RAYA
Tes ….
Sensasi manis itu bisa aku rasakan. Aku belum menelannya. Lidahku berputar-putar dalam rongka mulut, meratakan benda cair yang ada di dalam mulutku.
“Ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan,” ucapku sembari melihat botol kaca coklat bertuliskan Nystatin.
Dua puluh detik berlalu, aku menelan suspensi berwarna kuning keruh itu. Cairan itu masuk dengan lambat ke dalam rongga esofagusku. Otot-otot leherku ikut bergerak, mengikuti pergerakannya. Saat cairan itu tak dapat kurasakan lagi, aku memejamkan mata dan menghela napas panjang.
Aku menatap tiga jenis obat yang diresepkan oleh dokter gigi langgananku. Lalu tangan kananku meraba isi tas dan menarik ponselku. Jemariku menari di atas benda pipih itu untuk mencari informasi, yang sebenarnya sudah puluhan kali aku ketik.
“Kandidiasis, obat nystatin,” ucapku pelan. “Ah,” teriakku pelan saat merasakan sensasi panas dan perih di lidah.
Ting ….
Aku menatap layar ponsel dan membaca pesan yang baru saja masuk. “Aku mau ke rumah kamu,” ucapku pelan. “Bercanda kali ….. Gak mungkin lah dia ke rumah. Lagian ngapain ke rumah?” gerutuku dengan jemari yang masih mencari pembenaran tentang sakit yang ku derita.
“Bagaimana bisa gigi yang telah aku rawat bisa menyebabkan kandidiasis?” gerutuku saat membaca alasan kenapa sensasi panas ini menjalar di lidahku. “Lebih baik aku copot aja kali gigi ini. Tapi bagaimana kalau nanti gigiku hilang, enggak cantik lagi dong?”
Masih dengan posisi kaki yang bersila di atas kasur, aku menjatuhkan tubuhku, menatap langit-langit kamar dengan penuh keputus asaan. Sebuah pesan masuk. Namun aku tidak memerdulikannya.
Obat-obat itu masih berserakan di bawah kakiku, menemani puluhan pesan yang masuk tanpa henti. Namun, tubuhku enggan untuk beranjak dan membaca pesan itu. Berlahan kesadaranku mulai menghilang, berlari menjauhi kehidupan nyata.