Sabtu, 18 April 2026
Langkah kaki kami memasuki sebuah lorong. Sepanjang mata memandang, yang terlihat adalah barang-barang kuno, seperti radio cassette, setrika arang, lampu petromaks, kendi serta rantang jadul. Benda-benda itu tertata rapi di sebuah almari kayu tertutup kaca, bersama dengan beberapa buku kedokteran yang berjajar dengan begitu rapi.
Ternyata dua hal yang berbeda bisa bersatu dalam satu ruang, menghidupkan suasana, di tengah ketengan dinding berwarna hijau toska itu.
Tidak hanya benda-benda klasik di dalam almari yang kami lihat. Saat menunduk yang terlihat bukanlah lantai berbahan vinyl modern, melainkan lantai tegel jadul polos berwarna hitam.
Saat sampai di depan ruangan, dengan pintu bertuliskan Ruang Dokter Spesialis Andrologi, dr. Candra Setyo Nugraha, Sp. And., langkah kami berhenti.
“Masih ada pasien,” ucap suamiku.
Aku mengangguk.
Kami akhirnya memilih untuk duduk di sebuah kursi besi, yang ada tepat di depan ruangan.
Beberapa orang berlalu lalang, tersenyum ramah kepada kami. Sampai akhirnya salah satu dari mereka ada yang bertanya, “sudah buat janji?”
“Sudah,” jawab suamiku. “Dengan dokter Candra.”
“Oh, Andrologi …,” sahutnya sembari tersenyum. “Mohon ditunggu sebentar ya Pak. Karena masih ada pasien.”
Suamiku mengangguk, begitupula denganku.