Tidak lama kemudian Elang dan Fia benar-benar berpacaran. Hubungan mereka bahkan menjadi bagian dari konten. Mereka makan bersama, membuat video perjalanan, saling memberikan kejutan ulang tahun, bahkan sesekali membicarakan rencana masa depan.
Hampir semua hal mulai diukur dari satu pertanyaan:
“Bisa jadi konten gak?”
Ketika Elang menangis, kamera menyala. Bahkan ketika mereka bertengkar, Elang kadang masih memikirkan apakah pertengkaran itu bisa dijadikan konten. Fia mulai merasa ada yang berubah. Bahkan ketika tidak ada kamera, pikiran Elang seolah sedang dalam konten.
Tapi dari semua hal yang Fia gak suka dari Elang, ada 1 hal yang kian mengganggu, hampir semua pembicaraan akhirnya kembali kepada satu orang.
“Sejak konten kita yang berantem kemarin, Endorse yang masuk jadi makin banyak. Kalo gini Terus, si Pratama pasti makin kebakaran” Kata Elang santai.
Fia mendengarnya, Wajahnya berubah kesal. Ia mendekati Elang.
“Lang kok jadi gini sih ?” Fia dengan nada marah.
“Ya gimana maksudnya ?” Kening Elang mengkerut keheranan.
“Lo sadar gak sih Lang, semua konten tentang kita itu, cuman jadi alat buat balas dendam lo buat buat bokap lo ? .”
“Loh, gini ya Fia, gue udah ikutin semua mau lo, Lo bilang gue gak bisa terus-terusan kontenin masalalu gue, Oke… Gue Ikutin… Lo bilang kita bikin konten kolaborasi … gue ikutin juga dan skarang kok jadi alat gue doang ?
Elang memang tak sepenuhnya benar, tapi juga tak sepenuhnya salah.
“Omongan lo selalu aja gak jauh-jauh dari gimana caranya bikin bokap lo nyesel. Bosen tau gak, kenapa gak omongin gue aja, kita nanti ?”
“Gue cuma pengen berhasil Fia. lagian ini juga buat lo, buat kita, Lo kan masa depan gue”
Fia terdiam sejenak. Lalu.
“Yaudah, maafin Gue” Kata Fia yang tiba-tiba memeluk Elang dari belakang.
Hubungan mereka tetap berlanjut 'Couple goals' begitulah mereka memamerkan gaya hidupnya. Awalnya Fia ikut senang. Ia ikut naik mobil baru Elang. Ikut makan di restoran mahal. Ikut membuat konten di apartemen barunya.
Tapi Elang tidak benar-benar bahagia. Sesuatu yang orang-orang tidak tau, Namun Fia tau. Setiap kali membeli sesuatu, kalimat yang keluar hampir selalu sama. Seperti kaset lama yang selalu terulang :
“Kalau Paratama liat gue beli ini, dia pasti kesel gue tau dia udah lama ngincer ini.” Kata Elang sambil menggosok Jam tangan mewah yang baru saja dia beli.
Sementara Fia mulai sampai pada titik jenuh, tapi Fia masih menahan,
“Siapa tau ini yang terakhir dia bahas bokapnya” Gumamnya dalam hati.
Fia tidak melanjutkan amarahnya. Malam itu mereka tidak bertengkar. Justru itu yang membuatnya terasa lebih buruk.
Beberapa minggu kemudian, tawaran Investar datang. Nilainya jauh lebih besar daripada endorsement biasa. Fia adalah orang pertama yang merasa tidak nyaman.
“Lang, ini bahaya gak sih?” Fia membaca proposal itu dengan dahi berkerut.
“Bahaya apanya ?” Elang malah tertawa.
“Liat deh, gak mungkin ada investasi yang semudah ini Lang.” Fia tetap curiga.
“Kenapa semuanya menurut lo bahaya sih?”
“Kalau scam gimana?”
“Tenang.” Ia mengambil ponselnya.
“Gue udah buktiin sendiri dan aman-aman aja.” Elang menunjukkan layar ponselnya.
“Ya tapi kan…”
“Fia.” Elang tersenyum.
“Percaya sama gue.” Fia menatapnya.
“Gue percaya sama Lo tapi… enggak sama yang ini.” Fia menunjuk layar ponsel.
“Shh.” Elang mendekatkan jari telunjuknya di bibir Fia.
“Kamu mikirnya kejauhan.” Ia tersenyum.
“Ini nilai kontraknya gede banget loh Fi, dengan ini gue bahkan bisa nyalip kekayaan si Pratama-Pratama itu”
Dan lagi kata itu keluar dari mulut Elang membuat Fia semakin muak. Ia sudah coba mebiasakan diri, tapi nyatanya tak pernah terbiasa.
“Apa-apa pratama, apa-apa pratama. Lu kayak gak punya kehidupan buat diri lo sendiri tau gak ?”
Mendengarnya, Elang akhirnya kesal.
“Lo tuh kalau gak bisa dukung, minimal jangan ganggu.”
Fia tersulut emosi.
“Lang, gue tuh ngerasa semua yang lo lakuin ini gak lain ya buat bokap lo.”
Elang diam.
“Lo bahkan gak tahu apa yang sebenarnya mau lo lakukan buat diri lo sendiri.”
“Ini juga buat lo.”
“Buat kita,” lanjut Elang. “Masa depan kita.” Lagu lama, seperti yang biasa Elang ucapkan.
Elang berhenti sjenak.
“Ohh… Gue tau, lo kayak gini tuh gara-gara pikir, kalo gue terima kontrak ini, gue bakal jadi sibuk, gak punya waktu lagi buat konten sama lo, dan…bikin engagement lo turun… Tentu aja lo gak mau itu kan ? Trus lu alasan seolah-olah semua ini demi bales bokap gue” Emosi Elang memuncak.
“Lang… gue kira gue pacar lo, ternyata selama ini di mata lo gue cuman partner ngonten doang”
Fia berdiri. Lalu mengambil tasnya. Matanya mulai merah.
“Lama-lama lu jadi kek pratama tau gak ?” Fia pergi.
Elang tidak mengejar. Baginya, Fia sedang tidak memahami sesuatu yang sederhana bahwa kini Ia sedang menang.
Tapi kalimat itu diam-diam tinggal di kepala Elang tanpa dia sadari. Feed Elang berubah total. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi Fia. Yang ada hanya mobil, jam tangan, hotel, restoran mahal, dan angka saldo.
Dalam sebuah video, Elang tersenyum kepada kamera.
“Gue dulu bukan siapa-siapa.” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Tapi sekarang gue ngerti gimana uang bekerja.”
Komentar langsung memenuhi layar.
“Gila, Bang. Inspiratif banget!”
“Dari nol jadi miliarder!”
“Bang ajarin dong!”
Elang mendekat ke kamera.
“Ada satu aplikasi. Namanya Investar.” Ia tersenyum.
“Ini bukan sekadar investasi biasa.” Ia tertawa kecil.
“Uang lo bisa kerja lebih cepat daripada lo.”
Awalnya ia hanya mempromosikan. Kemudian menjadi ambassador. Lalu afiliator.
“Gue masukin segini,” katanya dalam salah satu video.
Angka muncul di layar.
“Dan dalam waktu singkat…” Elang menunjuk saldo.
“…lihat sendiri.”
Dan… orang-orang percaya.
Hingga Beberapa bulan kemudian, komentar yang berbeda mulai muncul.
“Bang, kok gue gak bisa tarik dana?”