Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #31

Hancur Sudah

Malam itu udara di sekitar venue festival musik masih terasa panas dan sesak, meskipun api kecil akibat konsleting listrik sudah berhasil dipadamkan. Kru sibuk mengatur peralatan yang berserakan, para penonton sudah dipulangkan, dan suasana berangsur lengang. Namun bagi Lyana, kekacauan baru saja dimulai.

Ia berlari ke setiap sudut gedung, matanya liar mencari sosok Gian. Jantungnya berdetak cepat, rasa sesak mencekik tenggorokan, setiap langkahnya hanya dipenuhi satu nama, yaitu Gian.

“Dia pasti di sini,” gumam Lyana dengan suara bergetar.

“Dia nggak mungkin pergi begitu saja tanpa aku.”

Namun di setiap ruangan yang Ia masuki kosong. Setiap wajah yang Ia tanyai, hanya menggeleng atau berkata tidak tahu.

“Dia mungkin sudah dievakuasi keluar,” ujar salah seorang kru.

“Tapi siapa yang membawa dia keluar?” Lyana mendesak, matanya memerah karena cemas.

Belum sempat Ia melanjutkan pencariannya, seseorang menepuk bahunya. Lyana menoleh cepat, seorang pria berambut acak-acakan, dengan kamera tergantung di lehernya, berdiri di hadapannya, Nuel.

“Lyana!” Panggil Nuel.

“Aku lihat Gian tadi!” Seru Nuel, mata Lyana melebar karena penasaran.

“Kamu lihat Gian? Di mana dia sekarang?” Nuel menarik napas, lalu menjawab pelan.

“Aku lihat dia dibawa keluar sama seseorang dan masuk ke dalam mobil sport hitam. Tapi aku nggak tahu ke arah mana mobil itu pergi,” seakan dunia runtuh di hadapan Lyana, kakinya terasa lemas.

“Mobil sport? Siapa yang membawa dia? Mungkinkah mobil itu milik Akbar? Dia kan ada dendam padaku juga,” tanya Lyana.

“Aku nggak jelas lihatnya, yang mempunyai mobil seperti itu di kampus kita kan banyak, apalagi ini di arena festival musik, jadi kurasa itu bukan milik anak kampus kita, Ly,” Nuel menggeleng.

“Tapi dari yang kulihat, Gian kelihatan lemas banget, seperti orang nggak sadar,” lanjut Nuel.

Lyana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Panik, takut, dan marah bercampur jadi satu.

“Ya Tuhan... Gian...”

Belum sempat Ia merangkai kalimat berikutnya, ponselnya berbunyi. Getaran itu begitu kuat di genggamannya, seakan memberi pertanda buruk. Dengan tangan gemetar, Lyana membuka notifikasi yang muncul dari nomor tak dikenal. Bukan mendapat kabar tentang di mana lokasi Gian, tapi Ia mendapatkan sebuah foto yang sengaja dikirim padanya, matanya langsung membesar melihat itu.

Lihat selengkapnya