Gian mencoba melepas ciuman Naomi secara paksa karena melihat Lyana yang sudah keluar dari cafe tersebut.
"Sudah cukup, Naomi, aku tidak ingin melanjutkan ini lagi," Gian menunduk, merasa bersalah pula tentunya pada Lyana. Ia pun menghela napasnya dan menatap pintu cafe tersebut.
"Sudahlah, Gian. Ngapain sih masih mempedulikan gadis itu? Ingat, Gian, dia waktu itu masih mau disentuh akbar, dan dia juga gak ada disaat kamu sedang terpuruk. Sadarlah, Gian, hanya aku yang selalu ada buat kamu, iya kan?" Gian tidak menjawab Naomi dan segera berlari menerobos kerumunan penonton begitu saja sembari membawa gitarnya. Naomi yang masih di cafe, tiba-tiba ada siluet laki-laki di sana.
"Kamu yakin kalau Gian akan menjauhi Lyana?"
"Aku sangat yakin, hatinya sudah mulai goyah, jadi biarkan saja dia begitu. Sekarang adalah tugasmu, untuk membuat Lyana kembali padamu,"
"Itu hal yang mudah." Mereka berdua pun tersenyum penuh kemenangan.
Gian pun menemukan Lyana duduk di halte bus, wajah Lyana pucat, matanya sembab, Ia tidak bicara apa-apa ketika Gian datang.
"Lyana, aku..."
"Kamu tahu gak? Rasanya aku udah pengen mati karena orang-orang nuduh aku hamil anak Akbar? Tapi aku masih hidup, karena kamu." Suara Lyana pelan, tapi tiap katanya seperti pisau ke dada Gian.
"Dan hari ini aku datang karena kamu ngundang aku untuk melihat penampilan pertamamu, buat dengerin kamu nyanyi, dengerin suara merdu kamu, dan kamu malah dicium cewek lain di depan semua orang. Dan yang paling bikin aku kecewa adalah... kamu gak nolak ciuman itu, kamu menikmatinya kan, Gi? Kamu suka kan sama Naomi?"
Gian seketika mengatupkan rahangnya. Dia mau jelaskan, tapi bagaimana caranya menjelaskan sesuatu yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya pahami?
"Aku emang gak nolak, Ly, tapi bukan karena aku cinta dia. Aku bingung karena aku takut kehilangan kamu, tapi aku juga gak tahu kamu masih percaya aku atau enggak."
Lyana menatap Gian lama, sebelum berdiri dan berjalan menjauh.
***
Udara pagi menyapa hidung seorang lelaki muda yang datang ke Kampus dengan sedikit tergesa karena ingin menemui gadis yang sudah merusak citranya di depan Lyana semalam. Naomi langsung mendekat ketika melihat Gian berjalan ke arahnya, terlihat dari wajahnya penuh kemenangan, tapi Gian malah menatapnya dingin.
"Kamu udah puas?" Tanya Gian tajam. Naomi mengerutkan keningnya.
“Apa maksudmu?”
"Kamu tahu aku lagi cari Lyana, kamu tahu aku undang dia buat lihat penampilanku, tapi kamu sengaja muncul dan menciumku di depan semua orang. Aku memang mengundangmu karena kamu terus ngechat aku jadi tampil atau gak, dan ternyata inilah rencanamu?" Naomi tersenyum miring.
“Aku hanya ingin datang juga dan membuktikan pada semua orang kalau kamu dan aku bukan hanya sekadar teman, tapi lebih, toh kamu juga gak nolak, kan?” Gian terdiam sembari menggigit bibi bawahnya gelisah, itu benar, tapi tetap saja ada batas yang dilanggar. Naomi pelan-pelan menyentuh lengannya.
“Gian, selama ini aku yang ada buat kamu. Waktu Lyana sibuk dengan Akbar, waktu dia gak jujur sama kamu, dan ketika kamu sedang bingung, aku yang nemenin kamu. Jadi... kenapa kamu masih mikirin dia?” Dan disitulah Gian sadar Naomi gak akan berhenti.
Langit mendung menghiasi kota, hujan belum turun, tapi awan gelap menggelayut seperti hatinya Gian. Ia duduk di pojokan kamarnya, menatap dinding kosong sambil memainkan senar gitar yang tak bersuara. Ciuman Naomi masih membekas, bukan di bibir, tapi juga di pikirannya.