Flashback
Gian baru saja menyelesaikan performnya malam ini dan berniat untuk menjemput Lyana di desa setelah mendapat persetujuan dari Pak Panji. Ketika keluar dari tenda bersama dengan Supirnya, yaitu Pak Hendy, Ia pun mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya dari belakang.
“Gian!” serunya pelan namun penuh desakan. Gian menoleh ke belakang, dan itu ialah seorang teman yang dikenalnya ketika kuliah.
“Kita perlu bicara sekarang juga.” Gian menatap temannya itu dengan kening berkerut.
“Kenapa? Wajahmu seakan seperti baru melihat hantu.” Nuel melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar.
“Ini tentang Naomi, tentang kecelakaan yang waktu terjadi padamu dan Lyana hingga membuat Lyana keguguran." Gian menegang, nama itu selalu membawa bayangan gelap ke dalam pikirannya.
“Apa maksudmu, Nuel? Bukankah kecelakaan itu sudah sangat lama? Toh aku juga sudah sembuh, ngapain harus dibahas lagi?” Nuel menelan ludah, matanya bergerak gelisah.
"Gian, aku hanya ingin kalian tahu, aku sudah lama membungkam kejahatan Naomi ini,"
“Waktu itu aku sudah diancam, dia bilang kalau aku buka mulut, aku bisa celaka.” Suara Nuel bergetar.
"Aku masih tidak mengerti maksudmu, Nuel," sahut Gian.
“Kecelakaan waktu kita kuliah dulu yang membuat kalian hampir kehilangan nyawa itu bukan kebetulan. Semua sudah direncanakan oleh Naomi.” Gian terperangah.
"Hah... aku sudah menduga ini, dan dia berpura-pura manis terhadapku, bahkan dia menghasut Mamaku lagi untuk menjauhkanku dengan Lyana. Tapi kan kita tidak bisa langsung menyalahkan Naomi tanpa bukti," tambah Gian.
"Aku juga membawa bukti, Gian."
"Pak?"
Nuel seperti mengkode sesuatu pada seseorang dari balik bayangan lorong, dan seorang lelaki paruh baya bermata sayu berjalan ke hadapan mereka. Lelaki itu menunduk, wajahnya penuh rasa bersalah.
“Ini Pak Wiryo,” ucap Nuel lirih.
“Dia orang yang dibayar Naomi untuk menabrak kalian malam itu.”
Udara di sekeliling mereka serasa membeku. Gian menatap pria itu tajam, dadanya naik-turun menahan emosi.
“Maafkan saya,” suara Pak Wiryo parau.
“Saya... saya dibayar untuk membuat kalian terluka, bukan untuk membunuh. Tapi saya menyesal, saya datang karena tidak kuat menanggung dosa ini.” Kedua tangan Gian pun terkepal erat menahan emosi.
“Naomi...” gumamnya penuh amarah.
Flashback END
Malam ini, ketika Gian sampai di halaman depan rumah Paman Vino, Gian menceritakan semuanya. Lyana berdiri di sebelahnya, sementara Bu Ranti, Paman, dan Bibi Lyana mendengarkan dengan wajah terkejut. Nuel berdiri tak jauh di belakang, menatap aspal.
“Saya juga pernah diancam Naomi,” Nuel akhirnya angkat bicara.
“Dia bilang kalau saya berani buka mulut, dia akan mencelakai saya. Tapi saya tidak bisa diam lagi untuk sekarang, saya rasa ini adalah saat yang pas untuk mengungkap kebenaran.” Bu Ranti memegang dada, terkejut sekaligus marah.
"Jadi... yang membuat janinku meninggal karena kecelakaan adalah Naomi? Naomi yang meminta Pak Wiryo untuk mencelakaiku dan Gian?"
"Iya, Maafkan saya.." Lyana memejamkan matanya sekilas.
"Baiklah, karena masalah ini sudah lama, jadi saya bisa memaafkan Bapak. Tapi tidak dengan Naomi." Sahut Lyana.