Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #14

Tentang Bu Ranti

Masih di malam yang sama setelah kejadian di kampus, mereka saling bicara sembari memakan cemilan.

"Kamu gak mau cerita tentang kehamilanmu ke Ibumu dulu, Ly?" Lyana menggeleng pelan.

"Aku hanya tidak ingin menjadi beban untuknya,"

"Mana mungkin seorang Ibu akan bilang begitu kepada anaknya sendiri? Tidak, kamu harus bilang, Ly. Bagaimanapun juga, sepandainya kau menyembunyikan sesuatu, maka suatu saat akan terbongkar juga,"

"Lalu aku harus bagaimana, Gi? Aku juga belum percaya sepenuhnya kalau dia Ibuku, dia seperti orang asing karena kemunculannya secara tiba-tiba,"

"Kita belum sempat ke panti kan? Sekarang jam berapa? Panti udah tutup belum jam segini?"

"Kau gila, Gi? Ini sudah larut, kalau bisa ya besok, pas pulang kuliah, tapi aku jadi takut kuliah karena banyak orang yang menganggapku wanita tidak baik-baik pastinya."

"Kalau begitu besok kita bolos!" Lyana pun memicingkan matanya.

"Lebih gila lagi ni anak, ya aku yang ketinggalan mata kuliah nanti,"

"Ya udah, aku aja yang bolos. Aku bakal ke panti, nyari tahu tentang masa lalumu. Biar kamu gak terus-terusan bingung seperti ini," ujar Gian, setengah serius setengah bercanda, tapi matanya menunjukkan kesungguhan. Lyana terdiam, hatinya menghangat oleh perhatian Gian, tapi juga khawatir. Lyana menyenggol lengan Gian.

"Gian, kamu tuh gak usah repot-repot sampai segitunya."

"Ly, ini bukan masalah repot, ini tentang kamu. Kamu penting buat aku, kalau kamu ngerasa sendiri, ngerasa bingung, aku gak bisa duduk diam doang." Lyana menggigit bibirnya, matanya pun menatap Gian dengan perasaan campur aduk.

"Tapi kamu juga punya hidupmu sendiri, Gi. Gitar, rekaman, dan semua mimpimu selama ini yang sedang kamu perjuangkan,"

"Aku gak akan ninggalin mimpiku, Ly. Tapi aku juga gak akan ninggalin kamu," potong Gian, lembut tapi tegas.

"Aku bisa ngelakuin keduanya, kamu bukan penghalang, kamu justru alasan untuk semakin menuju ke arah kesuksesanku kelak." Lyana menarik napas dalam-dalam semabri tersenyum setelahnya. Gian selalu bisa mengembalikan senyumnya.

"Kenapa kamu selalu tahu harus ngomong apa ya?"

"Karena aku udah hafal ekspresimu, Ly. Udah dari kecil aku tahu gimana kamu ngumpet kalau takut, pura-pura kuat atau sedang rapuh, dan diem kalau sebenernya pengen dipeluk." Pipi Lyana memanas, Ia menunduk, memainkan ujung bajunya. Ia juga sesekali menepuk pundak Gian.

"Kamu gak pernah berubah ya," gumamnya pelan.

"Kalau soal perasaan ke kamu, emang gak berubah," jawab Gian, hampir tak terdengar, Lyana menoleh pelan.

"Apa maksudmu?" Gian menatap matanya, dalam dan penuh ketulusan.

"Aku sayang kamu dari dulu, Ly. Tapi kamu terlalu sibuk ngejar cowok-cowok bodoh yang gak bisa lihat berharganya kamu." Lyana menahan napas, kata-kata Gian menusuknya lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan.

Lihat selengkapnya