Suasana kampus pagi itu sudah mulai ramai, para Mahasiswa bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing, sementara Gian masih sedikit mengantuk karena semalam Ia lembur menyelesaikan skripsinya karena setelah sebelumnya sempat bernyanyi beberapa lagu bersama Lyana. Hari ini adalah hari penting, jadwal bimbingan dengan dosen pembimbing pertamanya untuk meminta acc skripsi. Begitu Gian memasuki ruang dosen, Ia terkejut bukan main karena ternyata bukan dia yang menyambut melainkan dirinya yang disambut oleh para dosen tersebut.
“Selamat datang, calon penyanyi terkenal!” Seru beberapa dosen yang sudah menunggunya. Mereka bahkan meniup terompet kecil, layaknya pesta ulang tahun. Kening Gian langsung berkerut.
“Ada apa ya, Pak... Bu?” Tanyanya heran.
Pak Panji tersenyum lebar, lalu menyerahkan sebuah map berisi undangan.
“Seperti yang saya bilang kemarin, Gian. Kamu sudah saya daftarkan untuk tampil di acara festival musik yang diadakan salah satu stasiun televisi, ini undangan resminya.”
“Iya, Gian, kami percaya kalau kamu pasti bisa tampil dengan maksimal,” timpal seorang dosen perempuan paruh baya yang juga ada di ruangan itu. Gian menelan ludah, masih tak percaya mendapatkan penghargaan ini yang merupakan impian besarnya meskipun sangat mustahil didapatnya dulu, namun hari ini Ia benar-benar mendapatkan itu. Rasa haru dan senang bercampur menjadi satu dalam dirinya sekarang.
“Lalu, bagaimana dengan skripsi saya, Bu Tini?”
“Tenang saja, mana skripsimu? Biar Ibu koreksi sini.” Gian buru-buru menyerahkan naskah skripsinya dengan berjalan ke arah Bu Tini. Anehnya, Bu Tini bahkan hanya melirik sekilas sebelum langsung menandatanganinya.
“Langsung acc, ya. Supaya kamu bisa cepat lulus, dan setelah itu fokus jadi penyanyi terkenal!” Katanya penuh semangat. Senyuman langsung terukir di wajah Gian.
“Terima kasih, Bu... Pak, saya pamit dulu.” Begitu Gian keluar, beberapa dosen masih membicarakannya.
“Anak itu selain berbakat juga sopan sekali. Aku jadi ingin punya anak seperti dia,” ucap Bu Tini.
“Suaranya bagus, saya yakin Gian bisa mengharumkan nama kampus kita di festival itu,” sahut Pak Dery, sedangkan yang lain menimpali,
“Wah, aku jadi tak sabar menontonnya di televisi!”
Namun langkah Gian terhenti ketika Ia menutup pintu ruangan, di depannya berdiri seorang gadis dengan wajah gugup. Pandangan Gian yang semula tenang, seketika berubah muram begitu menyadari siapa yang ada di hadapannya, itu ialah Naomi. Gadis yang pernah membongkar masa lalunya di depan semua orang hanya demi mencari perhatian. Gian segera hendak melangkah pergi, tapi Naomi menahan tangannya.
“Gian, maafkan aku.”
Refleks Gian menepis, kali ini dengan tenaga, amarah mendadak membuncah setiap melihat wajah Naomi.
“Jangan sentuh aku!” Suaranya tajam.
“Aku tidak sudi disentuh oleh gadis munafik sepertimu.” Naomi berusaha mengejarnya.
“Aku benar-benar menyesal! Aku tahu waktu itu aku salah, aku sudah menjebakmu, Gian, tapi...”
“Hentikan, Naomi! Kamu pikir aku semudah itu memaafkanmu? Tidak akan pernah!”
Dengan napas berat, Gian bergegas ke parkiran motor. Di sana Lyana baru saja datang ke kampus.