Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #15

Apakah Aku Pengecut?

Malam itu, Lyana mengetuk pintu kost Gian.

Tok! Tok! Tok!

Tapi tak ada sahutan. Biasanya, Gian akan langsung membalas dengan candaan atau malah sudah nongkrong duluan di bawah pohon mangga depan kost mereka, petikan gitarnya jadi latar suasana malam. Tapi kali ini, sunyi dan begitu sepi. Tak ada Gian, juga tak ada suara gitar pun pula.

“Gian?” Lyana mengetuk lagi, suaranya mulai ragu.

“Kamu di dalam?” Masih tak ada jawaban.

"Gi, keluarlah sebentar saja." Tetap sama, tak ada suara. Akhirnya, Lyana menghela napas panjang, melangkah perlahan meninggalkan depan kamar Gian dan kembali ke kamarnya sendiri.

Tapi di balik pintu yang tadi ia ketuk-ketuk itu, Gian sebenarnya duduk bersandar, diam. Punggungnya menempel di daun pintu, kepalanya miring ke kanan, tatapannya kosong. Hatinya kacau sejak melihat Lyana bersama Akbar di parkiran kampus.

Maaf ya, Ly. Aku pengecut. Aku gak sanggup lihat kamu balik lagi ke dia. Apalagi... anak yang kamu kandung itu milik Akbar, batinnya lirih.

Sementara itu, Lyana masuk ke kamarnya dengan langkah berat. Bu Ranti yang sedang merapikan rak sepatu langsung mengangkat wajah dan melihat sorot muram di mata gadis itu.

“Kamu kenapa lagi, Ly? Mukamu kok sedih gitu?” Lyana menunduk, suaranya pelan.

“Gian, Bu... Dia sepertinya berubah.”

“Berubah gimana maksudmu? Bukannya kalian hampir tiap malam ngobrol bareng di depan kost?” Lyana duduk di pinggir ranjang, menarik napas dalam.

“Dia nggak nyapa aku di kampus, gak keluar juga di kost, gak ada jawaban sama sekali ketika aku ketuk pintu kamarnya. Dia sepertinya kecewa padaku.”

“Kecewa? Memangnya ada apa di antara kalian? Cerita, dong, Ibu dengerin.”

Lyana menggigit bibirnya ragu, tapi akhirnya Ia membuka laci dan mengambil hasil lab serta test pack yang sempat ia sembunyikan. Tangannya gemetar waktu menyerahkannya ke Bu Ranti.

“Aku hamil, Bu...” ruangan seketika hening, Bu Ranti terbelalak.

“Apa? Siapa yang melakukannya, Ly? Jangan bilang... Gian?” Lyana menggeleng pelan, air matanya jatuh, membasahi seprei kasur yang sudah kusut.

“Bukan, Bu. Bukan Gian...”

“Terus siapa?” Bu Ranti semakin bingung.

“Akbar, Bu...” jawab Lyana lirih.

“Mantan pacarku, aku yang salah karena terlalu sibuk ngejar cinta yang salah, terlalu buta sampai gak lihat Gian yang dari awal selalu ada buat aku. Sekarang aku malah hamil... dari laki-laki yang udah bikin aku trauma.” Tangis Lyana pecah, Bu Ranti langsung memeluknya, mengelus rambutnya dengan lembut.

“Ssst, sudah... Ibu ngerti, sayang, Ibu ngerti.”

“Gian sekarang sepertinya udah menjauh, Bu... Aku takut kehilangan dia.”

Lihat selengkapnya