Tubuh Gian bergetar pelan saat cahaya matahari menembus celah gorden kamar hotel hingga masuk ke kelopak matanya. Kepalanya masih terasa berat, meski kesadaran mulai pulih perlahan. Saat Ia mencoba menggerakkan tangan kirinya, sebuah rasa pegal seperti menahan pergerakannya. Matanya membuka sedikit demi sedikit, lalu membelalak saat melihat pemandangan di sampingnya. Itu ialah Naomi, gadis yang paling Ia hindari.
Gadis itu berbaring di sisi ranjang, rambut tergerai di bantal, wajahnya tenang dalam tidur. Yang membuat dada Gian seketika sesak bukan hanya keberadaannya, melainkan kenyataan bahwa tubuh Naomi juga tanpa busana, terbungkus satu selimut yang sama dengannya.
“Apa... yang sebenarnya sudah terjadi?” Gumam Gian lirih, tenggorokannya mulai terasa kering karena terlalu lama tidur, antara sadar gak sadar semalam.
Ia segera duduk dengan tergesa, tidak peduli kalau Naomi akan terbangun atau tidak. Masih dengan matanya yang melebar tak percaya, juga masih memegangi kepalanya yang semakin berdenyut. Potongan-potongan ingatan menyeruak, mulai dari minuman di backstage, tubuhnya yang terasa panas setelah minum air putih dari botol yang diberikan oleh Lyana, kemudian Naomi yang mendekatinya, dan kabut samar yang menutup kesadarannya. Lalu bayangan tubuh mereka berdua di ranjang, desahan, nafas, pelukan, ciuman. Semua kembali menghantamnya seperti palu yang tengah memukul hatinya.
“Tidak...” Gian meremas rambutnya, rasa muak dan marah bercampur jadi satu. Ia menyingkap selimut, melihat tubuhnya sendiri yang telanjang, lalu buru-buru meraih celana dan kaus yang tergeletak di lantai.
“Kamu... kamu telah menjebakku, Naomi!” Suaranya pecah, penuh amarah sekaligus putus asa.
Suara Gian membuat Naomi bergeliat, kemudian membuka matanya perlahan. Ia mengucek mata seperti orang yang baru saja bangun dari tidur nyenyak, lalu menatap Gian dengan senyum samar.
“Kenapa pagi-pagi begini sudah ribut sih, Gian?” Suaranya tenang, santai, seolah semua ini hal yang wajar. Gian berdiri, membelakangi Naomi sambil mengenakan celananya.
“Kamu... kamu telah mempermainkanku!”
Naomi tertawa kecil, menyibakkan selimut hingga sebagian tubuhnya yang indah terlihat.
“Lagi pula, aku sudah melihat milikmu semuanya, Gian. Kamu juga sudah melihat punyaku. Jadi, apa yang harus kamu malu-maluin lagi sekarang?” Naomi menaikkan satu alisnya.
“Tutup mulutmu, Naomi!” Gian membalikkan tubuhnya, wajahnya memerah, bukan karena malu tapi karena marah.
“Yang semalam itu bukan aku! Aku bahkan tidak ingat jelas semuanya!”
Naomi bangkit dari ranjang, melangkah pelan menghampiri Gian. Jemarinya menyentuh lengan Gian, membuat pria itu menegang.
“Tapi aku ingat, Gian. Semalam... kamu begitu perkasa. Kamu memelukku, menciumku, menyentuhku seolah aku satu-satunya perempuan yang kamu inginkan. Itu adalah hal yang tidak akan pernah kulupakan.”
“Diam!” Gian mendorong tangannya kasar, napasnya tersengal.
“Aku tidak menginginkanmu, semua itu bukan berdasarkan kemauanku!” Bantah Gian.
Naomi menatapnya lekat, lalu tersenyum penuh arti.
“Kenapa memangnya? Hanya dengan cara ini, kamu bisa lepas dari Lyana. Kamu tahu kan, Gian? Kalian tidak akan pernah bisa bersama, aku sudah buktikan. Malam yang indah itu... kamu tidak bisa memutar baliknya.”
“Tidak!” Gian menggeleng kuat, air mata hampir menetes karena frustasi.