Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #21

Mengubur yang Telah Tiada

"Lalu, bagaimana dengan Gian? Apakah dia terluka parah, Bu? Pen di rusuknya belum sepenuhnya diambil, apakah dia selamat setelah kecelakaan itu?" Lyana memandang Sang Ibu dengan wajah paniknya. Bu Ranti menghela nafasnya sebentar, kemudian dengan sabar menjawab,

"Gian sudah sadar, kondisinya waktu itu bahkan masih penuh luka, tapi dia tidak pedulu itu dan selalu menemani disaat kamu koma. Selalu menunggu kamu untuk cepat sadar dari koma," namun manik hitam legamnya menarap ke arah lain.

"Gian emang laki-laki yang sangat baik, tapi aku yang tidak baik untuknya. Aku yang cemburu tidak jelas, dan aku juga penyebab dari kecelakaan itu," Bu Ranti melotot tak percaya.

"Benarkah begitu, Nak? Kamu nanti bisa dibenci keluarganya Gian kalau sampai tahu,"

"Keluarga Gian memang sudah membenciku sejak lama, Bu. Mereka lebih dekat dengan Naomi, dan hanya Naomi pula yang mereka percaya, bukan aku. Mereka menganggap bahwa aku adalah yang merebut kebahagiaannya Gian, yang menjadi sumber masalah dalam hidup Gian. Tapi memang iya, Bu, aku memang selalu menyusahkan Gian, aku malu karena cemburu dengan hal yang tidak seharusnya."

"Ya ampun, Nak, pantas saja kemarin waktu Gian sadar meski tubuhnya masih penuh luka demi ingin melihat kondisimu, keluarga Gian seperti acuh dan tidak ikhlas. Dan perempuan itu... sepertinya juga masih temanmu dan Gian juga kan?"

"Iya, Bu. Naomi ialah perempuan yang menyukai Gian dan selalu mengganggu hubungan kami,"

"Ya sudahlah, Nak. Semua sudah terjadi, tapi faktanya adalah... kamu bukan sumber masalah bagi Gian, kamu adalah yang menjadi alasan Gian bertahan hidup." Lyana pun mengangguk pelan di pelukan Ibunya, dengan tangis yang menyesakkan dada.

"Tapi kenapa hari ini Gian tidak ke sini lagi, Bu? Apa mungkin karena Naomi lagi?"

"Lebih baik kita kuburkan dulu janin yang sudah terlanjur gugur itu," saran Bu Ranti.

"Iya, Bu."

"Tapi kondisimu masih begini, apakah boleh keluar dari rumah sakit?"

"Kalau bilang suster untuk keluar sebentar sepertinya boleh kok, Bu."

Mereka segera memakamkan janin yang baru berusia sekitar 6 minggu tersebut. Memberi nama, sampai dilakukan doa juga bersama dengan banyak orang.

"Maafkan Ibu ya, Nak. Kalau saja kamu bisa bertahan, kamu akan memiliki Ayah yang baik, pengganti Ayah biologismu, namanya Gian. Tapi kamu memilih untuk tidak lahir, mungkin ini cara Tuhan menyelamatkan Ibumu dari orang-orang jahat itu, Nak." Lyana menangis sembari memegangi nisan kuburan janinnya.

"Semua sudah terjadi, Lyana, ayo kita pulang," ajak Bu Ranti. Dengan berat hati, Lyana harus meninggalkan janinnya yang sudah gugur tersebut.

Sementara itu, Gian baru saja keluar dari ruangan rawat Lyana dengan hati sedikit kecewa karena si penghuni ruangan tidak ada di sana, ketika menutup pintu ruangan tersebut tiba-tiba ada yang memanggil namanya.

"Gian!" Refleks Gian segera menoleh ke arah sumber suara, ternyata itu adalah suara Naomi. Gadis itu melihat Gian masih menggenggam setangkai bunga mawar merah di tangannya. Ia seketika tersenyum kepada Gian dan segera menghampiri lelaki itu dengan cepat.

Lihat selengkapnya