Satu Meter dari Ibu

Aksara Tresna
Chapter #1

Bab 1: Satu Meter yang Jauh

Bab 1: Satu Meter yang Jauh

Rumah nomor dua belas di ujung Gang Meranti itu tidak pernah benar-benar mengenal suara tawa, setidaknya tidak dalam sepuluh tahun terakhir. Bagian dalamnya selalu dibasuh oleh cahaya lampu neon yang terlalu putih, membuat segalanya tampak seperti koridor rumah sakit yang steril. Bagi Niskala, rumah ini adalah sebuah museum sunyi, di mana setiap benda memiliki tempatnya sendiri, namun tidak satu pun memiliki nyawa.

Niskala berdiri di ambang pintu kamarnya yang sedikit berderit. Ia memperhatikan punggung Ibu Sarah yang sedang duduk tegak di kursi meja makan kayu yang kaku. Jarak di antara mereka mungkin hanya satu meter—jarak yang sangat pendek bagi orang lain untuk sekadar mengulurkan tangan dan mengusap bahu, namun bagi Niskala, satu meter itu adalah sebuah jurang tak kasat mata yang sangat curam.

Detak jam dinding di ruang tengah terdengar seperti ketukan palu yang menghakimi. *Tik. Tok. Tik. Tok.* Monoton dan menyakitkan.

Niskala meremas ujung sweter *navy* yang sengaja ia pilih karena ukurannya dua kali lebih besar dari tubuhnya. Ia selalu merasa butuh tempat untuk bersembunyi, bahkan di rumahnya sendiri. Napasnya tertahan di kerongkongan saat ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk memecah keheningan yang sudah membeku di udara.

"Ibu," panggil Niskala pelan. Suaranya serak, seolah pita suaranya sudah berkarat karena jarang digunakan untuk berkomunikasi di bawah atap ini.

Ibu Sarah tidak menoleh. Jemarinya masih lincah menyapu layar ponsel di atas meja. Cahaya biru dari layar itu memantul di kacamata miniskus sang ibu, menciptakan kilatan dingin yang membuat wajahnya tampak seperti porselen tanpa ekspresi. Ibu Sarah sedang memeriksa laporan keuangan kantor, atau mungkin jadwal rapat untuk besok pagi. Apa pun itu, segala hal di layar itu tampak jauh lebih penting daripada sosok gadis remaja yang berdiri satu meter di belakangnya.

"Uang sekolah sudah Ibu transfer tadi pagi. Cek aplikasimu," sahut Ibu Sarah. Suaranya datar, tanpa intonasi, seolah ia sedang membacakan pengumuman keberangkatan kereta api.

Niskala menelan ludah. "Bukan itu, Bu. Aku cuma mau bilang..."

Kalimat itu menggantung di udara. Niskala ingin menceritakan tentang bagaimana hatinya mencelos saat melihat teman-temannya dijemput orang tua mereka dengan pelukan hangat di depan gerbang sekolah tadi siang. Ia ingin bilang bahwa ia merindukan aroma masakan rumahan yang memenuhi dapur, bukan aroma mie instan atau makanan pesan antar yang selalu ia santap sendirian. Ia ingin bilang bahwa ia merasa kesepian hingga dadanya terasa sesak.

Lihat selengkapnya