Satu Lagu, Dua Hati

Nurul Adiyanti
Chapter #39

Interaksi dengan Fans Meski Hati Terluka

Lampu-lampu jalan berkilauan, gedung-gedung tinggi yang menjulang ke atas dipenuhi penerangan seperti bintang buatan, dan suara kendaraan bergemuruh sepanjang malam. Namun bagi Gian, semua itu terasa asing. Hiruk-pikuk metropolis yang biasanya memberi energi justru menekan dadanya, seolah-olah setiap suara klakson adalah gema dari kegelisahan dalam dirinya sendiri.

Sejak Lyana pergi, dunianya kehilangan warna. Musik yang biasanya menjadi rumah tempatnya bernaung, kini hanya terdengar seperti gema kosong. Setiap lirik yang Ia nyanyikan terasa hambar, setiap nada piano mengingatkan pada senyumnya, dan setiap irama gitar membawanya pada bayangan wajah Lyana yang semakin jauh.

Di studio, Gian duduk termenung menatap mikrofon. Sudah dua jam Ia di sana, tapi tak ada satu bait pun yang berhasil Ia rekam dengan sepenuh hati. Nafasnya berat, matanya sembab, meski Ia berusaha menutupinya di depan kru dan managernya.

Pak Panji, manajer sekaligus sosok yang sudah seperti ayah baginya, masuk ke ruangan itu dengan ekspresi khawatir. Ia meletakkan kopi di meja lalu duduk di hadapan Gian.

“Gian,” katanya dengan suara berat tapi lembut.

“Kamu harus kuat, aku tahu kalau kamu sedang kacau. Tapi ingat, kariermu sedang berada di puncak. Para fansmu sedang menunggu, dunia industri ini begitu kejam kalau kamu goyah. Masalah pribadi, biarlah nanti kita cari solusinya, yang terpenting sekarang adalah pekerjaan ini dulu,” Gian menunduk sembari meremas jemari tangannya sendiri.

“Pak Panji, bagaimana aku bisa bernyanyi kalau separuh jiwaku hilang? Lyana adalah inspirasiku. Tanpa dia, aku bukan siapa-siapa.” Pak Panji menatapnya lama, lalu menghela napas.

“Aku mengerti, Nak. Tapi kadang, justru di saat kita paling hancur, panggung bisa jadi tempat kita bertahan hidup. Cobalah dulu malam ini, setelah itu baru kita pikirkan langkah selanjutnya.” Gian menganggungk paham.

Malam itu, lampu-lampu panggung menyilaukan mata. Sorak-sorai penonton mengguncang arena konser. Ratusan orang mengangkat lightstick, memanggil namanya, menanti suara emas yang selama ini mereka kagumi.

"Aku harus tetap menjadi Gian yang para fans inginkan, mereka adalah hidupku. Mungkin dengan fokus untuk pekerjaan malam ini, aku akan merasa terhibur. Jika tidak bisa menjadi penyembuh luka sendiri, maka jadilah penyembuh luka untuk orang lain." Kata Gian menyemangati diri sendiri sembari mengepalkan tangan ke udara.

Gian melangkah ke tengah panggung dengan hati yang masih tidak enak. Di dalam dirinya, ada perang antara kesedihan mendalam dan tanggung jawab sebagai musisi. Namun saat musik mengalun, sesuatu yang ajaib terjadi.

Nada tinggi pertama yang keluar dari mulutnya terdengar jernih, tak tergoyahkan. Meski pikirannya kacau, tubuhnya seperti bergerak otomatis, dihidupkan oleh kebiasaan dan cinta sejatinya pada musik. Ia bernyanyi dengan sepenuh tenaga, matanya sesekali menatap ke arah kerumunan yang bersinar bagaikan lautan bintang.

Dan meski dalam hati ada luka, bibirnya masih bisa tersenyum. Ia menyapa penonton di setiap jeda, bercanda kecil, membuat semua orang yang hadir merasa diperhatikan. Para fans semakin jatuh hati, tak menyadari bahwa idolanya sedang rapuh di balik sorotan lampu. Setelah tiga lagu berlalu, Gian berdiri dengan dada naik turun, keringat mengalir, tapi sorot matanya masih kuat.

"Baiklah, karena aku di panggung yang megah ini hanya sendirian, bagaimana kalau ada yang menemani di sini?" Dengan bercanda seperti itu, membuat penonton bingung.

"Maksudnya?" Tanya mereka serentak, sedangkan Gian tertawa.

"Hahahaha, aku akan memilih satu diantara kalian yang mau untuk bernyanyi di sini bersamaku dengan lagu berjudul Sinderela. Siapa yang sudah hafal liriknya? Boleh menyanyi bersamaku di sini." Mereka semua semakin bersorak senang.

"Ada yang mau? Coba angkat tangan, kalau yang jauh tidak terjangkau ya yang dekat saja, hehehehehe." Seorang gadis yang badannya sedikit berisi dan berambut hitam lurus digerai dari pembatas panggung pun meminta kru untuk naik ke atas panggung.

"Oh ini sudah ada yang maju, ayo... silakan perkenalan diri dulu, siapa namamu?" Gian mengarahkan microfonnya ke arah fans tersebut.

"Halo, nama saya Viona, biasa dipanggil Vivi,"

"Vivi? Vi ai, Vi ai?" Fans tersebut mengangguk sembari tertawa mengikuti alur Gian.

"Baiklah, ayo kita menyanyi bersama, inilah lagu Sinderela!!" Seru Gian.

Lagu Sinderela selesai, dinyanyikan, Vivi sangat senang karena bisa bernyanyi bersama idolanya.

Lihat selengkapnya