Suara mesin bus yang bergemuruh menjadi latar perjalanan panjang itu. Dari kursi dekat jendela, Lyana hanya diam, pandangan matanya kosong menembus kaca bus tersebut. Pemandangan pepohonan yang berlari mundur seakan tak benar-benar terlihat olehnya. Udara di dalam bus yang cukup sejuk pun tak mampu menenangkan hatinya yang masih gundah. Ada sesuatu yang menghantui pikirannya sejak pertemuan dengan Mama Gian.
Gian, yang duduk di sampingnya melirik beberapa kali. Ia tahu betul, Lyana sedang memikirkan sesuatu yang berat, tentunya tentang respon Mamanya tadi. Tangannya sudah beberapa kali ingin menyentuh tangan Lyana, namun Ia ragu. Sampai akhirnya Gian menghela napas dan bertanya pelan pada kekasihnya itu.
“Kamu masih mikirin apa yang dibilang Mamaku tadi, ya?” Lyana tersentak kecil, lalu buru-buru menggeleng dan menghadap ke arah Gian.
“Bukan gitu, Gi...” Jawabnya singkat.
Namun Gian tahu itu hanyalah penyangkalan. Ia menunduk, menatap lantai bus sebentar sebelum akhirnya menguatkan diri untuk bicara lagi.
“Maafkan aku, Ly. Ini semua memang salahku, andai saja malam itu aku gak hilang kesadaran, kalau aku lebih berhati-hati dengan pergerakan Naomi, pasti semua ini gak akan terjadi. Naomi juga gak akan hamil, dan sekarang? Mamaku akan terus memaksaku untuk menikahinya."
Lyana segera menoleh, sorot matanya tajam tapi bukan karena marah, melainkan perasaan yang bercampur aduk.
“Gak gitu, Gian. Aku hanya memikirkan kalau dari awal kan Mama kamu memang gak pernah suka sama aku, bahkan dari kita kecil dulu. Seolah apa pun yang aku lakukan selalu salah di matanya.”
Sekilas, ada senyum getir di bibir Lyana. Gian langsung menghela napas panjang, matanya memandang keluar jendela sejenak sebelum kembali menatap Lyana.
“Memang sih, Mama aku gak pernah suka sama kamu sejak dulu, entah kenapa semenjak ada Naomi, Mamaku selalu saja mengagung-agungkan Naomi dan bisa lebih percaya dengan gadis penjilat itu. Dan gadis itu... dia memang pintar dalam memutar balikkan keadaan, dia tahu cara membuat Mama aku semakin benci sama kamu. Tapi tenang, Ly, meskipun Mama aku membencimu, bukan berarti Papa dan Kakakku juga membencimu. Aku yakin, Papaku lebih mendukung cinta kita,” sahut Gian dengan menatap dalam mata Lyana. Lyana sedikit terbelalak memikirkan arah pembicaraan Gian.
“Yang bener, Gi? Papa kamu emangnya gak benci sama aku juga?” Lyana seketika menatap Gian penuh harap.
“Iya, Ly, percaya deh sama aku.” Gian tak menunggu jawaban lagi, Ia langsung merengkuh tubuh Lyana, membuat gadis itu bersandar pada dadanya. Ada kehangatan yang seolah menyapu keresahan dan kegundahan Lyana, meskipun hanya sesaat. Sudut bibir Lyana sedikit tertarik ke atas.
***