Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #27

Kamu tetaplah Orang yang Aku Pilih

“Gila! Jadi Gian pernah suka sama cowok?!” Suara seorang mahasiswa memenuhi taman kampus, disusul gelombang bisik-bisik yang makin keras.

“Seriusan? Selama ini dia bohongin kita?”

“Pantesan Naomi selalu bilang dia nggak konsisten!”

Bisikan berubah jadi sorakan, semakin lama semakin liar. Tatapan mata penuh tanya menghujani Gian dari segala arah.

Lyana terdiam, jemarinya saling menggenggam erat di depan dada. Matanya berkaca-kaca, Ia tahu rahasia itu, rahasia terbesar Gian, yang dulu diucapkan lirih saat mereka masih SMA. Gian pernah menatapnya penuh ketakutan, meminta agar rahasia itu Ia simpan selamanya. “Jangan pernah bilang siapa pun, Ly. Aku nggak sanggup kalau dunia tahu bagaimana aku yang sebenarnya. Hanya kamu yang bisa kupercaya, Ly.” Dan kini, semua itu dihancurkan Evan dengan seenaknya.

“Evan, cukup! Jangan diteruskan!” Gian berteriak, suaranya mendadak sedikit serak, wajahnya merah padam antara marah dan panik. Tapi Evan hanya melangkah maju, senyum sinis mengembang di wajahnya.

“Aku nggak datang untuk menjatuhkanmu, Gian,” ucap Evan tenang, namun setiap katanya menusuk seperti belati, membuat nafas Gian semakin memburu tak beraturan.

“Aku hanya ingin membuka topengmu di depan semua orang. Jangan berpura-pura jadi orang lain. Jangan sembunyi di balik bayangan bintang kampus yang sempurna, bukankah sebenarnya kamu masih sama seperti dulu? Seseorang yang hanya ingin dicintai, tanpa memandang siapa pun itu?”

Suara Evan bergema di udara, para mahasiswa terdiam, menelan ludah, menunggu reaksi berikutnya. Naomi, yang berdiri tak jauh dari mereka, langsung memanfaatkan situasi. Ia menatap Gian dengan senyum penuh kemenangan.

“Kalian lihat kan?!” Teriak Naomi lantang, suaranya melengking menusuk telinga. “Bahkan sahabat SMA-nya sendiri mengakui! Jadi bagaimana mungkin kalian masih percaya sama Gian?!”

Ia menoleh, menunjuk Gian dengan telunjuknya, lalu memutarbalikkan fakta dengan penuh drama yang dibuatnya.

“Aku juga korban di sini. Aku jatuh cinta sama lelaki seperti Gian, lelaki yang ternyata bisa nyaman sama siapa aja tanpa memandang gender. Gila! Itu berarti suatu hari dia bisa jatuh cinta lagi sama cowok, kan? Aku benar-benar menyesal karena baru tahu sekarang. Andai sejak awal aku tahu, aku nggak akan buang waktu mencintaimu, Gian. Atau jangan-jangan…” Naomi mendengus, senyumnya merendahkan,

“Itu alasan kamu nolak ciuman lama padaku di kafe waktu itu, Gi?”

“Berhenti bersandiwara, Naomi!” Gian membentak, suara seraknya menggema.

Kerumunan semakin banyak karena ada yang baru datang untuk menonton perdebatan tiada ujung tersebut, sorakan bercampur makian itu sangat tidak ingin didengar Gian maupun Lyana. Ada yang menghujat, ada pula yang bingung, 'apakah benar masa lalu seseorang pantas dijadikan alasan untuk merendahkannya?'

Trisha maju ke depan, wajahnya memerah karena tak tahan mendengar semua itu. Ia hanya tidak terima idola kampusnya direndahkan orang lain yang membuatnya tidak mau menyanyi lagi di kampus. Baginya, suara Gian sangatlah berharga dari apapun karema bisa membangkitkan semangat belajarnya di kampus dan cara untuk move on dari masa lalunya yang kelam pula.

“Memangnya apa yang salah? Kalau dulu Gian pernah mencari jati dirinya, itu urusan dia! Sekarang dia jelas mencintai perempuan, terus apa yang perlu dipermasalahkan?!” Tatapannya begitu menusuk pada Evan.

Lihat selengkapnya