Itu ialah suara Nyonya Bella yang mencari Gian semalaman, tapi tidak ketemu, ternyata Ia berada di ruangan Lyana.
"Gian..." Lyana mulai takut jika sudah berhadapan dengan Mamanya Gian.
"Mama? Aku hanya ingin menemani Lyana."
"Kamu gak ingat kalau kamu juga masih sakit?" Tanya Sang Mama dengan nada tegas.
"BALIK KE KAMARMU, GIAN!" Bentak Mamanya, hingga suaranya bergema di ruangan rawat Lyana.
"Gian, lebih baik kamu kembali ke kamarmu aja," saran Lyana yang tidak ingin masalah semakin panjang jika Gian tidak menurut dengan Mamanya.
"Tapi Ly...” Lyana memberi kode dengan mengangguk satu kali supaya Gian menuruti apa yang dia katakan.
“Kamu kan belum tidur dengan nyenyak karena nemenin aku semalaman, ini saatnya kamu beristirahat, Gi.”
“Baiklah, jaga diri kamu baik-baik ya, Ly.”
“Cepat, Gian!” Bentak Mamanya yang sudah berada diujung pintu.
Pintu kamar rawat Gian terbuka cukup keras hingga membuatnya sedikit tersentak.
“Gian, apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Mama mengizinkanmu masih di rumah sakit karena kamu memang sedang sakit, bukan untuk menemani gadis gak tahu diri itu!” Suara Ibunya terdengar tajam, dingin, seperti pisau yang mengiris perlahan. Wanita itu berdiri di ambang pintu dengan tas tangan menggantung di siku, bibirnya mengeras.
“Kamu itu juga pasien, bukan penjaga! Apa perlu Mama mengikatmu di ranjang supaya kamu tidak berkeliaran?”
Gian menelan ludah, mencoba duduk tegak meski rasa nyeri di rusuknya seperti membakar dari dalam.
“Aku hanya.... mau lihat Lyana, Ma. Dia...”
“Dia apa? Dia bukan siapa-siapa!” Potong Ibunya.
“Mama sudah cukup melihat bagaimana dia menyeretmu ke dalam semua masalahnya. Bahkan sekarang... kamu hampir mati lagi karena dia! Apa tidak puas dengan yang waktu itu kamu dipukuli Akbar karena melindungi dia sampai kamu koma di rumah sakit karena rusukmu patah? Dan sekarang bahkan kondisi rusukmu semakin parah karena kecelakaan. Mikir ke sana, Gi! Kesehatanmu lebih penting dari apapun daripada kesehatan dia!” Nafas Gian tercekat, tapi tatapannya tetap keras.
“Jangan salahkan Lyana, Ma. Kecelakaan itu... bukan salahnya.”
“Bukan salahnya?” Ibunya melangkah mendekat, suaranya semakin menusuk.
“Kalau kamu tidak terus bersama dia, Naomi tidak akan menangis setiap malam, dan kondisi rusukmu juga tidak akan seperti ini.” Nama itu lagi yang Mamanya sebut, Naomi, menggelitik amarah di dada Gian.