Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #16

Kenapa Kamu Menghianatiku, Gi?

Lyana duduk diam di teras kosan kecil yang Ia tinggali bersama Ibu kandungnya. Angin malam berhembus lembut menyibak helaian rambutnya. Tangannya mengusap perutnya yang semakin hari semakin menonjol sedikit. Dalam diam, Ia memikirkan banyak hal, yaitu tentang masa lalunya yang kelam, lebih tepatnya masa lalu tentang sebelum anak itu tumbuh dalam rahimnya. Juga Gian yang kembali menjauhinya benar-benar membuatnya semakin hancur perlahan, dan ditambah Naomi yang selalu mendekati Gian membuat hatinya tidak rela rasanya. Lyana hanya tahu kabar Gian dari unggahan story Instagram yang sesekali menampilkan Naomi tertawa di dekatnya dan terlihat nyaman bersama gadis itu. Lyana juga memikirkan waktu Ia berusaha menemui Gian ketika sedang membuang surat yang Ia taruh ambang pintu kost Gian.

Flashback

"Gian, kamu masih nganggep aku berarti gak sih?"

"Maaf, Ly, kamu kan udah sama Akbar, gak seharusnya kamu ngedeketin aku lagi," kata Gian ketus, tidak seperti biasanya.

"Sudah kuduga kalau kamu akan cemburu dengan itu, kamu tahu, Gi? Akbar yang memaksaku untuk mengakui pada semua orang kalau ini anaknya, gila kan?"

"Bukankah memang aslinya begitu? Ya Akbar bener dong, lagi pula kan memang tidak masalah jika memang Akbar mau tanggung jawab, itu bagus," jelas itu membuat hati Lyana mencelos.

"Kok kamu gitu ngomongnya sih, Gi?"

"Entahlah, aku capek, Ly, bye!" Gian segera menutup pintu kostnya. Padahal sebelumnya, Gian tidak pernah seperti itu.

Flashback END

Lyana semakin memijit keningnya karena memikirkan hubungannya dengan Gian yang merenggang, Ia merasa kalau sekarang kehilangan sahabat kecilnya, juga kehilangan laki-laki yang selama ini ada di sisinya. Namun lamunannya terganggu oleh suara lembut yang menyapa telinganya.

"Ly, kamu kenapa lagi?" Itu ialah suara lembut sang Ibu, membuyarkan lamunannya. Wanita itu baru pulang kerja sebagai penjaga toko roti di pinggir jalan. Tubuhnya lelah, tapi matanya seakan masih mau mendengarkan alasan Putrinya melamun.

"Nggak apa-apa, Bu." Lyana berusaha tersenyum, tapi Bu Ranti tahu kalau itu bukan senyman tulus Lyana, Ia pun menarik napas dalam.

“Kamu jangan terlalu banyak pikiran, kamu kan lagi hamil. Nanti dedeknya juga ikutan sedih.”

Lyana menunduk, menahan tangis. Dedek itu bukan yang dia inginkan karena hamil di luar nikah, itu aib. Tapi meskipun begitu, hanya Gian yang selalu hadir, yang menyelamatkannya dan yang mau menerima apa adanya, begitu pula yang memeluknya saat Ia hampir menyerah untuk melanjutkan hidup, tapi sekarang? Lelaki itu telah berubah.

***

Sementara itu, Gian duduk di sebuah studio kecil kampus, memeluk gitarnya dan memandangi jendela yang tertutup embun. Di sebelahnya, Naomi tertidur di sofa studio tersebut, setelah sebelumnya menangis karena curhat masalah hidupnya sendiri. Gian hanya berniat menemani, tapi entah kenapa hatinya mulai goyah, bahkan sekarang pun ketika bersama Naomi, Gian masih memikirkan Lyana.

Gian mencintai Lyana, itu jelas, bahkan dari dulu, meskipun harus tertutup oleh dirinya yang selalu bilang merasa nyaman dengan siapapun tanpa memandang gender. Tapi benarkah dia pantas? Lyana hamil anak orang lain, masa depan mereka sangat tidak jelas. Dia sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan rusuknya yang belum benar-benar pulih karena dipukuli Akbar, tapi Ia hanya ingin kalau Lyana tidak kembali pada lelaki yang sudah membuatnya hancur. Gian meraba bagian rusuknya yang retak dari kaosnya.

"Aku bahkan sampai mengabaikan jadwal mengambil pen di rusukku." Ia pun memijit keningnya, kemudian melihat ke arah Naomi yang masih tertidur. Meletakkan gitarnya ke lantai dan mendekati Naomi yang masih tertidur di sofa.

'Kalau saja aku tidak mengenal Lyana, mungkin aku akan membalas perasaanmu Naomi. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana, aku masih sangat mencintai Lyana.' Batinnya sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu.

Namun saat matanya menatap layar ponsel yang memunculkan foto Lyana tertawa sambil menggigit es krim, hatinya berdesir. Ingatan masa kecil kembali datang.

Flashback – Di Bawah Pohon Kamboja Kuning

Lihat selengkapnya