Satu Rumah Dua Luka

Vebrian D. Langkai
Chapter #3

Bad News Is A Good News

Pagi datang tanpa benar-benar terasa seperti pagi. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup sempurna, jatuh tipis di lantai apartemen yang berantakan. Beberapa kardus bekas sudah terisi barang-barang yang akan dijual. Rak yang biasanya penuh dengan koleksi sepatu kini menyisakan dua pasang. Di sudut ruangan, sebuah koper terbuka dibiarkan begitu saja.

Lampu ruang tengah masih menyala. Dan di lantai, Elang tertidur dalam posisi yang tidak nyaman. Punggungnya bersandar pada sisi sofa. Kepalanya sedikit miring. Naskah yang semalam ia baca masih terbuka di pangkuannya. Di tangannya, cutter itu masih tergenggam. Tidak erat. Tapi cukup untuk membuat jari-jarinya meninggalkan bekas merah.

Ketukan pintu terdengar. Sekali. Tidak ada reaksi. Dua kali. Elang mengerutkan dahi dalam tidurnya. Ketukan ketiga terdengar lebih keras.

“Elang!” Suara seorang pria terdengar dari balik pintu.

“Elang! Buka pintunya!” 

Elang membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu sedang berada di mana. Pandangannya kosong. Ia melihat langit-langit. Kemudian menunduk.

Naskah. Tangannya. Cutter. Ingatan malam tadi datang sedikit demi sedikit muncul. Surat yang ia tulis.Bathtub. Foto Elana. Dm terakhir, dan Keinginan untuk mengakhiri semuanya.

Elang terdiam. Matanya turun ke pergelangan tangannya sendiri. Tidak ada apa-apa. Ia menarik napas panjang. Ketukan kembali terdengar.

“Elang! Kamu di dalam, kan?”

Elang berkedip. Seperti baru kembali ke tubuhnya sendiri. Ia melepaskan cutter itu perlahan. Benda itu jatuh ke lantai.

Tak !

Elang berdiri. Kakinya sedikit kesemutan. Ia hampir kehilangan keseimbangan ketika berjalan menuju pintu. Ketukan terdengar lagi.

“Sebentar!” Teriak Elang. Suaranya serak.

Ia membuka pintu. Seorang pria berdiri di sana. Rapi, mengenakan kemeja putih dan jas gelap. Usianya sekitar empat puluh tahun. Rambutnya tertata rapi, wajahnya terlihat lelah meskipun tetap tenang.

Elang mengenal wajah itu.

“Elang?”

Elang menyipitkan mata.

“…Om Rian?”

“Bisa saya masuk?”

Elang tidak langsung menjawab. Ia justru bersandar pada kusen pintu.

“Mau ngapain kemari?”

Rian menghela napas pendek.

“Saya ke sini mau menyampaikan”

“ Udah denger kasus gue ?” Elang memotong.

“Udah punya kesempatan mau nuntut gue lagi?”

“Enggak kayak gitu lang”

Elang tersenyum miring.

“Ato jangan-jangan Om dikirim Pratama biar biasa ngejek gue ? Tai lahh ”

“Gue udah gak peduli.”

“Elang…”

Elang menguap lalu mengusap wajahnya.

“Gue udah gak punya apa-apa lagi. Jadi kalau mau nuntut, ya silakan.”

Rian tidak bergerak.

“Ini gak ada hubungannya sama kasus Investar.”

Elang menatapnya

“Terus ngapai Om kesini?”

Rian menarik napas.

“Papamu… Pratama”

Seketika wajah Elang berubah.

“Gue gak mau bahas dia. Mending Om Pergi deh”

“Elang, dengarkan dulu.”

Elang hendak menutup pintu tapi Rian menahan dengan tangannya.

“Gak ada yang perlu didenger.” Elang menatap tangan itu. Lalu menghempasnya.

Elang masuk ke dalam dan mengunci pintunya.

“Pratama Meninggal…”

Elang terdiam di balik pintu. Rian melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Pratama dan Lidya mengalami kecelakaan tadi malam.”

Elang perlahan membuka pintu kembali. Berdiri di ambang pintu menatap Rian. Wajahnya kosong.

“Lidya juga?” Rian mengangguk.

Lihat selengkapnya