Pagi itu setelah daru rumah Pak Panji dan bertemu kru festival, Gian berjalan gontai di trotoar yang lengang. Matahari sudah meninggi, tapi tubuhnya terasa masih berat, pikirannya penuh dan semakin membuatnya pusing. Jaket jeans yang Ia kenakan begitu lusuh, kausnya kusut dan separuh keluar dari celana. Rambut hitamnya berantakan, bahkan wajahnya masih terlihat pucat.
Setiap langkah yang Ia ambil seperti menambah beban baru yang harus dilalui. Bayangan kejadian semalam terus menghantuinya. Naomi, gadis itu mulai dari senyumnya, tubuhnya, desahan yang seolah masih menempel di telinganya. Semuanya begitu kabur dan samar, seperti mimpi buruk yang tidak bisa Ia usir meski sudah terbangun.
“Kenapa hidupku harus begini?” Gumam Gian lirih sembari mengacak rambutnya kasar.
Gian benci dirinya sendiri, dia tidak pernah menginginkan Naomi, yang dia hanya inginkan ialah Lyana. Tapi pada kenyataannya, semua tidak sesuai dengan apa yang dia ekspektasikan. Tubuhnya menyerah di bawah pengaruh obat yang tidak dia sadari, dan sekarang, dia tidak tahu apa yang dipikirkan Lyana terhadap dirinya. Hidupnya merasa hancur jika tanpa Lyana, Ia tidak bisa membayangkan hal itu akam terjadi padanya. Apakah Lyana membencinya? Apakah Lyana akan meninggalkannya? Atau mungkin Lyana sudah melihat foto-foto yang disebarkan Naomi? Hati Gian terasa hancur setiap kali memikirkan itu. Sembari mengurut keningnya, Ia mencoba memikirkan solusi dari masalahnya.
"Lyana pasti membenciku, buktinya dia semalaman tidak mencariku." Namun seketika Ia seperti mengingat sesuatu.
"Atau... mungkinlah Lyama mencariku tapi Naomi yang sengaja tidak memberitahu lokasi kami? Benar-benar licik! Aku tidak akan pernah sedikitpun memaafkan Naomi!"
Namun di tengah kekacauan pikirannya, ada satu hal yang juga tak kalah besar. Tiba-tiba Ia melirik pada map yang Ia genggam. Sebuah undangan audisi menyanyi yang Ia terima dari kru Pak Panji. Tawaran besar yang bisa membuka pintu karirnya, sesuatu yang Ia impikan sejak lama.
"Di satu sisi aku pengen nunjukij ini ke Lyana, tapi di sisi lain... Lyana sudah terlanjur membenciku."
Entah dari mana Gian akan bisa mengejar mimpi itu jika hubungannya dengan Lyana hancur berantakan. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya, meski tubuhnya gemetar. Hingga tak terasa, langkahnya sampai di depan kost kecil yang sudah menjadi saksi perjalanan cintanya dengan Lyana.
Gian tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika atensi matanya melihat ke arah
bawah pohon mangga tua itu. Lyana duduk di kursi panjang sederhana, rambutnya diikat setengah, wajahnya polos tanpa riasan, tapi mata itu ialah Mata yang selama ini memberi Gian kekuatan tampak redup. Ada lelah, ada luka, ada sesuatu yang tidak bisa Gian baca sepenuhnya.
Jantung Gian serasa diremas, Ia ingin berlari menghampiri Lyana, ingin menjelaskan segalanya supaya gadis itu tidak salah paham seperti waktu itu. Tapi kenyataannya bahkan lebih pahit dari apa yang akan dia jelaskan pada Lyana, bahkan Gian ingin berlutut dan memohon maaf pada Lyana, tapi kakinya seolah ada yang menahan meski hatinya sebenarnya menjerit.
“Aku... aku gak punya muka lagi buat ketemu dia.” Desisnya pada diri sendiri.
Ia menunduk, berjalan cepat melewati Lyana tanpa menoleh, seolah Lyana hanyalah angin yang tak kasatmata. Langkahnya berat menuju pintu kamar kostnya, bahkan tangannya gemetar ketika hendak meraih gagang pintu. Namun tiba-tiba…
“Gian?”
Suara lembut itu mulai menyapa, tapi cukup untuk menghentikan seluruh dunia Gian. Tubuhnya membeku, lalu perlahan Ia menoleh. Lyana sudah berdiri, berjalan mendekat dengan langkah pelan. Wajahnya tidak penuh amarah seperti yang Gian takutkan, melainkan tenang, walau ada gurat kesedihan yang tak bisa disembunyikan.
“Jangan mendekatiku, Ly!” Cegahnya, suara Gian sedikit bergetar, matanya juga memerah.
“Aku... aku lelaki tidak tahu diri! Kamu pasti kecewa karena kejadian semalam aku... aku dengan Naomi...” Suara itu melemah di akhir, penuh penyesalan. Gian ingin menangis, tapi Ia menahannya. Lyana berhenti di depannya, lalu tersenyum samar, Ia mengangkat tangan kanannya, menempelkan jari telunjuknya di bibir Gian.