Aku lagi butuh waktu sendiri, Gi. Aku ingin memikirkan hal untuk menyembunyikan semua ini,”
“Tapi kamu gak sendiri, Ly, ada aku di sini, kamu ingin menutupi tentang kehamilanmu?” Ia mencoba menyentuh tangan Lyana, namun gadis itu menariknya cepat.
“Jangan, Gian, aku... aku harus mikir baik-baik tentang semuanya, sebelum semua orang tahu yang sebenarnya, aku gak siap akan hal itu, aku hanya berani jujur padamu saja.” Gian menatapnya penuh luka.
“Termasuk tentang kita?”
“Apanya kita?” Tanya Lyana lemah. Gian menarik napas dalam.
“Kamu tahu kan maksudku, kita akan lalui ini bersama, Ly.”
"Tidak bisa, Gi. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam hal ini. Aku takut kalau kamu akan terseret dan Akbar akan membuatmu lebih dari yang kemarin." Lyana hanya menggeleng dan pergi begitu saja setelah mengatakan itu.