Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #30

Malam Festival Musik

Suasana festival musik begitu ramai dan megah. Lampu-lampu panggung berkilauan, sorak-sorai penonton bergema, dan layar besar menyorot setiap detik penampilan di atas panggung. Beberapa penonton tampak sibuk mengabadikan momen dengan ponsel mereka, sementara sejumlah dosen dari Universitas tempat Gian menempuh pendidikan juga hadir, memberikan dukungan penuh untuk salah satu mahasiswa berbakatnya tampil di salah satu acara televisi malam ini.

“Aku sangat yakin, meskipun Gian hanya menyanyikan satu lagu saja, para penonton akan ketagihan dan memintanya tampil lagi,” ujar Pak Panji dengan semangat yang membara, matanya berbinar penuh kebanggaan.

“Iya, Pak. Saya juga sangat yakin, sehari-hari saja, meski tanpa mikrofon, suara Gian sudah sebagus itu. Dominan, bening, tegas, dan… pokoknya bagus banget lah! Sampai saya susah menjelaskannya. Hahaha... Apalagi kalau pakai mic, pasti terdengar lebih dalam dan meresap di telinga dan otak kita,” sahut Bu Tini dengan tawa kecil.

“Betul itu,” timpal salah seorang dosen lain,

“Kita lihat saja penampilannya kali ini, penonton sudah begitu banyak berdatangan sekarang, bahkan ada liputan televisi juga, semoga dia tidak gugup," kata Pak Derry cemas, sementara Pak Panji tersenyum tenang.

“Gian orang yang percaya diri, dia pasti bisa mengatasi kegugupannya dengan baik." balas Pak Panji.

Sementara itu, sorak penonton semakin riuh untuk menanti para artis terkenal yang akan menanti malam ini. Artis-artis terkenal lain mulai tampil membawakan lagu mereka masing-masing dengan penuh energi dan semangat masing-masing. Sekarang giliran Gian tampil, Ia melangkah ke panggung tanpa membawa gitar seperti biasanya, hanya mikrofon saja di genggaman tangan kanannya. Lyana masih merapikan baju Gian untuk tampil malam ini, begitu juga sedikit riasan di wajah Gian untuk membuat pesonanya makin terpancar.

"Semangat! Aku percaya, semua orang pasti akan menyukai suaramu, sayang." Bisik Lyana di telinga Gian. Lelaki itu tersenyum.

"Aku tahu, tapi... aku hanya sedikit gugup."

"Jangan gugup, anggap saja, semua yang menonton adalah aku, bayangkan wajahku." Gian mengangguk paham.

"Aku mengerti, sayang." Jawabnya.

"Penampilan selanjutnya adalah Gian dari Universitas Mahakarya!!!" Seru MC tersebut menyebutkan nama Gian. Lyana memberi kode untuk segera memasuki arena panggung, Gian menurut dan berjalan menuju panggung.

Gan mulai menyanyi dengan santai, mengikuti irama musik. Meski tanpa gitar, musik tetap mengalun indah, diiringi dentuman drum dan alunan piano yang menguatkan suasana. Suaranya yang jernih, tegas, sekaligus hangat langsung menyatu dengan iringan musik, membuat penonton terdiam terpukau.

Satu lagu, dua hati...

Yang kuberikan padamu...

Setiap malam ku selalu...

melewati bersamamu...

Hanya padamu, sayangku...

Sejenak keheningan menyelimuti arena, lalu bergemuruh sorak penonton.

“Waaahhh!!! Perfect!” Teriak salah satu penonton, disambut tepuk tangan meriah dan sorak-sorai yang makin riuh.

Sementara di rumah yang kumayan besar itu, terdapat sebuah keluarga yang sedang menonton televisi.

"Itu Gian putra kita tampil di televisi, Pa!" Seru Nyonya Bella.

Lihat selengkapnya