Satu Lustrum Bercerita

Sena N. A.
Chapter #3

Chapter II

Sabtu, 21 Maret 2026

RAYA

Saat memandang langit, aku tak melihat apapun, hanya warna hitam pekat, sepekat vantablack. Perlahan aku menghirup udara yang telah bercampur uap air sembari menarik kerah jaket biruku. Samar-samar aku mendengar alunan takbir, yang sepertinya menolak untuk menemani gelapnya malam. Semakin lama, suara itu terdengar dengan jelas.

Awohuakbal Awohuakbal …. Awoahuakbal ….”

Suara itu bersenandung, mencoba mengikuti irama sebelumnya. Aku tersenyum, mengikuti alunan takbir yang berkumandang.

“Ternyata sudah empat tahun ya kita menikah,” ucap lelaki yang tengah memboncengku.

“Empat tahun lebih 11 bulan,” jawabku sembari memanyunkan bibir.

“Masih empat tahun,” sanggahnya.

“Dingin ya, mudah-mudahan enggak hujan. Kasihan anak-anak yang takbiran kalau hujan,” ucapku sambil memeluk tubuh seberat 72 kg yang ada di depanku.

Dia tak menjawab sepatah katapun. Semakin lama, ia mulai mempercepat laju sepeda motor kami.

“Jangan cepat-cepat, aku masih pingin pergi ke Makkah Medinah,” teriakku.

“Makanya pegangan yang kuat,” sahutnya sembil menambah kecepatan sepeda motor.

***

“Akhirnya sampai juga,” ucapku sembari mengangkat helm yang telah berada di atas kepalaku selama 1 jam. “Tasnya aku yang bawa?”

“Biar aku saja,” sahutnya sambil tersenyum menggoda.

Setelah mendengar jawaban itu, aku berjalan menjauhinya, menghampiri dua daun pintu yang terbuka lebar. Beberapa kali salam aku ucapkan, namun tidak ada yang menjawab.

Sreng …..

Mataku terpejam, sedangkan hidungku mengikuti pergerakan aroma itu, campuran bahan-bahan dapur yang baru saja masuk ke dalam wajan panas.

Langkah kakiku melangkah dengan pelan, mendekati sebuah ruangan yang penuh dengan perabotan rumah tangga. Aku masih belum mengeluarkan sepatah katapun. Namun, netraku mengamati apa yang ada di sana. Sosok itu terlihat sedang berdiri di depan kompor, menggerakkan tangan kanannya dengan cekatan. Satu demi satu bahan-bahan yang berada tidak jauh darinya, ia masukkan ke dalam wajan.

Aku berjalan mendekat. Namun, langkah kakiku terjeda, saat aku melihat tungku yang membara. Tepat di atasnya terlihat satu ekor ayam utuh, tanpa bulu. Kaki dan sayapnya terikat ke sebuah bambu runcing sepanjang lima puluh sentimeter. Begitu pula dengan kepalanya yang tampak ditekuk ke bagian punggung, menyelinap di antara potongan bambu yang mengikat kaki dan sayapnya.

Lihat selengkapnya