Satu Rumah Dua Luka

Vebrian D. Langkai
Chapter #1

The Rising Star

HAPPY WEDDING ANNIVERSARY UNTUK PAPA PENGKHIANATKU DAN PELAKORNYA’

Sebuah karangan bunga berdiri paling depan, Desain dan ukurannya sama saja seperti karangan bunga lainnya, tapi itu jadi yang paling mencolok di antara ucapan selamat lainnya.

Kala itu dua tahun lalu, rumah besar milik Pratama sedang ramai. Halaman depannya dipenuhi mobil yang datang silih berganti. Beberapa tamu baru saja turun dengan pakaian terbaik mereka, sementara yang lain sudah berdiri di dekat pagar, bersiap pulang setelah mengucapkan selamat.

Pelayan mondar-mandir membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil. Dari dalam rumah terdengar musik yang sengaja diputar cukup keras untuk mengusir kesunyian.

Malam itu adalah perayaan ulang tahun pernikahan Pratama dan Lidya yang ketujuh. Bagi sebagian orang, itu adalah malam untuk merayakan cinta.

Sementara bagi seorang pemuda 22 tahun bernama Elang, itu adalah kesempatan untuk mempermalukan pasangan yang menurutnya pantas dipermalukan.

Tulisan di atas karangan bunga yang sengaja ia kirim itu seharusnya sederhana. Tapi justru karena itulah semua orang membacanya. Seorang wanita berusia 29 tahun baru saja keluar dari rumah langsung berhenti. Matanya membesar.

“Ini punya siapa?”

“Enggak tau Bu, tiba-tiba aja udah di depan rumah” Kata seorang pria yang tengah mengangkat kursi.

Wanita itu kemudian menoleh ke seorang pelayan

“Tolong singkirkan sekarang.”

“Baik Bu” 

“Cepetan!” Pelayan itu buru-buru memanggil rekannya meminta bantuan untuk mengangkatnya.

Beberapa tamu mulai saling pandang. Ada yang menutup mulut, menahan tawa. Ada yang pura-pura sibuk melihat ponsel. Sebagian lainnya justru mengeluarkan kamera dan mulai merekam.

Di tengah kerumunan itu, Elang berdiri beberapa meter dari karangan bunga itu. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana. Tidak ada ekspresi marah di wajahnya. Tidak ada pula keraguan. Ia hanya tersenyum. Seolah-olah selama bertahun-tahun ia menunggu sore itu untuk akhirnya mengatakan sesuatu yang tidak pernah berani ia katakan di depan ayahnya.

Belum sempat karangan bunga itu diangkat, seorang pria 56 Tahun lewat tepat di depanya dan membaca tulisan itu sekilas, 

“Stop !” Perintah Pratama mencegah karangan bunga itu diangkat.

Ia lalu membacanya sekali lagi. Kali ini lebih intens. Dan kemudian wajahnya langsung berubah. Amarah memuncak seolah berhamburan keluar dari setelan jas mahal yang tengah ia kenakan.

“Bajingan! Beraninya main-main dengan saya !” Suaranya meninggi.

Pratama murka.

“...Ini pasti dari lawan politik saya ! sudah jelas ini mau hancurin nama baik saya !” 

Suaranya membuat beberapa orang terdiam. Tapi bisikan mulai terdengar.

“Iya bener, pak Pratama kan calon kuat”

“Tapi kayaknya itu dari anaknya sama istri sebelumnya deh…” Bisik seorang dari kerumunan

“Loh bukannya sudah meninggal ya?” balas yang lainnya

“Ahh itu yang meninggal kakaknya. Cewek.”

“Oh, iya. Yang cowok masih ada.”

“Kan !? ini yang dibawa mantan istrinya waktu pergi ninggalin pak Pratama ”

Bisikan itu terlalu jelas sehingga dengan mudahnya sampai ke telinga Elang.

“Kata siapa Pratama ditinggalin mantan istrinya ?” Sahut Elang dari belakang 

“Ya ceritanya sih gitu” Kata orang itu tanpa melihat Elang. 

“Hmm bohong itu ! Sepengetahuanku mereka yang diusir Pratama biar bisa nikah sama daun muda”

“Loh iya kah ? aku baru dengar ini, kamu tau dari mana ?” Tanya orang itu. Kali ini dia menoleh ke arah Elang.  

“Gue liat langsung soalnya"

Satu per satu menoleh ke arah Elang. Sampai seseorang mengenalinya, lalu langsung menunjuk ke arahnya.

“Itu dia bukan?”

Orang lain menyipitkan mata.

“Iya. Bener. Itu anaknya.”

Lebih banyak Kepala-kepala mulai menoleh. Kamera ponsel terangkat.

Elang akhirnya bergerak. Bukannya mundur, ia justru melangkah maju. Satu langkah, kemudian satu lagi, sampai ia berdiri cukup dekat dengan pria yang selama bertahun-tahun ia panggil ayah.

Pratama.

Laki-laki paruh baya itu berdiri di dekat pagar rumah bersama Lidya, Pratama menatapnya tanpa berkata apa-apa. Hanya terkejut bercampur amarah dan rasa malu.

Elang tersenyum.

“Hallo Pa, Apa kabar?”

Suasana jadi hening. Suara musik dari dalam rumah terasa mendadak jauh. Elang yang dari tadi memasukan kedua tangannya ke saku celana, Kini menyodorkanya di depan pasangan itu untuk berjabat.

“Selamat ulang tahun pernikahan, ya Pa.”

Lidya menggenggam lengan Pratama.

“Mas…”

Pratama tetap diam, Elang menarik kembali tangannya yang mereka acuhkan. Matanya kini melirik perempuan itu.

“Semoga bahagia sama…” Ia menunjuk Lidya dengan dagunya.

“…dia.”

Lidya menunduk.

“Mas, kita masuk aja.”

Elang terkekeh.

“Eh, sorry.” Ia menatap Lidya dari ujung kepala sampai kaki.

“Tadi gue mau manggil lo Mama.”

Lidya mengangkat wajah.

“Tapi…” Elang memiringkan kepala.

“...Gue gak nyaman. Lo kan cuman tuaan tujuh tahun dari gue.”

Beberapa orang di belakangnya tertawa kecil. Wajah Lidya berubah. Mata sinisnya mulai memerah dan basah, bahkan sudah mengalir sampai ke pipi. 

Pratama mulai maju.

“Elang…” Kata Pratama, tapi diabaikan Elang.

“Gue panggilnya Pe…la…kor aja gimana ? Gue nyamannya gitu soalnya” kata Elang dengan santai, malah tersenyum. 

“Hentikan Elang !” Emosi Pratama kian memuncak.

“Loh, emang bener kan ?”

Lihat selengkapnya