Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #22

Sakit yang Tidak Terasa Sakit

Gian masih di ruang rawat Lyana, duduk di kursi kecil sambil masih mengenakan baju rumah sakit warna biru muda. Ada perban di pelipisnya, tapi matanya segar dan terus menatap Lyana. Selang infus di tangannya belum dicabut, tapi Ia tetap memaksa tersenyum lebar. Lyana melirik ke infus Gian.

“Kamu tuh kenapa sih selalu maksa ke sini? Harusnya kamu juga istirahat di kamarmu," Lyana hanya tidak ingin Gian semakin sakit karena lebih mementingkan dirinya daripada kesehatannya sendiri.

“Kalau aku istirahat di kamarku, terus kamu sendirian, nanti yang sakit hati siapa?”

“Yang sakit badan kamu sendiri, Gian. Lagian kan aku ada Ibuku, kamu juga ada Tante Bella, kamu tega ninggalin Ibumu sendirian?"

"Kata siapa ada Ibuku? Ibuku sudah pulang, yang ada hanya Naomi, dan itu membuatku muak, aku hanya ingin di sini. Lagian kan kita ini paket hemat, kalau luka ya luka bareng, kalau sembuh ya sembuh bareng.” Lyana tersenyum. Gian bangkit, meski gerakannya pelan karena masih agak lemas. Ia mendekat ke ranjang, membetulkan selimut Lyana.

“Kamu tuh udah susah jalan, masih aja mau repot.”

“Ya karena pasien satu ini spesial. Kalau aku nggak rawat, takutnya dia kabur.”

“Kabur ke mana? Aku aja susah bangun, tadi aja aku dibantu Ibuku waktu menguburkan janin itu.”

“Kabur dari hati aku." Jawab Gian sembari tersenyum miring, melihat Lyana yang tidak tersenyum membuat Gian tiba-tiba berpikir hal lain.

"Maaf ya, bunga mawar tadi... sudah terlanjur diambil Naomi,"

"Jadi... sebenarnya itu buat aku?" Gian mengangguk.

"Ya sudahlah, kamu pasti sedih karena janin yang tidak jadi lahir itu ya? Kamu merasa kehilangan kan?" Lyana menatap mata Gian.

"Gak kok, aku malah bersyukur karena dia tidak lahir ke dunia dalam keadaan hidup. Tuhan sudah cukup mengirimkan malaikat manis dan imut ini di hadapanku, gak perlu yang lain." Lyana mencubit pipi Gian. Lelaki itu pun seketika tertawa.

"Berarti kamu mengakui kalau aku manis, imut, dan tampan kan?"

"Iya, kali ini kamu benar, aku mengakuinya."

Tanpa banyak bicara, Gian menunduk sedikit lagi, mencium kening Lyana. Ia kemudian duduk kembali di kursi, menarik napas dalam. Lyana menatapnya lama.

Sementara itu, Nyonya Bella mencari Gian, Ia bertanya pada Naomi, tapi gadis itu sudah tidak di rumah sakit sejak melihat Gian berada di ruang rawat Lyana.

"Ni anak juga kemana? Kenapa tidak bisa dihubungi sih?" Gumamnya kesal, jemarinya mengetuk-ngetuk ponsel seolah memaksa panggilan tersambung. Nafasnya mulai terasa berat, matanya celingukan mencari sosok yang dicurigainya.

Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit, melewati deretan bangku tunggu. Pandangannya tiba-tiba tertumbuk pada pintu darurat di ujung lorong yang sedikit terbuka. Dari celah itu, Ia sempat melihat bayangan seseorang berlari menuruni tangga darurat.

Nyonya Bella terdiam sesaat, mencoba memastikan. Tingginya seperti Gian, tapi rambutnya terlihat seperti Naomi. Sebelum Ia sempat mendekat, suara langkah itu semakin menjauh, berganti dengan bunyi pintu darurat yang menutup keras.

“Siapa itu? Apakah Naomi?” Bisiknya pelan, rasa curiga mulai membuncah.

Lihat selengkapnya