Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #28

Tampil yang Memerlukan Izin

Malam itu begitu sunyi, angin hanya sesekali lewat, menggerakkan daun mangga di halaman kos yang sudah mulai menguning. Di dalam kamar, Bu Ranti masih setia duduk di samping putrinya, Lyana, sambil berbincang ringan.

“Gian itu baik sekali, ya, Ly. Dari yang Ibu lihat, selama ini dia rela menemani di rumah sakit, menggantikan Ibu untuk menjagamu. Meskipun dirinya sendiri sedang sakit tapi prioritasnya tetap kamu yang utama, dan sekarang dia juga selalu berada di sampingmu,” ucap Bu Ranti tiba-tiba. Suaranya terdengar tulus, seolah ia benar-benar melihat ketulusan seorang pemuda yang selalu dekat dengan anaknya, Lyana hanya tersenyum samar.

“Gian memang baik dari dulu, Bu. Itulah sebabnya aku semakin menyukainga setip hari.” Belum sempat Bu Ranti bertanya kembali, sebuah suara yang begitu familiar masuk menembus pintu kamar kost mereka. Itu ialah suara Gian. Begitu dominan,lembut bening, merdu, namun penuh tenaga yang sangat ramah untuk menyapa telinga siapapun gang mendengarnya, Ia sedang menyanyikan sebuah lagu salah satu artis terkenal.

Lyana segera beranjak dari tempat tidurnya, dengan gerakan cepat Ia membuka pintu kamar. Begitu udara malam menerpa wajahnya, senyumnya seketika mengembang melihat wajah jangkung itu, wajah yang selalu dilihatnya setiap hari, anehnya itulah yang membuat Ia tenang. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan setiap kali mendengar suara Gian. Jantungnya berdegup lebih cepat, seolah ada magnet yang menariknya untuk selalu mendekat.

Ia bertepuk tangan, nyaris seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.

“Hey! Rockstarku kembali rupanya!” Teriaknya sambil terkekeh. Gian menoleh ke arahnya, senyuman khas itu yang selalu membuat Lyana sulit menahan tawa ketika lelaki itu muncul.

“Ayo ke depan.”

“Ngapain?” Gian mengangkat alisnya.

“Jualan nasi uduk pinggir jalan.”

Lyana tertawa keras sampai Bu Ranti ikut tersenyum tipis dari dalam kamar. Gian hanya geleng-geleng, lalu mengangkat gitarnya.

“Ya kamu lihat sendiri aku sudah bawa gitar, masa iya bukan untuk nyanyi?”

“Ck! Memangnya sudah ada lagu baru tentang aku?” Lyana mendekat, tatapannya penuh goda. Ia sengaja mengedipkan sebelah mata untuk menggoda lelaki itu. Gian, yang biasanya penuh percaya diri, kali ini justru tersipu.

“Bukan tentang kamu lagi, tapi tentang kita.”

Ucapan itu sukses membuat Lyana semakin bersemangat.

“Gas!!” Katanya lantang. Ia buru-buru menutup pintu kosannya, melambaikan tangan pada Ibunya, lalu berjalan mendahului Gian.

Namun bukannya berhenti di bangku tua di bawah pohon mangga, Lyana malah terus melangkah lurus menuju jalan raya. Gian sedikit panik.

“Eh, Ly! Kamu mau ke mana?” Lyana berhenti, menoleh, lalu nyengir.

“Eh? Kebablasan ya?”

“Hahaha, aneh banget kamu sekarang.”

“Biarin, karena kekasihku juga aneh.”

Lihat selengkapnya